Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Bab 23


__ADS_3

"Nyaman, Mas? Aku tidak tahu arti ucapanmu. Bisa kamu jelaskan dengan jelas? Aku tidak mau ada kesalahpahaman diantara ucapan tadi?" tanya Tania menatap wajah sahabat suaminya sekilas.


"Hahaha ... jangan berpikir buruk. Bukankah kamu sudah tahu, bagaimana sifatku? Intinya, aku nyaman denganmu karena sikapmu yang tidak terlalu banyak menuntut. Kamu tahu, arti ucapanku, kan? Nyaman bukan berarti suka. Mungkin juga, karena kamu istri Indra," jawab Yoga sembari mengacak-acakan rambut Tania.


"Mas Yoga!" pekik Tania saat rambutnya berantakan. "Apa yang kamu lakukan, Mas! Rapikan rambutku lagi, cepat rapikan, Mas! Sebelum pintu lift terbuka!" kesalnya.


"Tidak perlu di rapikan lagi, Tan. Menurutku, kamu terlihat lebih cantik dengan model rambut yang berantakan, hahaha!" kekeh Yoga.


"Apa, kamu bilang? Kamu sedang menyindirku, ya, Mas! Ah, aku jadi malas ikut denganmu. Aku mau kembali saja." kesal Tania merapikan rambutnya yang berantakan.


"Jangan, Tan. Aku hanya bercanda. Biar aku rapikan rambutmu dulu. Tapi janji, jangan kembali ke apartemen. Aku malas mendengar kabar, kalau kamu mendaftar kerja di sembarang tempat. Dan aku malas, jika Indra tahu, bisa-bisa aku di katakan tidak bejus menjagamu!" titah Yoga memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Tania.


Di satu sisi. Indra menunggu lift terbuka. Tak henti-hentinya, dia melirik jam yang berada di pergelangan tangannya.


"Kenapa liftnya lama sekali." gerutu Indra sembari memutar tubuhnya membelakangi lift, pandangannya menatap setiap sudut ruangan.


"Cepat, Mas! lift hampir sampai, dan rambutku masih berantakan!" titah Tania saat menatap di dinding lift yang sudah menunjukkan lantai dua.


"Sebentar. Atau begini, saja. Kita rapikan di mobil?" tawar Yoga yang mendapat gelengan kecil dari wanita di depannya.


"Aku tidak mau, Mas. Aku malu kalau merapikannya di mobil."


"Tapi, Tan, lift sudah--" ucapan Yoga terhenti saat mendengar suara pintu lift terbuka. "Nah, sudah terbuka. Kita pergi!" titahnya lagi.


Indra yang mendengar lift terbuka pun langsung memutar tubuhnya. Dan dia dapat melihat pemandangan yang membuat matanya sakit.

__ADS_1


Begitu juga Tania dan Yoga. Mereka terkejut saat melihat pria di hadapannya yang baru saja memutar tubuhnya.


Indra menatap rambut istrinya yang berantakan, dia juga melihat sahabatnya menenteng tas wanita yang diyakini tas istrinya.


"Ma-mas Indra!" gumam Tania lirih, kemudian dia merapikan penampilannya dan memberi jarak dengan Yoga.


Yoga tersenyum manis saat melihat sahabatnya, "Indra, untuk apa kamu kemari?" tanya Yoga menarik tangan Tania keluar lift. "Silahkan kamu pakai lift itu." sambungnya lagi.


Melihat tangan istrinya di genggam sahabatnya sendiri, Indra tak terima. Tangannya mulai mengepal erat dengan napas yang memburu.


"Kita ke kantor sekarang, Tan!" titah Yoga.


"Tapi Mas Indra mau kemana, Mas?" tanya Tania lirih, sembari menatap rindu suaminya.


"Ingat, Tania. Indra sedang amnesia. Percuma saja kamu mengucapkan seribu kali, kalau kamu istrinya. Indra tidak akan percaya. Kamu ingat, kejadian semalam? Indra menuduh kita merekayasa foto pernikahanmu. Dan dia menuduhmu sebagai penipu. Jangan mempermalukan dirimu di depan umum. Sebaiknya, kita pergi saja!" ajak Yoga yang di setujui oleh Tania.


Setelah berpamitan, Tania berjalan lebih dulu keluar lobby apartemen di ikuti oleh Yoga di belakangnya.


Sedangkan Indra, dia terpaku dan tak bisa berbicara apapun saat melihat kedekatan istrinya dengan sahabatnya. Bahkan, dia hanya menatap kepergian istrinya.


'Jika yang di ucapkan tetangga itu, benar. Itu artinya, mereka mempunyai hubungan di saat aku sakit? Dan aku juga tidak salah lihat, mereka tinggal bersama di apartemen ini. Ya, Tuhan. Ingin rasanya aku menghajar Yoga, tapi semua ini bukan kesalahan mereka. Aku saja yang tidak bisa menjaga istriku sendiri.' batin Indra menyusul kepergian istrinya.


Yoga membukakan pintu untuk Tania, kemudian menutupnya lagi.


'Kira-kira apa yang dilakukan Indra di apartemen ini? Jika dia amnesia, dia tidak mungkin ingat apartemenku? Atau jangan-jangan, sebenarnya dia tidak amnesia? Dia hanya berpura-pura? Tapi untuk apa Indra berpura-pura amnesia? Dan kecelakaan itu, apa semua ini rekayasa Indra?' batin Yoga bertanya-tanya.

__ADS_1


"Mas, cepat naik! Jangan diam saja di depan pintu. Memangnya, kamu mau terlambat dan menyalahkanku lagi?" Cepat, Mas!" titah Tania dari dalam mobil.


Yoga tersadar dari lamunannya. Dia berlari memutari mobil dan masuk ke dalam mobilnya.


Indra menatap dari kejauhan mobil yang ditumpangi istri dan sahabatnya.


"Apa aku harus ikuti mereka dan mengatakan jika aku sudah sembuh dari amnesia ku? Atau aku harus diam dan memastikan hubungan mereka di belakangku?" gumam Indra berlari masuk ke dalam mobilnya dan mengikuti mobil sahabatnya dengan jarak sedikit jauh.


Di dalam mobil, Tania terus bertanya-tanya tentang kedatangan suaminya di apartemen tempatnya tinggal.


"Kamu sedang memikirkan Indra?" tanya Yoga.


"Iya, Mas. Kira-kira tujuan Mas Indra datang ke apartemen itu untuk apa, ya? Aku takut, Mas Indra sudah sembuh dari amnesianya?" tanya Tania sembari menyenderkan kepalanya di sandaran kursi.


"Menurutku, Indra masih amnesia. Jika dia sudah sembuh, dia pasti akan memanggilmu atau memelukmu. Tidak mungkin, dia membiarkanmu pergi bersamaku. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, Tan." jawab Yoga melirik sekilas wanita di sampingnya, 'Lebih baik, aku tidak perlu bicara tentang dugaanku. Belum tentu, Indra sudah sembuh. Bisa saja, Tante Ratu memberitahukan tempat tinggalku.' batin Yoga.


"Iya, kamu benar, Mas. Tapi aku melihat ekspresi wajah Mas Indra seperti orang marah. Aku takut saja, kedekatan kita akan menjadi masalah baru. Aku tidak mau rumah tanggaku hancur, Mas. Aku sangat mencintai Mas Indra. Hanya dia yang mampu membuatku jatuh hati!"


"Okeh, aku tahu. Biar aku yang mencari tahunya, nanti. Sekarang, kamu mau makan apa? Aku belum sempat menghubungi OB kantor untuk menyiapkan sarapan pagimu." tanya Yoga mengalihkan pembicaraan.


"Terserah saja, Mas. Sandwich juga boleh. Aku tidak terlalu napsu makan," jawab Tania.


"Baiklah, bagaimana kalau kita beli makanan di depan kantor? Kebetulan di depan kantor, ada penjual bubur ayam. Biasanya, wanita sangat antusias dengan bubur ayam." ajak Yoga membuat Tania berpikir sejenak.


"Okeh, aku setuju kalau bubur ayam. Tapi kalau kamu telat, bagaimana? Kamu bilang, kamu ada meeting di pagi hari?" tanya Tania kebingungan.

__ADS_1


"Hahaha ... aku bercanda. Sebenarnya, aku tidak ada meeting sama sekali." ujar Yoga mendapat tatapan tajam dari Tania.


"Apa kamu bilang, Mas?" pekik Tania kesal.


__ADS_2