Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Mama Andin membohongi Awan.


__ADS_3

Beberapa saat kemudian Awan dan Niko sudah sampai di rumah. Awan kaget melihat Jingga sudah ada di rumahnya saat itu, lupanya Mama Andin mengajaknya ke rumah sekalian. Awan tidak bisa menghindari Jingga lagi. Saat itu Jingga langsung menyambut kedatangan Awan dengan ramah bahkan ia membantu Awan jalan menuntunnya sampai di ruang tamu.


"Makasih," ucap Awan basa-basi.


Jingga terseyum, ia pun duduk di samping Awan. Niko melirik Awan dengan senyuman sambil membatin. Sepertinya wanita ini sangat perhatian dengan Awan, layaknya kekasih. Wajar saja Senja cemburu, kasian banget Senja aku bisa menilai kalau wanita ini benar-benar punya rasa simpati yang besar pada Awan. Aku tidak yakin kalau hanya sebatas teman.


"Nik, mau minum apa kamu?" tanya Awan menghentikan lamunan Niko.


Niko tersentak mendengar ucapan Awan.


Ia pun mengalihkan tatapannya ke arah Awan yang awalnya menatap Jingga.


"Awan aku permisi dulu ya, kamu jangan banyak gerak dulu biar luka mu cepat sembuh," pesan Niko tiba-tiba ingin beranjak dari tempat itu.


"Kok buru-buru Nik?"


"Iya nih, ada kerjaan mendadak aku harus pergi."


"Ya sudah, makasih ya sudah nganterin pulang," ujar Awan.


Niko mengangguk, berlalu sambil melayangkan pandangan kearah Jingga lagi.


"Aku pulang dulu ya," ucapnya pada Jingga.


"Ya hati-hati," ujar Jingga datar.


Niko terseyum ke arah Jingga ia pun pergi menuju mobilnya.


Mama Andin yang sudah mempersiapkan minuman untuk Niko datang ke ruang tamu, ia melihat sudah tidak ada Niko lagi. "Mana temanmu?" tanya Mama Andin.


"Sudah pergi Ma," sahut Awan.


"Lho buru-buru amat, padahal Mama belum ucapin terimakasih tadi sama dia, karena udah mau antar kamu pulang."


"Hem, Mama kalau gak ada Niko apa Mama juga akan biarkan Awan pulang sendiri?" ucap Awan mengalihkan pembicaraan ia tidak terima saat di tinggal Mamanya tadi di rumah sakit.


"Maaf, Mama lama tadi menyusul Jingga dan setelah Jingga ketemu malah dia ajak Mama makan dan akhirnya mama langsung pulang deh karena Mama tau kamu pasti pulangnya sama Niko jadi, mama gak balik lagi ke rumah sakit langsung pulang sama Jingga."


"Mama selalu begitu, kalau sama yang lain lupa sama anak sendiri," gerutu Awan.


"Hem jadi kamu cemburu kalau Mama pulang sama aku Bang?" sambung Jingga.


"Gak cemburu kok, sakit hati saja kok bisa-bisanya Mama biarin aku pulang sendiri," ujar Awan merasa kesal.

__ADS_1


"Tapi kan Abang pulangnya sama Teman Abang, bukan sendiri itu namanya. Ternyata Bang Awan manja juga ya Tante?" Hahaha ledek Jingga sambil tertawa.


Awan pun jadi malu ditertawai Mama dan Jingga.


"Aku mau istirahat dulu di dalam, lanjut saja kalian tertawanya!" ucap Awan merasa kesal karna di tertawai.


Melihat Awan yang mau beranjak Jingga tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, ia pun ikut beranjak merangkul Awan sambil menuntunnya jalan menuju kamarnya.


"Jingga bantu ya Bang," ucapnya.


Awan tidak bisa berkata-kata lagi selain membiarkan tangannya dituntun Jingga.


Mama Andin hanya memperhatikan sambil tersenyum merasa haru.


"Jingga tampak perhatian sekali pada Awan, dia benar-benar menantu idaman. Sudah baik, cantik, perhatian lagi," puji Mama Andin terkesima melihat Jingga yang peduli dengan Awan.


"Secepatnya aku akan segera menjodohkan mereka agar Senja tidak lagi berharap pada Awan."


Mama Andin masih memegang ponsel Awan beberapa panggilan tak terjawab dari Senja sengaja dihapusnya agar Awan tidak mengetahuinya.


Setelah Jingga selesai membantu Awan ia pun pamit pulang. Jingga bersalaman dengan Mama Andin sambil menggenggam 5 lembar uang seratus ribu buat Mama Andin. Sebagai ungkapan rasa bahagianya, karna sudah di ijinkan untuk main ke rumah mereka kapan pun ia mau.


Saat Jingga sudah pergi, Awan pun memanggil Mamanya yang masih memandangi Jingga dari kejauhan sampai tidak terlihat lagi baru ia masuk menemui Awan. Dengan senyuman di wajahnya Mama Andin melihat uang yang di beri Jingga. "Jingga baik banget sih sampai kasi uang segala," ucapnya senang.


"Iya ada apa?" sahut Mama Andin, dari depan menuju kamar Awan.


"Ma apa ponsel aku sudah bisa di gunakan?"


"Belum Awan ponselmu masih di perbaiki," jawab Mama Andin ia pun segera menyimpan uang yang di beri Jingga ke saku celananya. Sekilas Awan melihat namun mengabaikannya.


"Kok lama sekali Ma biasa juga 3 hari udah bisa di ambil!" omel Awan.


"Mama tidak tau, tanya saja Ayahmu nanti."


Awan jadi kesal ia tidak bisa menghubungi Senja mau keluar juga luka nya masih belum sembuh.


"Kamu mau hubungi siapa sih! pinjam ponsel Mama saja," ucap Mama Andin menawari.


"Ya sudah sini Ma pinjam bentar."


"Tunggu!" Mama Andin mengambil ponselnya di kamar dan menyimpan ponsel Awan, tidak lupa ia mematikan ponsel Awan tersebut agar tidak ketahuan.


"Nih...!" ucap Mama Andin sambil memberikan ponselnya pada Awan. Awan pun semangat meraih ponsel tersebut. Tapi, setelah ia masukan nomor Senja dan berniat menelponnya bukan suara Senja yang terdengar tapi cuma suara Tut ... Tut ... Tut ...

__ADS_1


"Astaga Mama, buat apa kasi Awan ponsel yang gak ada paketnya?" Awan merasa dongkol.


Mama Andin tertawa lebar melihat hal tersebut..


"Maaf Mama belum isi paket hehehe," ujar Mama Andin meraih kembali ponselnya di tangan Awan.


"Yah sama juga bohong! aku tidak bisa hubungi Senja ...," lirihnya.


"Rasain kamu Awan gak bisa hubungi Senja," cibir Mama Andin dalam hatinya ia merasa bahagia melihat Awan tidak bisa menghubungi Senja lagi.


"Senja kamu lagi ngapain sekarang? aku kangen sama kamu," Lirih Awan seorang diri.


Ternyata di waktu yang bersamaan Senja juga lagi duduk termenung memikirkan Awan. "Aku tidak bisa diam begini saja, aku harus keluar menemui Awan," ucapnya dalam hati. Sambil ia bergegas bersiap akan ke rumah sakit.


"Senja? mau kemana kamu?" ucap Mama Lita.


"Em, mau ke toko buku Ma," jawab Senja berbohong.


"Ke toko buku? Mama ikut dong, Mama juga mau beli buku. Stok bacaan Mama hampir abis."


Kening Senja berkerut mendengar ucapan mamanya. "Emang Mama mau cari buku apa? biar Senja yang belikan."


"Gak perlu, kamu gak akan tau selera Mama."


"Aduh Mam, tinggal sebutkan aja judulnya biar Senja yang beliin," pinta Senja yang keberatan Mamanya mau ikut.


"Gak ... biar Mama ikut, kamu keberatan kalau Mama ikut? sebenarnya kamu mau ke toko buku atau ...," Mama Lita tidak meneruskan ucapannya.


Senja jadi cemberut, "Memangnya Mama mau beli buku untuk apa sih?"


"Mau beli buku Novel lah Mama kan Bobby baca Novel."


"Hah, sejak kapan Mama suka baca Novel?"


"Akhir-akhir ini Mama suka baca Senja dan jangan banyak tanya. Ayo kita pergi! Mama sudah gak sabar mau cari buku yang Mama mau."


"Mama ada-ada saja, Senja gak jadi deh beli bukunya!" ucap Senja membatalkan niatnya.


"Lho kenapa gak jadi?"


"Senja lupa ada tugas penting dari pada beli buku." ucap Senja berubah pikirin ia memilih tidak jadi pergi karena mamanya mau ikut.


"Hem, ya sudah Mama pergi sama Bang Jemi aja," ucap Mama Lita berlalu.

__ADS_1


__ADS_2