
Siang itu, Pak Alam baru tiba di rumah setelah 5 jam perjalanan dari kampung halamannya ia membawa oleh-oleh pemberian Ibunya di kampung. Mama Andin menyambutnya dengan gembira di depan pintu. Pak Alam yang sudah merasa cukup lelah langsung terduduk di kursi teras rumahnya dengan napas yang naik turun karena kelelahan naik bus.
"Wah ada oleh-oleh," ucap Mama Andin semangat melihat kantong besar berwarna hitam. Ia pun membuka belanjaan yang Pak Alam bawa. 5 ikat petai dan dua kantong jengkol yang sudah cukup tua. Setelah melihat isi dalam kantong tersebut Mama Andin kembali menutupnya kembali.
"Hem, makanan kesukaannya saja yang dibawanya," cibir Mama Andin tampak lemah.
"Apa cuma ada yang beginian disana? buah-buahan atau sayuran kek, ayam kampung kek di bawa." Mama Andin tampak manyun karena isi dalam kantong tersebut tidak sesuai harapannya.
"Gak ada Ma, kalau mau buah-buahan tanam sendiri dan kalau mau Ayam pelihara sendiri," Sungut Pak Alam membuang muka malasnya melihat kelakuan istrinya yang tidak bersyukur apa yang di bawanya itu.
"Orang masih capek juga di mintai yang tidak-tidak disana lagi gak ada musim buah yang ada cuma petai sama jengkol," omel Pak Alam.
"Di sini juga banyak jengkol dan petai kok Yah, ngapain repot-repot bawa," ucap Mama Andin masih bersungut-sungut.
"Ayah tau Ma, cuma yang ini gratis oleh-oleh dari mertuamu terima aja jangan nanyak yang tidak ada."
"Lagian punya mertua pelit amat ayam se-kandang gak mau kasi satu ekor pun. Tunggu aja Mama pulang kampung, Mama pasti bawa ayam pulangnya," dengus Mama Andin.
"Bawa saja sekalian sama kandang-kandang nya Ma," ujar Pak Alam jengkel.
Mendengar suara ribut-ribut di depan Awan pun keluar dari kamarnya dan melihat di luar ternyata Ayahnya sudah pulang.
Itu Ayah sama Mama kenapa ribut? apa yang di bicarakan nya jangan-jangan ada masalah yang terjadi, batin Awan menerka.
"Ayah sudah pulang?" ucap Awan tiba-tiba menghentikan perdebatan mereka.
"Iya, kamu kapan pulang? udah baikan?" tanya Pak Alam memperhtikan Awan.
__ADS_1
"Lumayan Yah, dari sebelumnya. Sudah bisa jalan juga nih tapi masih sakit."
"Oh biasa itu, nanti lama-lama juga sembuh. Oya Wan, Ayah kok gak bisa telpon nomor Pak Agung lagi ya? apa mungkin dia ganti nomor?" tanya Pak Alam yang tiba-tiba membahas tentang Pak Agung.
Ternyata Ayah belum tau semuanya, batin
Awan menarik napas panjang. sambil mengangkat bahu seolah-olah tidak tau apa sebabnya. Sudah pasti tidak bisalah karena Pak Agung sudah memblokir nomor Ayahnya itu. Namun Awan masih enggan bercerita karna Ayahnya baru saja pulang.
"Yah ponsel Awan mana?" tanya Awan mengalihkan pembicaraan.
"Ponsel?" Pak Alam melirik ke arah istrinya. Tapi Mama Andin pura-pura sibuk sendiri.
"Iya, Ponsel Awan yang Ayah perbaiki Awan perlu ponsel itu Yah, sudah beberapa hari ini Awan gak konteks teman-teman. Awan bosan di di rumah."
"Ayah sudah berikan pada Mamamu dua hari yang lalu. Kan sudah Ayah perbaiki," jelas Pak Alam.
"Iya ada apa Awan?"
"Jangan pura-pura tidak mendengar Ma, dimana ponsel Awan!"
"Bukannya Ayah yang simpan?"
"Apaan si Ma, Ayahkan sudah kasi ke Mama?" ucap Pak Alam. Mama Andin terdiam tidak tau mau bicara apa.
"Mana Ma Ponsel Awan, Awan perlu dengan ponsel itu."
"Tidak Awan! jika kamu hanya untuk menghubungi gadis itu jangan harap ponselmu kembali lagi!" ancam Mama Andin tiba-tiba.
__ADS_1
"Pliss Ma, jangan gitu Awan butuh ponsel itu," lirih Awan.
"Untuk apa? untuk hubungi Senja kan?" Mama Andin ngegas.
"Apa-apaan kamu Ma! kenapa kamu menyembunyikannya ponsel Awan, dia perlu komunikasi dengan teman-temannya. Dia juga sudah lama ketinggalan mata kuliah tentu ia perlu ponselnya untuk belajar," ujar Pak Alam membela Awan.
"Tidak Yah, dia pasti akan hubungi Senja!" bentak Mama Andin.
"Iya, kenapa memangnya Awan gak boleh hubungi Senja? dia kan Pacarnya calon Tunangannya!"
"Pokoknya Mama tidak suka, Awan berhubungan dengan gadis itu lagi!" Mama Andin masuk kedalam. Awan pun ikut masuk mengikuti Mamanya.
"Ma, kembalikan Ponsel Awan Ma ...," lirih Awan memohon.
"Tidak Awan!"
"Kenapa Ma?"
"Mama tidak suka kamu hubungi Senja lagi!" cetus Mama Andin.
"Oke, oke Awan akan hapus nomor Senja di ponsel itu puas!"
"Sudah Mama hapus Kok!' Mama Andin masuk ke kamarnya mengambil ponsel Awan dan memberikannya pada Awan. "Nih, ambil. Awas saja kamu hubungi perempuan itu lagi, Mama sita lagi ponselnya!" ancam Mama Andin dengan nada marah ia pun kembali ke kamarnya lagi.
"Sejak kapan Mama jadi Guru killer yang bertugas sita-sita ponsel murid?" ucap Awan tidak suka.
"Ini benar-benar menakutkan Mama kok tiba-tiba galak begitu sih. Kenapa ia jadi berubah benci pada Senja?" ucap Awan sendirinya. Ia tidak terima tindakan Mamanya ia pun pergi ke kamarnya sedangkan Pak Alam masih di depan bingung sendiri juga memikirkan hal itu.
__ADS_1