Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Bab 14


__ADS_3

Setelah sampai di kamar. Indra melepaskan tangan yang bertengger di pundaknya.


"Aku bisa sendiri. Kamu masuk kamar saja," titah Indra.


"Ada apa denganmu, Ndra? Kenapa sikapmu berubah. Sebelum kecelakaan kamu selalu bersikap manis padaku. Kamu tidak pernah menolakku, tapi ini ... aku merasa kamu benar-benar berubah. Kamu bukan Indra yang aku kenal dulu. Tidak ada kata atau sikap manis yang keluar dari bibirmu. Kamu menjadi kaku, dingin, dan tidak perduli dengan siapapun. Aku sedih, Ndra. Aku sudah seperti orang asing di dalam kehidupanmu." lirih Lisa yang tengah berdiri di hadapan Indra.


Mendengar ucapan dari wanita di hadapannya, membuat Indra seketika berpikir atas perbuatannya yang terlalu kasar, tadi.


'Apa sikapku tadi sudah menyinggung perasaan Lisa? Tapi aku melakukan semua ini karena aku tidak bisa mengingat siapa pun. Aku tidak bisa mengingat masa-masa indah ku bersama lisa.' batin Indra.


'Aku yakin, aktingku kali ini akan berhasil juga. Pasti sekarang, Indra sedang bertanya-tanya padaku tentang sikapnya yang berubah drastis. Padahal, sedari dulu ... sikap Indra memang cuek dan dingin padaku.' batin Lisa menundukkan kepalanya. "Aku tahu, kamu baru saja mengalami kecelakaan. Tapi aku tidak percaya, perubahan sikapmu terlalu drastis."


"Maafkan aku. Aku tidak ada niatan untuk merubah sikapku. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengingat kenangan indah kita. Aku tidak bisa mengingat kenangan apapun. Dan aku tidak suka dengan keputusan kalian yang gila ini. Walaupun di sini banyak orang, tapi apa kata orang di luar sana saat mendengar kita satu atap? Pasti mereka akan berprasangka buruk pada kita." jawab Indra.


'Ya, sesuai dengan dugaanku, dia akan meminta maaf. Rupanya ada untungnya juga Indra amnesia. Aku senang Indra amnesia. Lebih baik, selamanya Indra amnesia, hahaha!' batin Lisa.


"Aku minta maaf, aku tidak ada niatan untuk bersikap kasar atau dingin padamu. Sekali lagi, Maafkan aku jika ucapanku sudah menyinggung perasaanmu!" lirih Indra.


"Kamu tidak perlu meminta maaf. Memang ini kesalahanku. Aku terlalu antusias untuk merawatmu. Aku tidak mau ketinggalan satu berita tentangmu. Kalau kamu keberatan atau terganggu dengan kehadiranku di sini. Lebih baik, aku pergi saja. Aku akan cari tempat penginapan untukku bermalam sampai kamu sembuh!" ujar Lisa kemudian melanjutkan langkahnya keluar pintu.


Belum sempat Lisa keluar dari pintu kamar, tiba-tiba Indra menahan dengan kata-kata yang membuatnya tanpa sadar tersenyum tipis.


"Jangan pergi! Ke dua orang tuamu sudah menitipkanmu ke keluarga ini. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu yang akan menimbulkan masalah baru. Lebih baik, kamu masuk dan istirahat ke kamar. Jangan ganggu aku sementara waktu ini. Aku mau meluangkan waktuku untuk beristirahat." ujar Indra meluruskan kakinya sambil menarik selimutnya sampai leher.


Lisa memutar tubuhnya tersenyum. "Terimakasih, sayang. Kamu adalah kekasih terbaik. Aku sangat, sangat mencintai dan menyayangimu. I love you, Sayang!" jawab Lisa antusias, dia memberikan kecupan jarak jauh.

__ADS_1


Indra membalas senyuman dari Lisa. "Pergilah," titahnya.


Lisa mengangguk, dia berjalan keluar kamar Indra dan masuk ke dalam kamarnya.


"Yes, Yes, akhirnya semua rencanaku berhasil! Aku menjadi kekasih Indra, pria yang sangat dan sangat aku cintai. Aku tidak percaya akan mendapat kesempatan emas ini." ujar Lisa bahagia sembari memutar tubuhnya berulang kali.


Setelah lelah, Lisa merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


"Rasanya aku tidak sabar menanti hari esok dan esok." gumamnya lagi.


Sedangkan di satu sisi. Setelah sampai di kediaman Tania.


Tania mempersilahkan sahabat dari temannya masuk ke dalam rumah.


"Apa saja. Aku akan meminumnya. Oh, iya, setelah ini aku akan bantu kepindahanmu. Kita pindah malam ini juga. Aku sudah meminta Bibi untuk membersihkan apartemen yang akan di tempati olehmu!" ucap Yoga menjatuhkan pantatnya di sofa.


"Kita bicarakan nanti saja, Mas. Aku buatkan kamu minuman dulu. Pasti kamu haus kan? Tunggu sebentar, ya!" titah Tania berjalan menuju dapur.


Yoga menatap setiap sudut rumah milik sahabatnya. 'Aku tidak bisa diam saja. Kasihan Tania. Dia pasti sakit hati saat melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Lagi pula, Tante Ratu tega memisahkan putranya dengan wanita yang di cintai putranya. Memangnya, dia tidak memikirkan kebahagiaan putranya. Ciri-ciri orang tua yang egois, mementingkan kebahagiaan dirinya sendiri tanpa melihat kesedihan putranya.' batin Yoga.


"Maaf ya, Mas. Aku buatkan Mas Yoga teh hangat. Ini kan sudah malam. Jadi, kalau aku bikin es teh, takutnya Mas yoga menggigil. Cuaca malam hari di sini tidak seperti cuaca di kota, Mas." ucap Tania meletakkan secangkir teh hangat untuk sahabat suaminya.


Yoga mengangguk, dia mengambil dan menyeruput teh hangat yang baru saja di buatkan khusus untuknya.


"Enak!" puji Yoga.

__ADS_1


"Biasa saja, Mas. Oh, iya, kamu tidak perlu membantuku pindahan, Mas. Kamu bilang, malam ini kamu sudah ada janji untuk bertemu dengan salah satu teman wanitamu, kan? Kasihan, jika teman wanitamu menunggu kedatanganmu yang tidak pasti!"


"Kamu tenang saja, Tania. Aku sengaja ingin membantumu. Lagi pula, pertemuanku dengan wanitaku itu di apartemen. Kita satu arah dan satu tujuan, haha!" jawab Yoga lalu menyeruput teh hangatnya lagi.


Mendengar jawaban yang keluar dari mulut sahabat suaminya, Tania memicingkan matanya tak suka.


"Kamu ada-ada saja, Mas. Ya, sudah. Aku mau beres-beres dulu. Kamu tunggu saja di sini!" titah Tania berjalan menuju kamarnya.


"Perlu aku bantu?" teriak Yoga.


"Tidak perlu. Bisa repot jika ketahuan tetangga!" jawab Tania tak kalah keras.


Yoga terkekeh, dia menatap kepergian Tania.


Setelah masuk ke dalam kamar. Tania langsung mengambil koper dan memasukkan beberapa pakaiannya yang akan di bawanya.


"Aku bawa pakaian Mas Indra tidak? Sebaiknya, aku bawa saja. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Dan aku juga bisa meyakinkan Mas Indra dengan pakaiannya. Aku yakin, Mas Indra percaya dengan apa yang aku ucapkan asalkan aku membawa pakaiannya." lirih Tania memasukkan semua pakaian suaminya ke dalam koper.


Menunggu adalah hal yang sangat membosankan bagi Yoga. Sudah berulang kali, dia menatap pintu kamar Tania yang tertutup, berharap pintu kamar itu terbuka cepat.


Beberapa notifikasi pesan masuk mulai mengganggu konsentrasi Yoga.


"Tania lama sekali, apa saja yang dia bawa!" gumam Yoga lalu membalas pesan dari wanita yang akan di temuinya.


Tak sabar menunggu terlalu lama. Akhirnya Yoga bangkit dan berjalan menuju kamar Tania.

__ADS_1


__ADS_2