Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Episode 52. Karine Jatuh


__ADS_3

Hari-hari di lewati oleh Karine dengan hanya menjadi ibu rumah tangga biasa, itu sama sekali tidak mudah. Dia harus belajar memasak, mencuci pakaian sendiri dan membersihkan rumah. Itu tidak pernah dia lakukan selama ini, Fedro sudah mengatakan untuk mempekerjakan orang untuk membantu Karine tapi Karine tidak mau karena uang nya sayang bisa digunakan untuk hal lain. Apa lagi saat ini mereka sedang membangun kafe dan membeli mobil, walaupun mobil bekas tapi masih bagus dan masih bisa di pakai.


Karine sangat kesal karena pagi ini setelah Fedro pergi air dirumahnya mati, padahal dia belum selesai mencuci piring dan beres-beres rumah.


"Bagaimana ini, kok airnya mati?" tanya Karine sambil memutar keran tempat cuci piring di dapur.


"Tidak mungkin aku menghubingi Fedro, dia baru saja pergi. Apa aku lihat di atas ya, siapa tau tekmon airnya rusak" sambung Karine lalu berjalan ke belakang rumah.


Karine sudah sampai di belakang, dia mengambil tangga untuk naik ke atas. Sungguh ini pertama kalinya dia seperti ini, bahkan dia belum pernah memanjat sebelumnya.


"Tidak semudah yang di bayangkan, ayo Karine kamu pasti bisa!" ucap Karine sambil menaiki tangga.


Baru beberapa cincat tangga, dia tergelincir dan membuat dia jatuh. Tentu saja sakit, apa lagi dia sedang hamil. Karine sangat cemas, dia berusaha sekuat tenanga bejalan ke depan dan mencari ponselnya untuk menghubungi Fedro.


"Agghh...." Karine terjatuh di tanah, badanya sangat sakit.


"Sakit sekali, kaki ku juga sakit. Ku mohon kamu harus kuat sayang, Mama akan menelpon Papa" sambung Karine berusaha bangkit.


Beruntung saat di depan Karine melihat Bu Lensi sedang berjalan sepertinya dia baru pulang dari warung, Karine langsung memanggilnya. Bu Lensi yang melihat Karine seperti kesakita langsung masuk kedalam halaman rumah Karine, Karine terlihat duduk di kursi di teras rumah.


"Bu Lensi....!!" teriak Karine sambil memegang perutnya dan berusaha duduk di kursi.


"Neng Karine, ada apa Neng?" tanya Bu Lensi lalu masuk menghampiri Karine.


"Tolong saya Bu, saya habis jatuh. Perut saya sakit, bisa tolong telpon suami saya" jawab Karine setelah Bu Lensi mendekat.


"Baiklah, dimana ponselnya?" tanya Bu Lensi yang juga ikut panik melihat Karine kesakitan.


"Di dekat TV ruang tamu ini Bu, tolong Bu!" Bu Lensi pun langsung masuk kedalam dan mencari ponsel Karine.


Setelah dapat dia pun langsung keluar dan menelpon nomor Fedro dengan Karine yang memberitahu Bu Lensi, Fedro yang tau Karine jatuh langsung panik dan akan segerah pulang. Bahkan dia minta tolong Bu Lensi untuk membawah Karine ke kelinik terdekat menggunkan taksi, kalau menunggu dia membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Halo, apa benar ini dengan Nak Fedro?" tanya Bu Lensi yang panik.

__ADS_1


"Benar, ada apa ya? bukan kah ini ponsel istri saya" jawabnya heran.


"Iya saya Bu Lensi tetangga kalian, Neng Karine jatuh dan dia terlihat kesakitan. Kalau bisa Nak Fedro cepat pulang" sambung Bu Lensi.


"Apa jatuh? jatuh dari mana. Saya akan pulang sekarang, tapi bisakan Ibu bawah istri saya ke klinik terdekat atau rumah sakit. Perjalanan saya kesana membutuhkan cukup waktu" jawab Fedro minta tolong pada Bu Lensi.


"Saya juga kurang tau, baiklah saya akan cari taksi dulu" jawabnya lalu memberikan ponsel itu pada Karine.


"Ini suami kamu Neng, ibu panggil taksi dulu" ucpanya buru-buru kedepan.


Fedro yang mendengar itu pun langsung memanggil istrinya, dia penasaran Karine jatuh dari mana. Memang apa yang di lakukan istrinya itu, Fedro benar-benar khawatir sepetinya dia juga sedang dalam perjalanan pulang.


"Sayang apa kamu dengar aku?" panggil Fedro.


"Iya aku dengar" jawab Karine sambil memengang perutnya.


"Kamu habis jatuh dari mana? kenapa kamu ceroboh sekali" tanya Fedro, Karine juga sudah tidak punya tenanga untuk menjelaskan semuanya.


"Nanti..aku jelaksan. Aku mau pergi dengan Bu Lensi dulu..." jawab Karine.


.


.


.


Mereka membawa Karine ke klinik terdekat, sekitar 10 menitan dari rumah. Fedro juga sebentar lagi sampai, Karine sudah di bantu masuk kedalam. Saat ini dokter sedang melakukan pemeriksaan, mereka berdoa semoga kandungan Karine baik-baik saja.


"Kenapa dia bisa jatuh Bu? semoga kandungnya baik-baik saja" tanya Bapak.


"Katanya tadi habis jatuh dari tangga Pak, Ibu juga nggak tau jelas ceritanya. Tadi pas ibu pulang dari warung, Neng memanggil Ibu dan Ibu langsung menghampirnya" ucap Bu Lensi pada suaminya.


"Iya semoga saja dia baik-baik saja" sambung Ibu, mereka duduk di kursi tunggu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Fedro datang, tadi Karine sudah mengirimkan pesan setelah mereka sampai. Fedro langsung masuk, dia melihat dua orang suami istri, sepetinya ini bu Lensi dan suaminya tebak Fedro.


"Bu Lensi?" tanya Fedro menghapiri mereka berdua.


"Nak Fedro, Neng Karine sedang di periksaan" jawab Bu Lensi langsung berdiri.


"Terima kasih sudah membawah Karine, aku sangat cemas. Apa dia akan baik-baik saja?" Fedro terlihat sangat cemas, keringat membasahi dahinya.


"Sudah tenang lah Nak, duduk dulu" sambung Pak Andi pada Fedro.


Belum sempat duduk, dokter pun memanggil keluarga pasien. Fedro langsung masuk kedalam, dia melihat Karine sudah terbaring lemas disana. Terlihat infus di pasang di tanganya, Fedro tau istirnya memang wanita lemah lembut dan dia juga tidak pernah melakukan pekerjaan berat sebelumnya.


"Bagiamana keadaan istri saya?" tanya Fedro saat duduk di depan meja dokter.


"Istri bapak baik-baik saja, untung dia jatuh tidak terlalu tinggi. Kandungan baik-baik saja, dia hanya syok dan jika infusnya sudah habis dia boleh pulang. Saya sarankan harus banyak istirahat dan kurangi perkajaan berat" jawab dokter itu memberitahu keadaan Karine.


"Saya lega mendengarnya, terima kasih dokter. Tapi kenapa istri saya tidak bangun, apa dia pingsan?" tanya Fedro lagi.


"Dia tertidur karena saya sudah menyuntikan vitaman dan obatnya Pak, bapak tidak perlu khawatir" jawab dokter lagi dan Fedro pun menganggukan kepalanya.


Setelah itu Fedro keluar untuk memberitahu Bu Lensi dan suaminya kalau Karine baik-baik saja, sekalian dia juga ingin berterima kasih. Karine juga sudah di pindahkan di rungan sebelah, karena ini bukan klink rawat ini jadi ruang periksa dokternya cuma satu.


"Bagimana keadaan nak Karine?" tanya Bu Lensi yang masih menunggu di depan.


"Karine baik-baik saja, terima kasih sudah mengantar Karine Pak Bu. Maaf sekalia karena sudah merepotkan kalian" jawab Fedro merasa tidak enak dengan mereka.


"Tidak apa-apa, namanya juga tetangga kita harus saling bantu. apa dia sudah boleh pulang?" tanya Bu Lensi lagi.


"Belum tunggu pulih dulu, jika ibu dan bapak ada keperluan lain silahkan duluan. Sekali lagi maaf mereporkan, ini ada sedikir untuk membeli bensin dan beli kue di jalan" ucap Fedro sambil memberikan beberapa lembar uang seratus ribu.


"Tidak usah Nak Fedro, kami membantu bukan untuk mendapatkan imbalan. Suatu saat nanti entah kami juga perlu bantuan" Pak Andi langsung menolaknya.


"Benar sekali, kalau begitu kami pulang duluan" mereka pun pergi dari sana.

__ADS_1


"Sekali lagi terima kasih" ucap Fedro sambil menundukan kepalanya, mereka pun hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


__ADS_2