Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Bab 13


__ADS_3

"Kamu tenang saja. Masalah Indra itu masalah mudah. Dan orang tuamu jangan sampai tahu, kalau Indra sudah pernah menikah. Lagi pula mereka belum melakukan malam pertama dan itu artinya ... wanita yang bernama Tania itu tidak mungkin hamil anak Indra. Tante yang memastikan sendiri, Lis." jawab Ratu.


Lisa mengangguk patuh, 'Aktingku sangat luar biasa. Mana ada wanita yang menolak menikah dengan pria seperti Indra. Dia pria kaya raya dan tampan. Niatku hanya basa basi agar terlihat wanita baik dan polos di depan Tante Ratu bukan menolak,' batin Lisa.


"Kamu mau kan, membuat Indra jatuh hati padamu? Kalau kamu bersedia. Tante akan terus mendekatkan kamu dengan Indra. Dan Tante yakin ... perlahan tapi pasti, Indra akan mempunyai perasaan padamu. Dia akan menganggapmu sebagai kekasihnya dan melupakan Tania." ujar Ratu menggenggam tangan Lisa erat dengan tatapan memohon. "Tante hanya bisa bahagia saat melihat Indra bersamamu, bukan bersama wanita lain. Apalagi wanita miskin yang hanya memanfaatkan harta Indra untuk kesenangan sesaatnya, Lis. Tante ingin Indra bahagia." pintanya lagi.


'Dengan senang hati aku akan membuat Indra jatuh cinta padaku, karena aku membutuhkan hartanya untuk kesenanganku semata.' batin Lisa. "Tante, aku sudah melakukan dramaku di depan Indra yang mengaku sebagai kekasihnya. Masa aku menolak permintaan Tante. Jika aku menolak, seharusnya aku menolak sedari tadi atau kemarin." jawab Lisa membalas genggaman tangan Ratu, menyalurkan keyakinan atas ucapannya tadi.


"Tante suka dengan jawabanmu. Ya, sudah. Mulai saat ini, kamu bisa tinggal di rumah Tante, Tante tidak mau kamu menginap di apartemen atau rumah lainnya. Semua ini demi kamu dan Indra cepat bersatu." ucap Ratu.


"Itu ide yang bagus, Tan. Aku bisa setiap hari berdekatan dengan Indra." jawab Lisa dengan menarik ke dua sudut bibirnya. "Aku tidak percaya, Tante Ratu mau mendukungku sampai sejauh ini. Aku menyayangimu, Tan!" ucapnya lagi sambil menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Ratu.


Di dalam kamar yang berada di lantai satu. Tak henti-hentinya Indra menatap setiap sudut kamarnya dengan perasaan yang sulit di mengerti. Rasa aneh dan asing saat masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa rasanya asing, kenapa aku tidak merasa kalau ini kamarku? Seperti ada yang aneh. Di sini tidak ada foto atau benda kesukaan aku." lirih Indra setelah memindahkan tubuhnya ke kasur empuk. "Tania, kenapa aku teringat dengan wanita itu? Ada apa denganku? Apa karena ini efek dari penyakit ku? Tapi wajahnya yang polos, dan tangisnya seakan semuanya benar. Tapi kira-kira apa yang akan di lakukan wanita itu. Apa dia tahu rumahku? Dia bilang, akan selalu menjagaku secara diam-diam. Ponselku, mungkin di dalam ponselku ada beberapa bukti tentang wanita itu. Siapa tahu, di dalam ponselku, aku bisa tahu siapa Tania. Tapi aku tidak melihat ponselku sedari aku sadar. Apa ponselku hilang di tempat kecelakaan? Aku harus menanyakan ini ke ibu!" lirih Indra, "Aku tidak butuh kursi roda." sambungnya lagi sambil menggeser kursi roda tersebut.


Dengan langkah tertatih, Indra berjalan keluar kamar. Dan dia dapat melihat ke dua wanita yang sedang bersantai di ruang keluarga sambil menikmati acara di televisi.


"Lisa belum pulang?" tanya Indra membuat ke dua wanita itu menoleh pada sumber suara.


"Hei, Ndra. Di mana kursi rodamu?" tanya Ratu yang terkejut saat melihat putranya berdiri bersender di tembok yang kokoh.


"Iya, Ndra. Kursi rodamu di mana? Kamu ini belum sembuh total. Jangan terlalu banyak memaksa, sayang!" timpal Lisa yang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Indra.


"Lisa tidak akan pulang. Ibu sendiri yang memintanya untuk tinggal bersama kita, Ndra. Ibu takut, kalau ibu kewalahan menjagamu. Jadi, biarkan Lisa tinggal di sini bersama kita." timpal Ratu.


Indra menggelengkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Ratu. "Ibu. Aku tidak salah dengar? Lisa mau tinggal di sini? Itu tidak bisa, Bu. Aku tidak mau orang tuanya mencari keberadaan Lisa. Dan kita tidak ada hak untuk memaksanya tinggal satu rumah. Dia bukan istriku, tidak pantas wanita single menginap di rumah pria yang masih single juga. Ini bisa menimbulkan fitnah. Apa ibu mau semua tetangga di sekitar rumah kita menggosip kelakuan buruk ibu, Hem? Aku tidak mau namaku jelek." ketus Indra.

__ADS_1


"Dan kamu, Lisa. Walaupun kita sepasang kekasih, tapi kita belum menikah. Sebaiknya, kamu tinggal di apartemen atau rumah sewa. Atau begini saja, aku akan membantumu untuk mencari apartemen. Tapi aku butuh ponsel. Ibu tahu ponselku di mana?" tanyanya lagi.


Ratu mengedikkan bahunya. "Ibu tidak tahu, dan ibu tidak melihat ponselmu. Mungkin terjatuh saat kecelakaan itu. Atau, mungkin sudah ada orang yang memungut ponselmu. Biar ibu minta ayahmu untuk membelikan ponsel terbaru. Tapi untuk masalah Lisa, kamu tidak bisa membantah dan mengusirnya. Ibu sudah mendapat izin dari orang tua Lisa. Dia sudah mengizinkan Lisa tinggal di rumah ini untuk menjagamu. Kamu tidak perlu mendengarkan kata tetangga. Mereka tidak berani menghina atau menggosipkan kita." jawab Ratu.


"Iya, Ndra. Kamu tenang saja. Aku sudah mendapat izin dari orang tuaku. Justru mereka senang saat mendengar aku akan tinggal bersama orang tuamu di sini. Mereka bisa bekerja dengan tenang. Dan mereka mengucapkan banyak banyak terimakasih." ujar Lisa lagi yang berhasil tidak meyakinkan Indra.


"Tapi aku tidak setuju. Lebih baik, aku saja yang pergi dari rumah ini. Aku tidak mau ada tetangga yang memfitnah kita." ketus Indra.


"Tidak ada, Ndra. Kamu harus tahu, di sini bukan hanya ada kamu dan Lisa. Di sini ada Ayah, ibu dan beberapa asisten rumah tangga. Siapa yang akan menuduhmu. Sebaiknya, kamu masuk ke dalam kamar. Ibu tidak mau melihatmu terus memberontak. Kamu sedang sakit! Kamu mau pergi kemana!" kesal Ratu.


"Biar aku antar kamu ke kamar, Ndra!" titah Lisa.


"Kamu ke kamar saja. Aku tidak butuh bantuan siapapun." ketus Indra.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Ndra. Kamar kita bersebalahan. Jadi, aku bisa mengantarmu ke kamar. Dan setelah itu, aku akan berisitirahat di kamarku sendiri." titah Lisa lembut dengan senyuman yang tak pernah memudar. 'Tenang Lisa, ini tantangan untukmu. Kamu tidak boleh kalah dengan wanita miskin itu.' batin Lisa meraih pundak pria di hadapannya. "Biar aku bantu!" titahnya lagi.


Indra membiarkan wanita yang berstatus sebagai kekasihnya untuk membantu dirinya masuk ke dalam kamar.


__ADS_2