
Hari ini surat pengadilan keluar, Karine dan Fedro resmi bercerai. Walapun selama persidangan mereka tidak ada yang datang, tidak ada mediasi juga. Papa yang mengaturnya, Karine yang menerima surat itu dari Mbok Nem hanya bisa terduduk di lantai. Hilang sudah harapan untuk hidup bersama dengan Fedro, lebih baik mati dari pada harus melihat dia dengan wanita lain nantinya.
"Berhenti lah menangis Non, sudah terlalu banyak air mata yang Non keluarkan. Ini adalah jalan dari Tuan, jika suatu saat nanti kalian memang jodoh. Maka kalian pasti akan bertemu lagi!" Mbok Nem mengelus pundak Karine.
"Mbok....!!" Panggil Mama dari luar kamar.
"Iya Nyonya saya ada didalam" jawab Mbok Nem dan Mama pun langsung masuk kedalam kamar.
"Apa yang Mama mau lakukan? apa kalian sudah puas membuat aku menderita. Rasanya aku ingin mati saja" jawabnya sambil membuka laci meja rias.
"Apa yang kamu lakukan? jangan bodoh Karine" Papa masuk kedalam kamar.
Sepertinya dia harus menjalankan rencananya selanjutnya, agar Karine benar-benar melupakan Fedro. Papa masuk dan melihat Karine sedang memegang gunting, dia mengarahkan gunting itu ke lehernya.
"Mama mohon lepaskan gunting itu, Mama dan Papa sangat menyanyangi kamu!" ucap Mama berusaha mendekat.
"Jangan mendekat...!" teriak Karine sambil menatap tajam Mamanya.
"Dasar bodoh! kamu lihat ini. Fedro sudah bisa melupakan kamu, bahkan dia jalan dengan wanita lain" Papa melemparkan bebrapa foto kelantai.
"Apa maksud Papa, siapa perempuan ini?" tanya Mama sambil mengambil salah satu foto yang ada di dekat kakinya.
"Pacarnya mungkin, atau calon istrinya. Karine saja yang sangat bodoh, dia baik-baik saja tanpa kamu. Jadi sadarlah!" Sambung Papa dan Karine langsung menurunkan gunting itu.
Karine kembali menangis sambil duduk di lantai, Mama memeluk nya erat. Mbok Nem mundur bebrapa langkah, karena dia pikir tidak baik ikut campur dengan urusan ini.
"Tidak mungkin, kenapa dia bisa secepat itu melupakan aku" Karine terus menggelangkan kepalanya.
"Makanya kamu itu jangan mudah di bodohi, kamu percaya-percaya saja dengan kata manis nya" sahut Papa lagi sambil menatap kearah Karine.
__ADS_1
"Dari mana Papa dapat foto ini?" tanya Karine sambil mengambil foto- foto berhamburan.
Terlihat Fedro sedang menggandeng tangan seorang wanita, ada juga saat Fedro dan wanita itu makan di kafe. Masih banyak lagi foto lainya, Karine benar-benar percaya sekarang apa yang di katakan Papa benar.
"Tentu saja Papa menyuruh mata-mata untuk mengikutinya, cepat lepaskan gunting itu" jawab Papa dan Mama dengan sigap langsung melempar gunting itu.
"Mbok singkirkan semua benda tajam di kamar Karine!" perintah Papa dan Mbok Nem pun langsung mengambil gunting yang di lemaparkan Mama tadi, dia juga mencari yang lainya.
"Baik Tuan" jawab Mbok Nem.
"Benar kata Papa, kamu harus memikirkan hidup kamu sendiri. Lihat kamu mau bunuh diri lagi? apa yang ada dipikran kamu" tanya Mama membuat Karine semakin menangis.
"Mungkin dia ingin membuat orang tuanya menderita, kamu tau bagiamana kami menantikan kamu. Membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang sampai sebesar ini, tapi apa ini balas kamu pada Papa?" tanya Papa sambil mendekat kearah mereka.
"Maafkan aku...." lirih Karine dengan sedih.
"Berjanji lah pada Papa untuk hidup bahagia setelah ini, jangan pikirkan dia lagi. Cukup tata hidup kamu, masa depan kamu masih panjang. Raih cita-cita kamu dan Papa selalu mendukung kamu" Papa duduk disamping mereka dan memegang tangan Karine setelah Mama melepaskan pelukanya.
"Tega sekali kamu melakukan ini, begitu cepat kamu sudah mempunyai wanita lain. Bahkan aku saja belum melahirkan!" ucap Karine dalam hatinya.
"Akan aku buktikan aku mampu hidup tanpa kamu!" sambung Karine lagi sambil menggelapkan tanganya.
Karine pun melepaskan pelukanya dan Papa langsung menghapus air mata Karine, Papa juga terlihat sedih dan lelah. Mungkin dia juga selalu kepikiran masalah ini, Karine tersadar sekarang hanya kedua orang tuanya lah yang menyayanginya dengan tulus.
.
.
.
__ADS_1
Sedangkan di rumahnya Fedro sudah menerima surat cerai dari pengadilan, mungkin Papa yang mengirimnya lewat pos. Fedro hanya bisa terduduk sambil bersender di sopa ruang tamu, mereka resmi bercerai. Apa Karine bahagia sekarang pikir Fedro, Karine benar-benar egois menurutnya. Jika saja dia masih mau bertahan pasti Papa tidak akan memaksa mereka untuk bercerai, tapi apa yang dia lakukan. Dia menurut saja, lebih parah dia tidak mau hidup susah dan mau melajutkan S2 alasanya membuat Fedro benar-benar sakit.
"Tega sekali kamu! atau jangan bilang kamu juga tidak menginginkan anak kita" Fedro menghapus air matanya.
"Aku pastikan kamu tidak akan bertemu dengan anak kita, lihat saja" sambung Fedro.
Tidak lama kemudian Angga, Vio dan Amanda datang kerumah Angga. Angga sudah tau tentang perceraian ini, dia berniat ingin melihat kondisi Fedro. Kebetulan Vio dan Amanda juga ingin menjenguk Fedro, Amanda adalah adik Angga. Anak dari orang tua angkatnya, dia sekarang masih SMA dan sebantar lagi tamat. Amanda memang sering bertemu dengan Fedro akhir-akhir ini karena Fedro sering datang ke resto Mamanya, mereka cukup akrab walaupun jarak umur mereka jauh.
"Kenapa kamu murung begitu? apa kamu sudah makan?" tanya Angga saat Fedro membuka pintu.
"Sepetinya Kak Fedro habis menangis" ejek Amanda sambil menatap muka Fedro.
"Diam lah kamu bocil, bocil seperti kamu tidak akan mengerti" jawab Fedro sambil mengelap mukanya.
"Ayo masuk, kebetulan sekali kalian datang. Aku tadi mau masak tapi nggak jadi" sambung Angga mempersilahkan mereka masuk.
"Tenang saja, kami bawah makan untuk kamu" jawab Vio sambil berjalan menuju sopa ruang tamu.
"Apa kalian mau minum?" tanya Angga setelah mereka duduk.
"Boleh juga, biarkan kami yang buat. Kamu duduk lah bersama Kak Angga" jawab Amanda yang sudah berdiri.
"Ayo Mbak!" ajak Amanda pada Vio, Angga menahan istirnya.
"Mbak kamu lagi hamil besar, dia susah jalan. Kamu sendiran aja sana" suruh Angga dan Amanda pun langsung cemberut.
"Biarkan aku saja, kamu duduk lah. Lagian mana ada tamu buat minum sendiri" sambung Fedro dan Amanda pun langsung mengikuti Angga dari belakang.
"Kamu lihat mereka akrab sekali, padahal kamu Abangnya!" ledek Vio sambil menatap Angga.
__ADS_1
"Entah lah, mungkin Manda lebih suka punya Abang kayak Fedro. Padahal aku juga nggak kalah tampan kan, apa kekurangan aku coba?" jawab Angga dan Vio pun langsung tertawa.
Angga dan Vio saling tatap, mereka melihat kearah meja. Angga pun langsung mengambil kertas itu, mereka sama-sama melihat surat yang ada di atas meja, ternyata surat cerai. Vio sangat sedih, bagaimana pun Karine dan Fedro sangat baik dengan mereka. Tidak terduga juga kalau akhirnya akan seperti ini,