Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Senja merasa kecewa


__ADS_3

Saat diperjalanan menuju rumah Awan, keheningan menyelimuti mereka. Hanya terjadi tatapan-tatapan sinis yang tampak dari wajah Senja pada Awan. Tapi, Awan selalu bersabar untuk menyikapi hal tersebut ia sadar kalau dirinya memang bersalah dan tidak dapat diandalkan. Awan merasa dirinya tidak ada artinya lagi buat Senja gadis yang ia cintai itu tidak lagi memberi respon baik terhadapnya.


Awan membuang napas kasar sambil melirik ke arah Senja berharap Senja akan simpati dan mengerti apa yang ia rasakan saat itu yang berada dalam tekanan. Sontak Senja memalingkan wajahnya ke arah lain Awan pun pasrah menerima perlakuan itu.


"Maaf jika selama ini aku tidak bisa jadi yang terbaik buat kamu," ucap Awan memecah keheningan.


Senja bersikap dingin seolah tidak mendengar ucapan Awan.


"Sayang maafin aku," lirih Awan mengulangi kata maafnya. Ia ingin meraih tangan Senja buat minta maaf tapi Senja segera menarik tangannya dan berpaling darinya.


"Tidak ada yang perlu di maafkan, akulah yang salah terlalu berharap lebih padamu. Cepetan turun tuh rumah kamu sudah dekat!" ujar Senja mengalihkan pembicaraan.


"Pliss maafin aku. Aku tau kamu kecewa padaku aku harap suatu saat pasti kamu mengerti keadaanku," ujar Awan sedih.


"Sudahlah, jangan banyak bicara lagi. Niko buru-buru tuh mau lanjut pacaran sama pacarnya."


"Gak buru-buru kok Senja, selesaikan dulu masalah kalian," sambung Niko dengan tenang.


"Gak usah lama-lama ya! gerah nih," timpal Jasmine bersikap acuh.


Awan menatap Senja dengan tatapan seperti orang memohon tapi Senja selalu membalasnya dengan tatapan malasnya.


"Benar nih gak mau maafin?" ujar Awan lagi masih berharap kalau Senja tidak akan memaafkannya.


"Aku sudah capek Awan, tolong! jangan ganggu aku lagi setelah ini kita jalani kehidupan kita masing-masing."


Desiran darah mengalir di seluruh tubuh Awan hatinya telah teramat sakit bagai dihujani tombak yang tajam menghantam palung hatinya yang paling dalam setelah mendengar ucapan itu dari mulut Senja. Awan tampak sedih seakan ia tidak mengenali Senja lagi yang dulunya tidak begitu.


"Apaan sih kalian masalah sepele gitu saja udah menyerah. Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu Senja, kamu harus beri kesempatan pada Awan lagi aku yakin kok kalian masih saling mencintai?" ucap Niko tiba-tiba kaget mendengar pembicaraan mereka.


"Rasa cinta gak akan ada artinya Niko, kalau tidak di sertai perjuangkan keputusan Papaku sudah bulat ia ingin aku segera menikah. Mau tidak mau aku harus mengikuti kemauan mereka. Yang di cintai juga gak mau berjuang jadi buat apa lagi di pertahankan," ujar Senja bicara panjang lebar sebelum mengakhiri pembicaraan mereka karna sebentar lagi Awan akan segera sampai.


"Tidak Senja! jangan akhiri hubungan kalian aku tidak terima kalau Niko menikah dengan kamu!" sambung Jasmine yang memanas.


"Kamu jangan kuatir Jasmine, aku gak akan pernah mau menikah dengan Niko kok, aku juga tidak cinta sama dia buat apa menikah dengan orang yang gak kita sayangi itu akan membuat kita menderita," sahut Senja mencetus.

__ADS_1


"Jadi, kamu mau menikah dengan siapa?"


"Itu rahasia Tuhan aku sendiri juga tidak tau."


"Trus kalau Papamu nekat memaksa kamu dan Niko menikah bagaimana?"


"Berdoa saja Jasmine agar Papaku bisa merubah keputusannya. Sudahlah aku cepek bahas ini."


Senja menyuruh Awan segera turun Niko pun sudah menghentikan mobilnya. Awan keluar dari mobil sambil berkata, "Makasih untuk waktunya hari ini," ujar Awan mengakhiri pembicaraannya.


Senja tidak menghiraukan ucapan Awan. Tapi dalam hatinya menangis, seakan ia ingin memeluk Awan untuk yang terakhir kalinya.


Awan telah turun dari mobil menuju rumahnya langkah kakinya lemah ia berharap Senja akan memanggilnya kembali. Tapi sampai di depan rumahnya ia tidak mendengar suara Senja satu patah kata pun. Hanya Niko yang membuka jendela dan pamit padanya mau lanjut jalan.


Awan melambaikan tangannya ia pun masuk rumah dengan hati yang sedih.


"Awan, temanmu tidak mampir ya?" tanya Mama Andin yang berada di depan cermin sedang berias.


"Tidak Ma, dia buru-buru," jawab Awan acuh.


"Oh ya sudah, istirahat saja sana. Jangan lupa makan Mama sudah masak untuk mu," tampak Mama Andin sudah berpakaian rapi.


"Hari ini Mama mau jalan sama Jingga, apa kamu mau ikut?"


"Tidak Ma, baru aja sampai udah mau pergi lagi bikin capek saja," tolak Awan.


"Ya sudah tinggal di rumah saja. Jangan kemana-mana lagi, kalau Ayah pulang bilangin Mama jalan sama Jingga."


"Iya Ma."


Mama Andin menelpon Jingga memberitahu padanya kalau ia sudah siap pergi.


"Mama sama Jingga mau kemana sih?" tanya Awan sedikit penasaran.


"Mau jalan ke Mol dong, masa mau ke kebun. Apa kamu tidak liat Mama sudah berpakaian rapi begini?" Mama Andin tampak memamerkan keindahan tubuhnya dengan pakaian yang dikenakannya itu. Pakaian itu baru saja di belikan Jingga untuknya.

__ADS_1


Awan menarik napas dalam melihat perangai Mamanya yang mengalahkan anak muda cara berpakaiannya juga tidak mau kalah sama yang muda.


Seketika itu mobil tiba di halaman rumah mereka. Mama Andin bersemangat keluar.


"Itu pasti Jingga mau jemput Mama," ujar Mama Andin bahagia.


"Jingga? Jingga sudah punya mobil Ma?"


"Aduh Awan, kemana saja kamu kok gak tau kalau Jingga sudah punya mobil?"


"Mana aku tau, aku baru saja pulang dari rumah sakit."


"Makanya mata kamu buka lebar-lebar lihat Jingga yang sudah mapan itu, dia sudah siap untuk jadi istrimu kurang apa lagi dia cantik baik kaya lagi."


"Mama aku mencintai seseorang tidak melihat kekayaan kok tapi dari hatinya."


"Emang Jingga kurang baik apanya lagi sampai kamu tidak mau menerima dia sebagai pacar, kamu itu sudah dibutakan oleh cinta Senja anak sombong itu."


"Awan tidak mencintai Jingga Ma!"


"Cukup Awan, masalah cinta itu akan hadir setelah berjalannya waktu yang penting kamu sama Jingga dekat dulu seperti hubungan kalian di masa lalu. Mama yakin kok kamu bisa mencintai Jingga."


"Entahlah Ma, Awan masuk dulu capek banget."


Awan sengaja mengakhiri pembicaraan dengan mamanya karna ia melihat Jingga sudah mulai turun dari mobilnya.


"Wah Jingga kamu cantik banget ...," seru Mama Andin memuji.


"Tante juga cantik kok," ucapnya balas memuji.


"Tante mah sudah tua sudah berpengalaman cara berdandan. Tapi kamu gak kalah cantiknya lho dari Tante."


"Hehehe iya makasih Tante. Oya tadi sepertinya ada Bang Awan ya? apa dia mau ikut jalan sama kita?"


"Kamu saja yang ajak dia sana. mungkin dia tertarik kalau kamu yang ajak."

__ADS_1


"Ya udah Jingga masuk gak apa-apa ya Tan?"


"Masuk aja jangan sungkan, anggap rumah sendiri," ujar Mama Andin membiarkan Jingga nyamperin Awan di dalam.


__ADS_2