Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Episode 71. Keinginan Kakek


__ADS_3

Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, Fedro harus memilih keputusan yang tepat. Saat ini Kakek sudah membeli sebuah perusahan yang sudah gulung tikar di jakarta, dia meminta Fedro untuk mengurus semuanya dan setelah itu dia juga akan menetap bersama Fedro dan cucunya. Jujur ini tidak mudah, Fedro saja belum bisa melupakan masa lalunya dan berat untuk mengiat kenangan mereka disana tapi ini adalah permintaan Kakek dan tidak mungkin Fedro menolaknya. Akhinya Fedro menyetujuinya dan membuat Kakek sangat senang, bahkan dia akan terbang besok untuk menjemput mereka.


Semua aset dan saham perusahan milik Fedro kini sudah dia serahkan kepada Angga dan Papanya, itu adalah kesepatakan yang sudah dia diskusikan bersama dengan Kakek. Saat ini Aldo sedang berada dirumah Fedro, dia sengaja membantu Fedro mengurus kepindahan mereka.


"Kenapa? apa kamu masih ragu?" tanya Angga sambil membantu Fedro berkemas karena dia sudah setuju untuk pindah ke Jakarta dua hari lagi.


"Tentu saja banyak aku pikirkan, terutama Al. Aku takut dia tidak mau karena harus pindah kelingkungan baru" jawab Fedro dan tentu saja Angga tidak mempercayai semua itu.


"Kenapa kamu malah tertawa?" tanya Fedro saat melihat Angga menertawakanya.


"Lucu saja, kita sudah lama kenal dan kamu tidak pandai berbohong di depan ku Bro. Aku tau kamu takut akan bertemu dengan Karine lagi?" Angga balik bertanya dengan muka serius.


"Ahhhsss..! aku menang tidak pandai berbohong. Iya aku takut akan mengacaukan hidupnya lagi" jawab Fedro.


"Bukanya kamu memang ingin bertemu denganya, aku tau kamu sangat merindukan Karine. Bahkan foto pernikahan kalian saja masih kamu simpan sampai sekarang" ucap Angga lagi.


"Dari mana kamu tau, apa kamu masuk kerumah ku tanpa aku ketahui?" tanya Fedro sambil menatap tajam pada Angga.


"Dasar Maling!!" teriak Fedro.


"Sembarangan kalau ngomong, aku melihatnya di dalam tas Al saat aku menjemputnya waktu makan pakan lalu. Dimana lagi dia dapat foto itu jika bukan dari kamu" jawab Angga apa adanya dan Fedro benar-benar terkejut mendengarnya.


"Benarkah? tapi aku tidak pernah memberikanya. Apa aku berdoa mengatakan jika Mamanya sudah tenang disana, aku merasa bersalah pada Al" ucap Fedro sedih.


"Al memang anak yang kasihan, lebih baik kamu memberikan Mama baru untuknya. Coba lah buka hati untuk wanita lain dan memulai hidup yang baru, move on dong!" nasehat Angga dan entah sudah beribu kali Angga menasehati Fedro tapi hasilnya tetap nihil.


"Sudah lah diam! tutup mulut mu. Jangan sampai Al mendengar ocehan mu yang tidak bermanfaat itu" bentak Fedro dan Angga langsung menghembuskan nafas dalamnya.


Benar saja tidak lama kemudian Al datang sambil mengendarai mobil mainanya, dia terlihat sangat imut dan juga tampan. Setiap orang yang bertemu denganya pasti ingin mencubit pipi gembulnya.


"Papa...!" teriak Al yang baru saja masuk kedalam kamar dengan mobilnya.

__ADS_1


"Iya ada apa sayang?" Tanya Fedro menghampiri Al yang duduk di atas mobilnya.


"Tuan muda tunggu, makanannya belum habis!" teriak Bu Sumi yang mengejar Al sambil membawah sepiring nasi.


"Maaf Tuan, tadi Tuan muda belum menghabiskan makan siangnya" sambung Sumi berdiri di depan pintu.


"Al ayo cepat habiskan makananya, tidak boleh makan sambil bermain! kasihan sama Bu Sumi" sambung Fedro memarahi Al.


"Tapi aku hanya ingin makan dengan Papa!" jawabnya sedih terlihat matanya sudah berair.


"Baiklah jagoan Papa tidak boleh menangis, ayo kita makan kebawah" Fedro langsung menggendong Al.


"Ayo Ga, sekalian makan siang disini aja" ajak Fedro kemudian.


"Nggak aku mau langsung pulang, aku takut Via marah lagi. Dia lagi sensitif sekali saat ini" jawab Angga karena memang istirnya itu sedang hamil anak kedua mereka, Via sangat posesif dengan Angga.


"Ya sudah sana pulang, nanti Via ngamuk lagi. Makasih udah bantuin hari ini" sambung Fedro.


Fedro mengatar Angga sampai depan rumah, tentu saja Al tidak mau turun dari gendonganya. Setelah itu mereka pun pergi ke dapur untuk makan siang, Al memang tipe yang tidak bisa dimarahi. Mungkin karena dia juga butuh kasih sayang yang lebih karena dia tidak mempunyai Mama, tapi Fedro selalu sabar dan dia sangat bersyukur mempunyai Al dalam hidupnya.


.


.


.


Beberapa hari kemudian kakek benar-benar datang bersama dengan ajudannya yang cukup banyak, dia sangat bersemangat datang kesini. Hari ini kami semua akan pindah ke jakarta, Al sangat senang karena Fedro bilang disana banyak mainan bagus dan kita akan pergi menggunakan pesawat.


Semua barang sudah di masukan kedalam mobil, mereka pun siap pergi menuju bandara. Entah saat ini perasaan Fedro agak kacaw, semuanya di penuhi dengan Karine.


"Kenapa masih bengong disana, ayo masuk!" ajak Kakek yang sudah ada di dalam mobil sedang memangku Al.

__ADS_1


"Iya Kek.." Fedro pun bergegas masuk kedalam mobil.


Didalam mobil mereka membicarakan banyak hal, Al sama sekali tidak mau diam dan dia terus saja berbicara sepanjang jalan. Beberapa kali Fedro menegurnya karena kakek mungkin letih menjawab pertanyaanya, anak itu memang sangat cerewet akhir-akhir ini.


"Berhenti lah bertanya Al, kakek mungkin capek menjawabnya" kesal Fedro saat putranya itu tidak berhenti bicara.


"Sudah lah biarkan saja! Kakek juga senang karena Al sudah pandai berbicara" jawab Kakek karena anak itu kemarin cukup pendiam.


"Baiklah aku akan berhenti bicara" jawabnya kesal sambil menyanderkan kepalanya di badan kakek.


"Sini biar aku yang pangku Al" ucap Fedro ingin mengambil Al di pangkuan kakek.


"Bagaimana dengan pertanyaan kakek yang kemarin? apa kamu sudah memikirkanya?" tanya Kakek memandang serius kepada Fedro.


"Pertanyaan kakek yang mana?" Fedro pura-pura tidak tau padahal dia sangat tau apa yang ingin kakek nya bahas.


"Jangan pura-pura bodoh kamu! bagaimana kalau dengan pilihan kakek? " tanya nya dengan semangat.


"Sudah aku katakan aku ingin menikmati masa bersama dengan Al, lagian belum tentu mereka bisa menyayangi Al dengan tulus Kek" jawab Fedro apa adanya.


"Itu hanya perasaan kamu, lihat cicit ku di sangat kasihan sudah sebesar ini tapi tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu" kesal Kakek sambil mengomeli Fedro.


"Setidaknya sebelum kakek meninggal, kakek ingin melihat kamu menikahi seorang gadis" ucapnya dengan nada sendu.


"Aku hanya belum kepikiran dan belum menemukan wanita yang tepat " jawab Fedro sambil mengelus kepala Al dan saat ini Al kecil sedang tertidur lelap di pangkuan Fedro.


"Jika kamu tidak mau dengan Anggel, menikah saja dengan Manda. Bukankah kelian sudah lama dekat" sambung Kakek lagi.


Ini sudah kesekian kalinya Kakek membicarakan masalah mencari istri, banyak sekalia alasanya hingga Fedro tidak bisa mengelak.


"Manda sudah aku anggap sebagai adik ku, mana mungkin aku menikahinya. Orang tuanya juga tidak akan setuju karena aku duda anak satu" jawab Fedro dan Kakek hanya bisa menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


__ADS_2