
Indra mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh agar sampai di kediaman rumahnya yang berada di luar Jakarta.
"Sebelum aku memastikan di kantor Yoga, sebaiknya aku memastikan dulu di rumah ini. Semoga saja, Tania ada di rumah ini." gumam Indra.
Indra memarkirkan mobilnya di depan halaman rumah yang tidak terlalu luas.
Krek, krek!
Pintu rumahnya terkunci. "Tania, Tania sayang! Kamu ada di dalam, kan?" teriak Indra sembari mengintip kaca jendela rumahnya dan dia tidak melihat batang hidung istrinya.
"Apa jangan-jangan Yoga membawa Tania pergi ke rumahnya?" gumam Indra lalu melihat tetangga di samping rumahnya.
"Bu, apa ibu melihat Tania?" tanya Indra pada tetangga sebelah rumahnya.
"Oh, Mbak Tania dari beberapa hari jarang kelihatan. Terakhir saya lihat, dia datang bersama seorang pria dan pria itu masuk ke dalam rumah. Saya juga tidak tahu, apa yang mereka lakukan. Tapi dengar-dengar dari warga yang lihat, Mbak Tania bawa koper. Saya pikir, Mas Indra sudah tahu kepergian mbak Tania." jawab tetangga sebelah.
Mendengar semua itu, tubuh Indra melemas, "Bagaimana ciri-ciri pria itu?" tanya Indra.
"Saya lupa, Mas. Saya melihatnya sudah lama." jawabnya lagi.
'Apa yang di ucapkan ibu ini adalah Yoga?' batin Indra.
"Mas Indra dari mana saja? Saya dan warga di sini berpikir, jika Mas Indra meninggalkan Mbak Citra lalu Mbak Citra menemukan pengganti Mas Indra." tanya tetangga sebelah.
"Kebetulan aku menjenguk ibuku sedang sakit. Mungkin pria itu sahabatku, karena aku sempat menitipkan Tania." jawab Indra.
"Oh, sebaiknya, Mas Indra jangan pernah menitipkan istri Mas Indra pada pria lain apalagi dengan sahabat sendiri. Sudah banyak di luar sana, yang menitipkan istrinya kepada sahabatnya, dan hasilnya mereka menjalin hubungan terlarang. Itu saran saya, saja. Karena sudah ada beberapa teman saya yang seperti itu."
"Terimakasih. Tapi aku tetap percaya dengan mereka. Ya, sudah, terimakasih atas informasinya," jawab Indra kemudian berlari masuk ke dalam mobil.
Setelah sampai di dalam mobil. Indra langsung menyalakan dan menancapkan gas mobilnya keluar dari halaman rumah.
'Aku harus menemui Yoga di rumahnya. Aku yakin, dia ada di rumah!' batin Indra.
Tak membutuhkan waktu lama, untuk Indra sampai di kediaman sahabatnya. Segera Indra keluar dari mobil dan berlari lalu mengetuk pintu utama rumah sahabatnya yang terlihat mewah dan megah.
__ADS_1
Tok ...
Tok ....
"Yoga!" pekik Indra keras membuat pelayan rumah Yoga yang sedang menyapu terkejut.
"Suara siapa itu?" gumam bibi, lalu berlari membukakan pintu utama. "Ya, tunggu sebentar!" teriaknya lagi!"
Krek!
"Mas Indra," ucap bibi setelah membukakan pintu utama.
"Di mana Yoga, Bi?" tanya Indra berjalan masuk ke dalam rumah sahabatnya.
"Mas Yoga tidak pernah pulang. Bibi pikir, Mas Yoga pergi bersama Mas Indra." jawab Bibi mengikuti setiap langkah Indra yang masuk ke dalam rumah.
"Tidak pernah pulang?" gumam Indra lalu menatap wajah pelayan yang bertugas membersihkan rumah sahabatnya. "Sama sekali, Bi?" tanyanya lagi.
"Iya, den. Sama sekali tidak pernah pulang. Saya pikir, Mas Yoga menginap di rumah Mas Indra."
"Aduh, Mas Indra. Bibi sudah bilang, kalau Mas Yoga tidak pernah pulang apalagi membawa seorang wanita. Mas Yoga tidak pernah membawa wanita masuk ke dalam rumahnya." jawab bibi memainkan sapu ijuk nya.
'Berarti, dia ada di apartemennya. Atau jangan-jangan Tania di bawa ke apartemennya? Dan apa yang dikatakan tetangga sebelah rumahku, benar? Aku sudah salah menitipkan istriku ke sahabatku sendiri? Apalagi Yoga tipe pria yang suka bermain wanita. Jika benar terjadi, aku tidak bisa biarkan semua ini berlarut-larut. Aku harus menemui mereka.' geram Indra dalam hati, kemudian dia berlari keluar rumah tanpa berpamitan membuat bibi yang melihatnya kebingungan.
Sedangkan di satu sisi. Tania merapikan penampilannya lagi dengan malas. Di lirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Kenapa Mas Yoga hobi sekali memaksaku." kesal Tania menghentakkan ke dua kakinya bergantian di depan meja riasnya. "Kenapa dia tidak meminta wanita lain untuk menemaninya ke kantor?" ujarnya lagi lalu mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
Tok ...
Tok ....
"Tan, apa kau sudah siap?" tanya Yoga dari luar kamar.
"Hem. Masuk saja, Mas! Aku sudah siap, hanya saja ... kaki ku terasa berat untuk melangkah!" jawab Tania sembari menopang dagunya dengan salah satu tangannya.
__ADS_1
Mendengar izin dari Tania, Yoga langsung membuka pintu kamar. Dia dapat melihat istri sahabatnya yang sedang bermalas-malasan di depan meja rias.
"Kamu sedang apa, Tan?" tanya Yoga berdiri di depan pintu kamar.
"Menurutmu, aku sedang apa, Mas?" tanya Tania mengambil ponselnya, "Aku malas, Mas. Bagaimana, kalau aku tidak usah ikut kamu ke kantor? Aku janji, aku tidak akan mencari pekerjaan. Aku akan duduk santai di apartemen ini." tawar Tania yang mendapat gelengan dari Yoga.
"Sudahlah. Kamu sudah siap, kan? Sekarang, ikut aku ke kantor. Kita sarapan pagi di kantor saja." titah Yoga berjalan beberapa langkah kemudian mengulurkan tangannya. "Ayo!" titahnya lagi.
Tania menggeleng, "Aku malas, Mas!"
"Ayo, Tan!" titahnya lagi.
Dengan perasaan kesal, Tania menerima uluran tangan pria di hadapannya, tak segan-segan, Tania meminta Yoga untuk membawa slingbag nya.
"Kamu bawa tas ku, Mas. Tanganku tidak ada tenaga," pinta Tania.
Yoga patuh, dia mengambil tas milik Tania. "Ayo! Jangan sampai kita telat!"
"Iya, iya, Mas! Make up ku sudah benar atau belum? Aku malu, jika blush-on ku tebal sebelah? Atau lipstik ku terlalu pucat?"
Yoga menatap wajah dan penampilan Tania sejenak. "Sudah. Semuanya sudah perfect! Kita pergi sekarang. Kamu mau sarapan apa? Biar aku suruh OB memesannya dulu." ajak Yoga menarik tangan Tania keluar kamar.
Sedangkan di satu sisi. Setelah mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Akhirnya, mobil yang di kendarai Indra sudah terparkir mulus di parkiran bawah tanah bangunan apartemen.
"Aku harus memastikan Tania ada di dalam atau tidak!" gumam Indra berlari masuk ke dalam lobby.
Tania dan Yoga keluar dari apartemen. Mereka berjalan menuju lift.
"Jujur aku malas, Mas. Kenapa harus aku, sih? Kenapa tidak wanita lain saja?" gerutu Tania setelah masuk ke dalam lift.
Yoga memencet tombol di dalam lift, dan pintu lift pun tertutup sempurna.
"Aku lebih nyaman saat bersamamu, Tan." jawab Yoga membuat Tania terdiam seketika.
'Nyaman?' batin Tania kebingungan.
__ADS_1