
"Aku bosan, Mas? Aku justru senang mempunyai teman sepertimu. Aku merasa terhibur dengan kehadiranmu!" jawab Tania.
Yoga mengangguk, lalu menarik tangan Tania saat pintu lift sudah terbuka.
"Ini ruang kerjaku. Sebaiknya kita masuk!" titah Yoga membuka pintu ruangan.
Tania berjalan masuk. Ekor matanya menatap setiap sudut ruangan yang begitu bersih, rapi, dengan sirkulasi udara yang menurutnya sangat cocok.
"Ikut aku, biar aku tunjukkan kamar pribadiku." ucap Yoga.
Lagi dan lagi Tania hanya mengangguk. Dia berjalan mengikuti langkah kaki pria di hadapannya.
"Dinding?" gumam Tania.
"Iya, di sini kamar pribadiku." jawab Yoga membuat Tania menautkan ke dua alisnya bingung.
"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Mas. Tapi di sini hanya ada dinding. Tidak mungkin kamu menghilang atau menembus dinding." ucap Tania.
Yoga tertawa, tangannya terulur memencet tombol yang berada di belakang rak buku di dekatnya.
Tania yang melihat dinding itu terbuka pun syok. Dia mengucek ke dua matanya sambil bertanya-tanya.
"Mas, dinding ini bisa terbuka?" tanya Tania polos.
"Hem, kamu bisa lihat sendirikan? Di balik dinding ini kamar pribadiku. Yang mengetahui aku mempunyai kamar pribadi hanyalah sekertarisku dan kamu saja!" ujar Yoga berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya yang berada di balik dinding.
"Tapi kenapa kamu terlalu terbuka denganku, Mas? Apa kamu tidak takut, kalau aku akan membocorkan hal ini pada siapapun?" tanya Tania yang ikut berjalan masuk menghampiri sahabat dari suaminya.
__ADS_1
"Untuk apa aku takut? Kalau kamu mau membocorkan pada semua orang pun, aku tidak perduli. Tidak akan ada orang yang percaya akan kamar pribadi ini. Buktinya, sebelum dinding ini bergeser, kamu tidak percayakan? Kamu bilang, kalau aku menghilang atau menembus dinding?" ujar Yoga.
"Kamu bisa manfaatkan semua fasilitas di sini. Kamu juga bisa mandi, tapi sebelumnya kamu harus hubungi Lita untuk menyiapkan pakaian ganti."
"Aku tidak mungkin mandi di tempat seperti ini, Mas. Ini sangat merepotkanmu. Aku hanya ingin berisitirahat saja di sini sambil menunggumu selesai meeting!" jawab Tania merebahkan tubuhnya di tepi ranjang. "Okeh, juga. Tempatnya sangat nyaman dan aku suka."
"Syukurlah kalau kamu suka. Ya sudah, aku harus pergi sebentar lagi meeting akan di mulai!" ucap Yoga kemudian berjalan keluar kamar pribadinya. "Aku akan suruh OB untuk menyiapkan cemilan ringan agar kamu tidak bosan!" teriaknya lagi.
Sedangkan di satu sisi. Merasa dirinya sudah membaik dan di perbolehkan pulang untuk berobat jalan. Kini Indra tengah siap untuk kembali pulang ke rumahnya di dampingi oleh Ratu dan Lisa.
"Biar Lisa yang membantumu, ya!" titah Ratu yang mendapat gelengan kecil dari putranya.
"Tidak perlu, Bu. Aku bisa sendiri. Kasihan Lisa kalau menopang tubuhku yang terlalu berat ini. Aku juga sudah membaik," jawab Indra menurunkan kakinya ke lantai.
"Tapi Ndra, aku ini kekasihmu. Jadi, aku tidak butuh bantahan. Sekarang, biar aku yang membantumu, ya!" titah Lisa merangkul pinggang Indra dengan mesra.
'Melihat sikap Lisa, aku jadi teringat dengan ucapan wanita tadi, wanita yang mengaku-ngaku menjadi istriku. Tapi kenapa dia mengaku-ngaku menjadi istriku? Bahkan dia tetap keras kepala akan menjagaku secara diam-diam. Apa mungkin, wanita itu istriku? Walaupun aku tidak merasakan menikah dengan wanita itu, tapi ucapannya membuatku sedikit yakin,' batin Indra.
"Aku tidak apa-apa, kepalaku sedikit pusing." jawab Indra.
"Kalau kamu pusing, kita tidak perlu pulang, Ndra. Kita di sini saja," titah Ratu.
"Tidak perlu, Bu. Aku mau pulang. Aku baik-baik saja!" sambungnya lagi.
"Kamu yakin?" tanya Lisa memastikan. "Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu di rumah nanti!"
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir!" ucap Indra, 'Melihat sikap Lisa yang begitu perhatian membuatku bingung ingin mempercayai siapa?" Wanita yang bernama Tania atau Lisa, kekasihku sendiri?' batin Indra.
__ADS_1
'Aku yakin, kali ini aku akan mendapatkanmu seutuhnya, Indra. Aku tidak perduli kamu sudah menikah. Yang aku inginkan hanya kamu dan kekayaanmu. Untung Tante Ratu percaya, kalau aku wanita baik-baik yang mencintai putranya dengan tulus. Padahal, aku hanya ingin hartanya dan putranya yang bisa aku kenalkan dengan siapapun tanpa aku merasa malu! Kini, rencanaku hanya satu. Membuat Indra jatuh cinta padaku dan mau menikahiku!' batin Lisa mendorong kursi roda Indra di bantu dengan Ratu sampingnya.
Ratu tersenyum bahagia saat melihat sikap Lisa yang begitu perhatian pada putra semata wayangnya. 'Yang aku inginkan menjadi menantuku adalah Lisa. Dia wanita yang baik juga berasal dari keluarga yang kaya raya. Aku tidak takut hidup putraku berantakan jika Indra menikah dengan Lisa. Kecelakaan ini juga membawa hikmah. Walaupun ini kesalahanku karena aku berpura-pura sakit. Tapi aku tidak mau Indra melakukan malam pertamanya dengan wanita miskin seperti Tania. Wanita itu akan memanfaatkan Indra dan mengambil semua harta Indra sampai tak tersisa. Aku yakin dan aku juga sudah bisa menebak wanita bermuka dua sepertinya!' batin Ratu.
Setelah melewati lorong dan berbagai ruangan di rumah sakit. Kini Indra dan lainnya telah sampai di depan mobil milik Ratu.
"Lisa, kamu ikut Tante saja. Kamu tidak membawa mobil kan?" tanya Ratu setelah membuka pintu mobilnya.
"Kebetulan aku tidak membawa mobil, Tan. Aku datang menggunakan taksi." jawab Lisa.
"Ya, sudah. Kamu ikut mobil Tante. Kamu bisa jaga Indra di bangku belakang. Biar Tante yang menyetir."
"Tapi Tan, biar aku saja yang menyetir!" tawar Lisa.
"Iya, biar Lisa saja yang menyetir, Ibu duduk di belakang menjagaku. Ibu ini sudah tua, aku takut sewaktu ibu menyetir tiba-tiba kepala ibu sakit." timpal Indra.
"Sejak kapan kepala ibu sakit? Yang ada kepalamu yang sakit." kesal Ratu. "Ya, sudah. Kalian masuk ke dalam. Lisa, kamu bisa bantu Indra duduk di bangku belakang kan?"
"Bisa Bu, ibu tenang saja. Aku akan membantu Indra." jawab Lisa. "Kamu bisa berjalan kan?" tanya Lisa lagi setelah menatap pria di hadapannya.
"Aku tidak butuh bantuan. Aku bisa berjalan, kalian saja yang terlalu mencemaskanku!" jawab Indra menurunkan kakinya dari kursi roda.
"Hati-hati, Ndra!" titah Lisa.
Indra mulai masuk dan mendudukkan pantatnya di bangku belakang di ikuti oleh Lisa dengan sebelumnya sudah melipat kursi roda milik Indra.
Mobil yang di kendarai Ratu pun berjalan meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Sedangkan di satu sisi, setelah selesai meeting, Yoga langsung menghampiri istri sahabatnya yang sedang beristirahat di dalam kamar pribadinya.
Dia melihat wanita cantik yang sedang tertidur pulas dengan televisi yang menyala.