Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Bab 17


__ADS_3

"Ceritakan saja. Aku akan mendengarkan semua ceritamu. Karena aku berhak tahu yang sebenarnya dari mulutmu sendiri, Lis. Aku tidak butuh penjelasan dari ibuku. Karena kita yang menjalani hubungan ini!" titah Indra.


Kenangan, merakit kenangan yang tidak pernah Lisa lakukan dengan Indra merupakan hal bodoh yang pernah Lisa alami.


Kini dirinya harus di tuntut membuat cerita masalalu yang tak pernah dia ada demi mendapatkan hati pria di hadapannya.


Setelah lelah berpikir, akhirnya Lisa menyerah. Dia berusaha mengalihkan topik pembicaraan tentang kenangan itu.


"Kamu mau tahu masalalu kita yang indah dan kamu yakin, jika aku menceritakannya, kamu akan baik-baik saja?" tanya Lisa memastikan.


"Iya, aku baik-baik saja, dan aku sedang menunggu ceritamu. Cepat ceritakan sekarang juga, aku mau mendengarnya!" jawab Indra tak sabar.


"Baiklah, kalau begitu, aku mau kamu ikut denganku. Kita tidak bisa menceritakan semuanya di sini. Aku takut, Tante dan Om tahu, lalu dia memarahiku." ucap Lisa berjalan selangkah lebih dekat. "Kamu tahu, Ndra. Aku tidak akan berbohong. Aku akan menunjukkan salah satu tempat kesukaanmu," sambungnya lagi.


Sebelum memutuskan jawaban, Indra menatap lekat wanita di hadapannya. Dia juga melihat jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Sudah malam, aku tidak bisa membawa keluar wanita malam-malam begini. Ceritakan saja di sini!" tolak Indra beranjak berdiri dari tepi ranjang dan berjalan melewati Lisa.


"Kalau kamu tidak mau tahu dengan masalalu kita, aku tidak keberatan, Ndra. Kamu bisa mengingatnya sendiri, walaupun semua itu butuh waktu lama." jawab Lisa santai.


Indra kembali menoleh, 'Okeh, aku ikut!" titah Indra membuat Lisa tersenyum bahagia.


"Okeh, bersiap-siaplah. Aku tunggu kamu di ruang tamu, Ndra!" titah Lisa berjalan keluar kamar.


Setelah melihat kepergian wanita yang mengaku menjadi kekasihnya. Indra segera mengambil dan memakai jaketnya yang bergelantung di walk in closet nya, lalu dia berjalan keluar kamar menemui wanita yang mengaku-ngaku menjadi kekasihnya.


Lisa masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil tas dan ponselnya. Setelah itu, dia keluar kamar dan melihat pria idamannya sedang menunggu di ruang tamu.


Dengan senyum manisnya, Lisa berjalan menghampiri Indra.


"Ayo, sayang. Kita berangkat. Kamu masih ingat mengendarai mobil, kan? Kalau tidak ingat, biar aku saja yang mengendarai mobil." tanya Lisa.

__ADS_1


Indra mengambil kunci mobil yang berada dalam genggaman Lisa. Mereka berjalan keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.


Setelah di dalam mobil, Lisa memberikan nama restoran dan alamat yang akan mereka tuju.


"Kita ke restoran yang ada di dekat pertigaan depan sana. Kamu ingat dengan restoran itu, kan?" tanya Lisa memastikan.


Indra berusaha mengingat, tapi nihil, Indra tidak mengingat apapun tentang restoran itu.


"Aku tidak ingat!" jawab Indra jujur.


"Ya, sudah. Kita ke sana, lalu kita buat kenangan seperti dulu, supaya kamu ingat dengan semuanya." titah Lisa yang di setujui oleh Indra.


Melihat Indra menganggukkan kepala, setuju. Lisa hanya bisa tersenyum di dalam hati.


'Akhirnya aku bisa mengelabui Indra, juga!' batin Lisa.


Indra memarkirkan mobilnya di parkiran depan restoran. Kemudian dia keluar dari dalam mobil di ikuti oleh Lisa di belakangnya.


"Hem, masuklah. Aku tidak mau, kita pulang terlalu malam!" titah Indra kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran.


Di satu sisi. Tania menghirup udara malam hari dalam-dalam saat melihat pemandangan yang indah di depannya. Pemandangan kota Jakarta yang menyala di malam hari dari lantai atas.


"Apa kamu suka dengan semua ini?" tanya Yoga saat melihat Tania sangat menikmati udara segar di malam hari.


Tania menganggukkan kepalanya, dengan mata berbinar dia mengatakan kalau dirinya sangat menyukai pemandangan di malam hari. Melihat bangunan-bangunan besar dan tinggi yang menyala di malam hari membuat pikirannya sedikit tenang.


"Aku suka sekali, Mas. Kamu pintar membawaku kemari!" jawab Tania, "Dan makanan di sini juga enak-enak. Pasti tempat ini, tempat kencanmu dengan wanita-wanitamu, ya?" tebak Tania.


"Hem, bisa di bilang seperti itu. Karena di tempat ini, aku merasa bahagia."


"Benar apa katamu, Mas. Pikiranku yang tadinya seperti benang kusut, sekarang ... jauh lebih segar karena melihat indahnya kota Jakarta." jawab Tania menyeruput capuccino hangatnya. "Besok, kalau Mas Indra sudah sembuh, aku mau ajak dia ke sini. Pasti, dia sangat senang!" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Itu bukan masalah bagiku. Aku justru senang, jika melihat kalian bersatu lagi. Aku doakan semoga Indra cepat sembuh dan dapat mengingatmu lagi sebagai istrinya." ucap Yoga melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Sudah malam. Kita harus pulang!" titah Yoga beranjak berdiri.


Tania menggelengkan kepalanya, "Jangan, Mas. Aku tidak mau pulang. Aku masih betah di sini. Beri aku waktu 30 menit lagi!" cegah Tania membuat Yoga mendudukkan pantatnya di kursi.


"Tapi ini sudah malam, Tania. Aku tidak bisa membawa istri orang sampai larut malam. Bisa-bisa, aku di tuduh menikung indra."


"Tidak mungkin, Mas. Siapa yang tahu, kalau aku istri Mas Indra? Bahkan orang tua Mas Indra menolakku menjadi menantunya. Jadi, kamu tenang saja. Tidak ada orang yang mengatakanmu sebagai pebinor, haha!" kekeh Tania. "Aku geli, mendengar kata pebinor," sambungnya lagi.


Melihat tawa lepas dari wanita di hadapannya, entah kenapa hati Yoga terasa bergetar.


'Kenapa hatiku bergetar saat melihat tawa lepas dari Tania? Ada apa denganku? Dia istri sahabatku. Mana mungkin aku menikungnya.' batin Yoga.


Tania menghentikan tawanya, dia menatap sekitar restoran yang terbuka ini.


"Apa tawaku terlalu keras, Mas? Atau kamu tidak suka dengan ucapanku, tadi? Maafkan aku, ya, Mas. Aku tidak ada niatan untuk membuatmu tersinggung. Sekali lagi, maafkan aku, Mas!" lirih Tania saat melihat wajah sahabat suaminya yang tanpa ekspresi.


Yoga terkekeh, dia menyeruput kopinya yang tersisa setengah cangkir.


"Kita pulang, besok aku akan mengajakmu ke sini lagi. Sekarang, kita harus pulang. Besok, aku ada meeting di pagi hari!" titah Yoga.


"Tapi Mas Yoga tidak marah padaku, kan? Aku takut, kalau Mas Yoga marah. Aku takut di usir dari apartemen. Dan aku takut kehilangan teman seperti Mas Yoga. Sekali lagi, maafkan ucapanku yang menyinggung perasaanmu, ya, Mas!" lirih Tania.


"Siapa yang marah padamu, Tan. Aku tidak marah." jawab Yoga mengulurkan tangannya. "Ayo, kita pulang!" titahnya lagi.


Tania menatap uluran tangan sahabat suaminya. Dengan perasaan ragu, Tania menerima uluran tangan tersebut.


"Mas," panggil Tania beranjak berdiri.


"Hem," jawab Yoga berjalan menuju tangga. Belum sempat Yoga dan Tania turun. Tiba-tiba dia melihat Indra yang datang sambil menggandeng tangan Lisa dengan mesra.

__ADS_1


__ADS_2