Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Bab 20


__ADS_3

Yoga mengedikkan bahunya, "Aku tidak tahu. Mungkin kepala Indra sakit lagi. Dari pada kita memikirkan mereka. Lebih baik, aku antar kamu pulang saja. Ini sudah malam!" titah Yoga yang mendapat gelengan kecil dari Tania.


"Mas, jangan pulang dulu. Apa tidak sebaiknya, kita mengikuti Mas Indra dan Lisa? Aku takut terjadi sesuatu dengannya!" saran Tania.


Yoga menghembuskan napasnya kasar, lalu menatap wajah wanita di sampingnya. "Kita tidak mungkin mengikuti mereka, Tan. Ingat, kita sudah di usir oleh Indra. Jangan membuat Indra semakin marah. Ini tidak baik untuk kesehatannya. Lebih baik, kita pulang." ujar Yoga menyalakan mesin mobilnya, "Aku antar kamu pulang ya? Indra aman dengan Lisa." sambungnya lagi.


"Tapi, Mas? Bagaimana, kalau sakit kepala Mas Indra semakin parah? Aku tidak bisa membiarkan Lisa mengurus Mas Indra sendirian. Aku ini istrinya!"


"Tania, Lisa tidak mungkin mengurus Indra. Dia akan menghubungi orang tua Indra. Jika kamu temui mereka sekarang, itu artinya kamu akan mendapatkan caci maki lagi. Kamu mau di caci maki orang tua suamimu sendiri. Kita pulang, ya! Ini sudah malam. Dan aku tidak butuh bantahan!" titah Yoga menancapkan gas mobilnya lagi.


Di dalam mobil yang di tumpangi Indra. Tak henti-hentinya Lisa mencemaskan pria yang sedang mengeluh kesakitan.


"Kamu tenang saja, sebentar lagi, kita sampai rumah sakit, Ndra!" titah Lisa.


Perlahan Indra mengingat tentang kecelakaan yang menimpa dirinya. Dan sebelum kecelakaan itu, dia melihat bayangan dirinya bersama Tania yang sedang tertawa bersama di dalam ruangan seperti kamar.


'Sekarang aku sudah bisa mengingat dengan jelas siapa aku sebenarnya. Ternyata, aku sudah menikah dengan Tania. Tapi kenapa Lisa ada di sini? Bukankah, di tinggal di luar negeri?' batin Indra.


"Indra, kamu bisa bertahan kan? Kita hampir sampai rumah sakit." titah Lisa dengan perasaan cemasnya.


Indra menatap wanita yang sedang menyetir mobilnya, 'Lisa begitu mencemaskanku. Apa sebaiknya, aku berpura-pura amnesia saja? Aku mau melihat siapa saja yang memperdulikanku?' batin Indra menganggukkan kepalanya.


"Aku baik-baik saja. Kamu tenang saja, Lis. Sebaiknya kita pulang. Rasa sakit di kepalaku sudah hilang!" jawab Indra yang mendapat gelengan kecil dari Lisa.


"Jangan Ndra. Kita ke rumah sakit dan kita periksakan kondisimu. Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Aku tidak mau Tante marah karena aku lancang membawamu pergi sampai sakit!" tolak Lisa.


"Aku baik-baik saja, Lisa. Sebaiknya, kamu antar aku pulang ke rumah. Dan di mana ponselku?" tanya Indra lagi.

__ADS_1


"Ponsel? Bukankah kamu dengar sendiri, ponselmu sudah hilang, apa kamu lupa?" jawab Lisa kebingungan.


'Hilang? Kenapa aku sampai lupa. Bukankah aku pernah mencari ponselku dan ibu bilang, kalau ponselku hilang sewaktu kecelakaan.' batin Indra, "Kita pulang saja, Lis. Keadaanku sudah jauh membaik. Dan aku ingin istirahat di rumah."


"Kamu yakin kalau kita pulang? Atau sebaiknya, kita ke rumah sakit? Kita periksakan kondisimu terlebih dahulu. Aku tidak mau, setelah sampai rumah ... kamu mengadu kesakitan." jawab Lisa memastikan.


"Iya, aku baik-baik saja. Sekarang, kita pulang saja!" titah Indra kemudian menatap pepohonan di pinggir jalan dari dalam mobil. 'Apa yang aku lakukan selama ini. Kenapa aku tidak bisa mengingat Tania. Pasti, sedari kemarin, Tania kesepian tanpa aku. Setelah pulang nanti, aku harus temui Tania tanpa sepengetahuan orang-orang rumah!' batin Indra.


Lisa membelokkan mobilnya untuk memutar arah.


Sedangkan di satu sisi. Setelah mobilnya membelah jalanan ibu kota. Kini, Tania dan Yoga sudah sampai di dalam apartemen yang di tempati oleh Tania. Mereka menjatuhkan pantatnya di sofa.


"Mas, kira-kira keadaan Mas Indra bagaimana?" tanya Tania yang mendapat gelengan kecil dari pria di sampingnya.


"Aku tidak tahu, Tan. Besok kita cari tahu. Sekarang, kamu berisitirahatlah. Aku mau pulang!" titah Yoga.


"Bukan. Aku mau pulang ke rumahku." jawab Yoga.


Tania melirik jam di dinding apartemennya yang sudah menunjukkan pukul 1 pagi.


"Kamu yakin pulang jam segini? Ini sudah jam 1 pagi, loh!" tanya Tania mematikan.


"Iya, aku yakin. Apa wajahku terlihat mencurigakan?" tanya Yoga.


"Tidak sih, tapi menurutku kamu pulang ke apartemen sebelah saja. Aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu. Mau bagaimana pun, aku bisa di sini, itu karenamu, Mas!"


Mendengar ucapan Tania, Yoga terkekeh. Dia menjatuhkan pantatnya lagi di sofa.

__ADS_1


"Aku bertengkar dengannya," ucap Yoga.


"Bertengkar? Karena apa? Apa jangan-jangan dia sudah tahu tentang aku?" tanya Tania memastikan.


"Sudah aku bilang, Tania. Wanitaku bukan hanya satu, melainkan aku masih mempunyai beberapa wanita lain di luar sana. Menurutku, pertengkaran itu wajar." jawab Yoga yang dapat di mengerti Tania.


"Ya, sudah. Dari pada Mas Yoga pulang di dini hari. Lebih baik, Mas Yoga menginap saja di apartemen ini. Di sini ada dua kamar, dan kebetulan kamar yang terpakai hanya satu saja, kamu bisa tempati kamar satunya lagi yang kosong. Lagi pula, ini apartemenmu, Mas. Aku yang menumpang di sini!" ujar Tania.


"Aku tidak mau menimbulkan masalah baru lagi kalau aku menginap di sini, Tan!" tolak Yoga.


"Memangnya ada yang mengenal kita di sini selain tetangga sebelah, Mas? Ini sudah jam 1 pagi. Dan besok pagi kamu harus ke kantor, kan? Jarak kantormu dari apartemen ini cukup dekat loh! Aku sudah mengizinkanmu." ujar Tania membuat Yoga berpikir sejenak.


Setelah berpikir, akhirnya Yoga mau menerima menginap satu atap apartemen dengan Tania.


"Baiklah. Kebetulan besok pagi, aku ada meeting di luar kantor. Besok pagi, kamu ikut aku saja! Seperti biasa, kamu menungguku di kamar pribadi?"


"Tidak perlu, Mas. Aku mau mencari pekerjaan saja. Tidak enak jika aku harus menumpang hidup denganmu." tolak Tania.


"Mencari pekerjaan?" gumam Yoga, "Aku tidak mengizinkanmu bekerja. Lebih baik, kamu diam di apartemen atau ikut aku ke kantor. Ingat Tania, Indra sudah menitipkan kamu padaku. Dan aku tidak mau sahabatku kecewa karena aku tidak bisa menjagamu dengan baik." ujar Yoga tak setuju.


"Tapi aku tidak bisa bergantung hidup denganmu terus, Mas. Lagi pula, Mas Indra tidak mengingatku. Jadi, dia tidak mungkin marah padamu."


"Tapi aku tidak setuju, Tan! Aku tidak mengizinkanmu bekerja. Kamu boleh bekerja, asalkan suamimu mengizinkannya." ketus Yoga bangkit dari sofa, "Sekarang, tunjukkan kamarku!" titahnya lagi.


"Mas, ak--"


"Jangan membantahku, Tania. Tunjukan saja kamarku. Besok pagi kamu ikut aku ke kantor. Aku tidak mau mendengar kata penolakan lagi darimu. Kamu tanggung jawabku." potong Yoga dengan nada dinginnya.

__ADS_1


__ADS_2