Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Bab 25


__ADS_3

"Aku melihat satu wanita dan satu laki-laki. Wanita itu sedang mencubit lengan pria itu sampai kesakitan dan aku juga melihat wanita itu seperti tertawa bahagia saat melihat prianya kesakitan. Setelah menutup pintu kaca mobilnya, aku juga sempat mendengar pria itu berkata 'Aku seperti suami takut istri' dan wanita itu menjawab 'Biarkan saja'. Setelah itu, aku sudah tidak mendengar apapun lagi!" jawab gadis kecil penjual tissue.


'Tania bersikap seperti itu pada Yoga? Dan Yoga pun mengatakan kata suami takut istri? Aku tahu betul, sifat dan karakter Yoga. Dia sangat menyukai wanita, tapi dia hanya menjadikan wanita itu sebagai pelampiasannya jika lelah bekerja. Jika Yoga membawa wanita itu ke kantor atau rumahnya, itu artinya kemungkinan besar, ada sesuatu yang aku tidak tahu. Seperti perasaan atau sebuah hubungan. Tapi Yoga tidak membawa Tania ke rumah. Itu artinya, aku masih bisa bernapas sedikit lega.' batin Indra. "Apa wanita itu merupakan kekasih pria itu?" tanya Indra memastikan sembari mengambil sepuluh lembar uang pecahan seratus ribu.


"Kemungkinan besar, Pak. Karena mereka sangat dekat. Tapi aku juga tidak bisa memastikan, karena aku takut menimbulkan masalah baru." jawab gadis kecil tersebut.


"Baiklah, ini uang untukmu. Terimakasih sudah membantu saya." ujar Indra memberikan uang tersebut lalu menutup kaca pintu mobilnya. Dan mobil yang dikendarai Indra pun mulai berjalan mengejar mobil sahabatnya.


"Tapi aku tidak bisa terlalu lega dengan kesimpulanku, ini. Aku harus mengikuti mereka. Mungkin saja, Yoga belum sempat membawa Tania ke rumahnya." gumam Indra mencari mobil sahabatnya yang telah berjalan.


Sedangkan di satu sisi. Melihat wanita di sampingnya merajuk dan tak mau menerima permintaan maaf nya. Akhirnya seketika situasi di dalam mobil menjadi hening. Tak ada yang memecahkan keheningan tersebut.


Tak terasa, setelah mobilnya membelah jalanan ibu kota. Kini mobil Yoga sudah terparkir di depan lobby.


Tania melepas seatbelt nya saat mobil yang ditumpanginya sampai di kantor.


"Aku temani kamu makan!" titah Yoga.


"Tidak perlu, Mas. Aku bisa sendiri. Aku malas di bohongi kamu terus!" ucap Tania membuka pintu mobil dan keluar di ikuti oleh Yoga di belakangnya.


"Aku temani kamu, Tan. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu." titah Yoga tak ingin di bantah.


"Kamu tidak perlu khawatir, Mas. Tidak akan terjadi sesuatu padaku." kesal Tania.


"Okeh, memang sekarang tidak terjadi sesuatu padamu, tapi kita tidak tahu satu menit atau satu jam kemudian. Apa kamu mau, Lisa datang dan mencaci maki mu? Walaupun semalam Lisa berhasil meyakinkan Indra. Tapi tidak ada kemungkinan jika dia--"


"Tidak mungkin, Mas. Untuk apa dia mempermalukan dirinya sendiri di depan umum. Apalagi aku hanya ingin singgah di warung bubur depan." timpal Tania dengan cepat membuat Yoga menghembuskan napasnya kasar.

__ADS_1


"Kita tidak tahu, Tania. Okeh, jika semua yang aku katakan terjadi? Kamu mau meminta bantuan pada siapa? Aku tidak mungkin dengar pertolonganmu! Ikuti saja perintahku. Jangan membuat Indra kecewa karena sikapmu, Tan!" ucap Yoga mulai kesal.


"Kamu yang membuatku kecewa, Mas. Berulang kali kamu membohongiku."


"Tapi aku bercanda, Tan. Kamu seperti orang yang tidak mengenali aku, saja!" jawab Yoga, "Tunggu sebentar. Aku mau meminta satpam untuk memarkirkan mobilku,"sambungnya lagi.


Tania terdiam di tempat. Dia melihat sahabat suaminya yang berjalan menuju satpam kantor dan memberikan kunci.


Indra yang memarkirkan mobil di luar kantor sahabatnya pun tak percaya. Apa yang baru saja dia lihat, membuat dirinya syok. Apalagi saat melihat sahabatnya memegang tangan istrinya dan istrinya sama sekali tidak menepis atau memberi perlawanan.


"Dia membawa istriku ke kantor? Itu artinya, mereka mempunyai hubungan terlarang di belakangku?" ujar Indra syok.


Setelah memberikan kunci mobilnya. Yoga kembali berjalan beberapa langkah menuju istri sahabatnya.


"Ayo, aku temani kamu makan bubur di depan sana. Sekalian aku juga mau makan." titah Yoga mengulurkan tangannya.


Yoga tersenyum tipis, lalu mengejar Tania. "Hati-hati jalanan ramai. Kita harus menyebrang jalanan yang ramai." pekik Yoga keras.


Indra memundurkan mobilnya agar tidak di ketahui oleh sahabat dan istrinya.


Tania melihat jalanan yang cukup ramai dan padat. Tiba-tiba nyali nya menciut untuk menyebrangi jalanan sendirian.


"Cepat, Mas!" teriak Tania yang lagi dan lagi dapat di dengar oleh Indra yang berada di dalam mobil.


Yoga berjalan dengan santai tanpa menghiraukan ucapan Tania.


Merasa tak sabar. Akhirnya Tania berlari ke arah Yoga dan menarik tangannya untuk mempercepat langkahnya.

__ADS_1


"Ayo, Mas. Jalanan semakin padat." titah Tania.


"Sabar, Tan. Aku juga tahu, jalanan padat. Maka dari itu, aku memintamu menggandengku, tapi kamu malah menolaknya. Ya, sudah. Aku tidak bisa berbuat apapun." ujar Yoga.


"Huh! Sekarang, bagaimana kita menyebrangi jalan ini?" gumam Tania.


"Tenang saja. Di sini ada banyak satpam. Aku sudah meminta salah satu satpam untuk mengatur jalan ini. Dan kita bisa menyebrang dengan aman." jawab Yoga.


Di dalam mobil. Indra menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Apa yang aku lihat ini benar-benar keterlaluan. Mereka berkhianat di belakangku di saat aku sakit!" geram Indra turun dari mobil dan mengikuti istri juga sahabatnya.


Di saat Tania menyebrang, tiba-tiba ekor matanya tak sengaja melihat suaminya yang berada tak jauh darinya.


"Mas Yoga, bukankah itu Mas Indra?" tanya Tania membuat Yoga menatap arah yang ditunjukkan oleh wanita di sampingnya.


'Iya. Itu Indra. Apa jangan-jangan dugaanku benar, Indra sudah ingat semuanya? Tapi kenapa dia bersikap acuh. Atau dia cemburu saat melihat kedekatanku dengan istrinya?' batin Yoga lalu terbesit rencana licik di pikiran Yoga.


"Mas, jangan melamun. Itu benar Mas Indra, kan?" tanya Tania lagi.


"Iya, tapi kenapa dia ada di sini, ya? Bukankah, tadi dia ada di apartemen? Apa yang sedang dia lakukan?" jawab Yoga mengeratkan genggaman tangannya pada Tania.


"Lepasin, Mas. Aku tidak mau Mas Indra melihat tangan kita berpegangan." titah Tania.


"Indra tidak akan melihatnya. Dia fokus dengan jalanan. Aku akan melepas genggaman ini setelah kita sampai di tukang bubur itu. Aku harus menjagamu, Tan!" titah Yoga dengan senyum liciknya. 'Jika benar, dia sudah ingat dengan semuanya. Aku pastikan, sekarang dia sedang menahan api cemburu, hahaha!' batin Yoga.


Indra mengepalkan tangannya erat saat melihat genggaman tangan itu semakin erat.

__ADS_1


'Siaalan, seharusnya mereka tidak boleh bermesraan di depan umum. Aku benar-benar kecewa dengan sikap kalian!' batin Indra dengan tangan yang mengepal erat.


__ADS_2