
"Tante Ratu benar-benar keterlaluan. Dia tidak bisa berbicara seperti itu! Ini tidak bisa di biarkan!" kesal Yoga. "Aku harus bicara dengan Tante Ratu!" sambungnya lagi.
"Tidak perlu. Mas Yoga tidak perlu berbicara apapun. Mas Yoga tidak usah ikut campur terlalu dalam. Aku tidak mau, hubungan pertemanan Mas Yoga dan Mas Indra berantakan karenaku!" cegah Tania memegang lengan pria di hadapannya.
"Tidak bisa, Tan. Aku melakukan semua ini karena aku sahabat Indra. Aku tidak mau Indra terjebak dengan sandiwara ibunya yang palsu. Pantas saja, Indra tidak menyukai sikap ibunya. Ternyata sikap ibunya seperti ini. Aku benar-benar tidak menyangka dengan sikap ibunya Indra yang egois!"
"Biarkan saja, Mas. Kita doakan saja agar Mas Indra cepat sembuh. Aku juga akan selalu menjaga Mas Indra, aku akan selalu menjenguknya setiap pagi sambil membawakan makanan kesukaannya. Semoga saja, dengan cara aku membawakan makanan kesukaannya, Mas Indra bisa lebih cepat mengingat semuanya." jawab Tania.
Mendengar semua ucapan wanita di sampingnya. Yoga seketika menyalakan mobil dan menancapkan gas mobil.
"Maafkan aku, Mas!" ucap Tania tiba-tiba.
"Maaf untuk apa? Kamu sama sekali tidak salah. Yang salah itu Tante Ratu. Aku heran dengan Tante Ratu. Kenapa ada orang seperti dia di dunia ini!" kesal Yoga. "Tapi Indra beruntung mempunyai istri sepertimu. Aku tidak bisa bayangkan jika Indra mempunyai istri seperti Lisa. Di saat seperti ini, aku yakin ... wanita seperti Lisa tidak akan mau bertahan. Dia lebih memilih mencari pria kaya yang tak kalah tampan dari Indra."
Tania tersenyum, "Aku yang beruntung mempunyai suami seperti Mas Indra. Dia mempunyai sikap yang hangat pada semua orang yang di sekitarnya. Dan aku juga sangat beruntung bertemu dengan Mas Yoga. Aku tidak tahu bagaimana nasibku jika Mas Indra tidak meminta Mas Yoga menjagaku."
"Ya sudah. Setelah aku antarkan kamu pulang, aku--" ucapan Yoga terhenti saat mendengar nada dering di ponselnya. "Tolong ambilkan ponselku!" titah Yoga membuat Tania mengambil ponsel sahabat suaminya yang berada di dashboard mobil.
"Ini, Mas!" titah Tania.
"Pegang kamu saja. Siapa yang menelfon?" ucap Yoga.
"Em, di sini tulisannya sekertaris Lita. Mau aku angkat, Mas?" tanya Tania.
"Boleh. Sekalian aktifkan pengeras suaranya. Agar aku bisa mendengar dengan jelas!" titah Yoga yang mendapat anggukan kecil dari Tania.
Tania memencet tombol loud speaker yang berada di layar ponsel Yoga.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak Yoga. Saya hanya ingin mengingatkan setengah jam lagi, Bapak akan ada meeting dengan PT Megantara di kantor. Apa Bapak bisa datang ke kantor?" tanya Lita.
"Oh, iya. Aku lupa, kalau pagi ini ada meeting dengan PT Megantara. Baiklah, aku akan datang ke kantor. Kebetulan, aku sedang di dekat kantor!" jawab Yoga.
"Baik, Pak. Saya hanya mengkonfirmasi itu saja." ucap Lita.
"Hem!" jawab Yoga, "Tan, matikan telfonnya!" titah Yoga pada Tania.
Tania mematikan telfon sahabat temannya. "Mas, kamu turunkan aku di depan saja. Aku bisa pulang menggunakan taksi." ucap Tania.
"Tidak bisa. Selama Indra sakit, aku yang akan menjagamu. Kamu mau kan? Ikut aku ke kantor. Aku meeting hanya sebentar, kamu juga bisa beristirahat di ruanganku." ajak Yoga menatap sekilas wanita di sampingnya.
"Aku tidak enak dengan kekasihmu, Mas. Aku juga tidak enak dengan orang-orang kantor."
"Kamu tidak perlu merasa tidak enak. Sekarang, kamu ikut aku ke kantor. Kamu juga capek kan? Kebetulan di ruanganku ada kamar pribadi. Kamu bisa gunakan kamar pribadiku sampai aku selesai meeting." titah Yoga.
Setelah mobil Yoga membelah jalanan ibu kota. Akhirnya kini, mobil Yoga sudah terparkir mulus di depan lobby kantornya.
"Kita turun!" titah Yoga melepas sabuk pengamannya.
"Ini ponselmu, Mas!" titah Tania memberikan ponsel milik sahabat suaminya.
"Kamu bisa pegang ponselku dulu! Aku harus membawa tas yang berisi laptop pribadiku!" ujar Yoga kemudian mengambil tas yang berada di bangku belakang.
Tania mengangguk. Dia membuka pintu mobil dan turun dari mobil di ikuti oleh Yoga.
"Mas, aku malu!" lirih Tania sambil menundukkan kepalanya. "Bagaimana, kalau ada yang mengenaliku sebagai kekasih Mas Indra?" sambungnya lagi.
__ADS_1
Yoga terkekeh. "Genggam tanganku. Aku tidak sedang mencari kesempatan dalam kesempitan, tapi kamu bilang, kamu malu, kan? Tidak lucu, kalau kamu menabrak seseorang di sini. Bisa-bisa kamu semakin malu!" ucap Yoga.
"Tapi, Mas--"
"Tidak usah sungkan. Aku bisa memakluminya. Lagi pula, siapa yang tidak kenal kepribadian burukku di kantor atau pun di luar sana?" ujar Yoga menggenggam tangan Tania, membuat pemilik tangan seketika terkejut.
"Apa sebegitu buruknya kamu, Mas? Tapi kenapa aku tidak bisa melihat sisi burukmu? Aku hanya bisa melihat sisi baikmu?" tanya Tania melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor bersama Yoga.
Di dalam kantor, banyak pasang mata menatap Tania dengan tatapan sulit di artikan membuat Tania yang melihatnya semakin risih dengan tatapan itu.
"Mas, kenapa mereka melihat kita dengan tatapan tidak suka? Apa penampilanku terlalu dekil? Atau aku tidak pantas jalan berdampingan denganmu?" tanya Tania lirih.
"Biarkan saja. Jangan terlalu di pikirkan, mereka sedang menilai dirimu. Karena baru pertama kali aku membawa seorang wanita datang ke kantor. Biasanya aku hanya bertemu wanita-wanitaku di luar kantor atau hotel." jawab Yoga memencet tombol lift dan lift pun terbuka. "Masuklah!"
Tania berjalan lebih dulu masuk ke dalam lift. "Kenapa kamu mau membawaku, Mas? Aku pikir, kamu selalu membawa wanitamu ke kantor?" tanya Tania setelah pintu lift tertutup.
"Aku memang suka wanita, tapi aku tidak mau wanita-wanita itu mengganggu pekerjaanku. Aku membawamu karena kamu istri dari sahabatku. Mungkin, yang ada di dalam pikiran mereka, kamu adalah wanita spesial di hatiku." jawab Yoga.
Tania mengangguk paham. Dia memberikan ponsel sahabat suaminya, "Ini, Mas! Aku takut lupa." titah Tania.
"Oh, iya. Aku hampir saja lupa. Terimakasih sudah mengingatkanku!" ujar Yoga mengambil ponselnya. "Malam nanti, aku sudah ada janji dengan salah satu wanitaku. Apa kau mau ikut?" tanya Yoga lagi.
"Tidak, Mas. Aku tidak mau ikut! Itu privasi kalian," tolak Tania.
"Hahaha ... aku pikir, kamu mau ikut dan melihat apa yang akan terjadi nanti!" goda Yoga.
"Tidak mau, Mas. Aku tahu apa yang akan terjadi. Maka dari itu, aku tidak akan mengganggu waktumu dengan wanita itu. Lebih baik, aku tidur di rumah." jawab Tania menyenderkan tubuhnya di dinding lift.
__ADS_1
"Aku harap, kamu tidak akan bosan dengan sikapku ini!" ujar Yoga tiba-tiba.