Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Awan dan Senja berjumpa


__ADS_3

Niko dan Senja sudah tiba di depan gerbang rumah Awan. Mama Andin melihat mobil Niko dari jauh ia segera memberitahu Awan kalau ada mobil Niko di depan. Dengan semangatnya Awan berlari pelan ke arah depan. Ia sudah tidak sabar lagi akan bertemu Senja.


Mudah-mudahan saja di dalam sana ada Senja, gumam Awan dengan wajah ceria.


"Awan ...!" teriak Niko sambil melambai tangan.


"Tunggu!" seru Awan ia mendekati Mobil Niko.


"Gak apa-apa kita aja mendekat kamu di situ saja!" teriak Niko sambil menghidupkan mesin mobilnya. Tapi Awan memberi isyarat agar Niko tidak mendekat sebab ia takut ketahuan Mamanya akan bertemu dengan Senja. Niko jadi bingung.


"Senja, Awan kenapa sih kita mau kerumahnya kok dia malah melarang kita masuk?" tanya Niko.


"Mungkin Mas Awan ada alasan lain Niko, gak apa-apa kita tunggu saja dia di sini."


"Okelah," jawab Niko singkat sambil mengerem tidak jadi masuk ke halaman rumah Awan.


Awan sudah mendekati mobil Niko ia meminta Niko membuka pintu mobil dan menjelaskan pada Niko jangan sampai Mamanya tau kalau ada Senja di dalam. Niko mengacungkan jempolnya tanda mengerti. Setelah itu Awan menyuruh Niko menunggu di mobil saja, sebab ia akan mengajak Niko dan Senja ke suatu tempat.


"Kalian tunggu di sini saja, aku mau pamit pada Mamaku dulu. Kita bicara di luar aja ya!" pinta Awan.


Niko mengacungkan jempolnya lagi Awan pun pergi meminta ijin pada Mamanya akan keluar sebentar dengan Niko.


"Awan! temanmu gak sopan banget sih malah berhenti di tepi jalan gitu gak mau masuk rumah kita?" cibir Mama Andin.


"Dia buru-buru Mam, kita mau pergi," ujar Awan memasang jaketnya.


"Kamu mau ikut? mau pergi kemana? kamu masih sakit lho Awan!" ujar Mama Andin keberatan.


"Iya Ma, Awan tau hanya sebentar saja kok, ada keperluan dari kampus. Awan harus ikut Niko!" ujar Awan beralasan.


"Ya sudah sana pergi. Jangan lama-lama ntar Ayah tau Mama diomelin."


"Iya Ma, Makasih sudah mengijinkan. Awan pergi dulu," ucap Awan sambil bersalaman dengan mamanya.


Setelah Awan berjalan beberapa langkah Mama Andin memanggil Awan.


"Awan ...! Tunggu!" teriak Mama Andin.


"Iya Ma?" Awan menoleh.


Mama Andin mendekati Awan ia berpesan pada Awan kalau ia tidak boleh bertemu siapapun diluar apalagi ketemu Senja. Wajah Awan berkerut ia tidak suka Mamanya sok mengaturnya begitu. Ia tidak menghiraukan Mamanya ia langsung pergi menuju mobil Niko.


"Awan ingat! jangan sampai kamu temui gadis itu lagi Mama gak suka kalau kamu berani bohongi Mama awas saja kamu Awan!" Mama Andin menggertak anaknya. Awan jadi pucat karna takut ketahuan. Tapi, ia akan terima resiko apapun yang akan di lakukan mamanya jika ketahuan. Ia pun akan tetap pergi menemui Senja walau sudah diperingatkan.


Awan sudah berada di dekat mobil Niko ia langsung masuk dan melirik Senja yang duduk di belakang sambil melayangkan senyuman termanisnya.

__ADS_1


Senja tampak malu ia hanya diam sambil menarik napas panjang. Akhirnya aku bisa melihat kamu kembali Mas, untung ada Niko, ucapnya dalam hati.


"Cie yang lagi LDR gimana gak enak kan? apalagi backstreetan gitu hahaha," ledek Niko.


"Apaan sih kamu Nik, kita gak LDRan kok cuma lagi gak sempat ketemu aja iya kan Sayang," Awan menoleh kearah Senja.


Mas Awan masih memanggil aku dengan sebutan sayang? itu artinya dia masih anggap aku pacarnya dong, batin Senja tersenyum sendiri.


"Hem, yang diajak ngobrol malah senyum-senyum sendiri tuh!" ujar Niko melirik Senja di kaca mobil.


"Niko sebaiknya aku duduk di belakang aja ya?" pinta Awan.


"Eh gak boleh gitu!"


"Kenapa?"


"Pamali! kalian kan belum muhrim."


"Apaan sih kamu Niko!" Awan cemberut sambil memukul pundak Niko.


"AW, sakit tau!" Awan menjerit.


"Udah kamu duduk di situ saja. Bdw ... kita mau kemana nih?" tanya Niko yang tidak tau arah yang akan dituju.


"Gak-gak ke kafe saja, biar bisa sambil makan!" ujar Niko menolak.


Gak ngerti banget si Niko, gak tau apa aku gak punya duit satu sen pun. Lagi sakit juga, mana ada duitnya, gerutu Awan.


"Udah kita di taman aja, biar adem," ucap Senja menimpali.


"A- benar itu Sayang, di tanam lebih adem banyak bunga-bunga lagi pasti suasana nyaman," sambung Awan terseyum.


"Hem bilang aja gak punya duit, dasar kere!" cibir Niko.


Awan menatap tajam ke arah Niko seperti harimau yang siap menerkam. Niko jadi ketakutan secepatnya ia mengalihkan perhatian Awan dan meminta maaf padanya.


"Maaf aku cuma bercanda kok jangan diambil hati," ucap Niko sungkan. Awan membuang muka.


"Kalian berdua lucu banget sih, yang satunya suka menggoda dan yang satunya suka marah-marah hihihi ..." ucap Senja sambil tertawa kecil.


"Teman aku ini emang orangnya rada-rada Sayang, jangan di ambil hati."


"Iya ambil jantungnya aja atau hatinya. Aku rela kok kalau itu untukmu Senja," goda Niko.


Awan semakin memerah terbakar api cemburu.

__ADS_1


"Ginjalmu ku ulek-ulek sini! Hatinya mah aku punya gak ada yang bisa milikinya selain aku iya kan Sayang," ucap Awan sambil melototi Niko.


"Udah-udah berantemnya kalian seperti anak kecil saja," ucap Senja melerai.


Awan melayangkan pandangan kearah Senja sambil tersenyum semanis mungkin. Sedangkan Niko menjulurkan lidahnya ke arah Senja. Senja jadi terkekeh tertawa.


Suasana hening terjadi sejenak Awan dan Senja saling mencuri pandang sepertinya mereka masuk di dunia hayalan mereka berdua hanya mereka yang tau apa yang mereka rasakan saat itu. Niko konsentrasi mengemudi. Di persimpangan jalan ia menghentikan mobilnya.


"Kita sudah sampai, kalian turun di sini saja ya!" ujar Niko.


"Kamu gak ikut turun?" tanya Awan.


"Buat apa? aku gak mau jadi Obat nyamuk kalian berdua, lebih baik aku kerumah Jasmin sudah pasti aku dapat ciuman darinya. Hehehe ...," ucap Niko sambil tertawa ia pun langsung ngebut meninggalkan Awan dan Senja yang sudah turun.


"Yah Niko langsung pergi aja dia," ujar Awan memandangi punggung mobil Niko yang sudah menjauh.


"Emang ada apa?" tanya Senja.


"Aku lupa lupa bilang minta jemput lagi di sini."


"Dia gak mungkin lupa kok, ayo kita masuk ke tanam," ajak Senja.


Awan meraih tangan Senja seketika Senja terdiam namun pasrah tangannya sudah berada dalam genggaman Awan.


"Akhirnya kita bisa bersama, aku bahagia Sayang," ucap Awan sambil memegang erat tangan Senja.


Senja terseyum, "Aku juga bahagia tapi aku... sedikit kuatir Mas."


"Kuatirin apa?" tanya Awan.


Senja melepaskan tangannya dari genggaman Awan, ia pergi ke sebuah kursi yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Awan pun menyusul Senja duduk di sampingnya dengan tatapan tajam ke arah Senja ia bertanya hal apa yang dikuatirkan Senja.


Senja bercerita kalau Papanya serius akan menikahkan dia dengan Niko. Awan menarik napas panjang ia menatap sedih ke arah Senja sambil mendengarkan Senja bercerita.


"Kamu kok diam saja Mas? Apa kamu rela aku menikah dengan Niko?"


"Mau gimana lagi, kalau itu sudah keputusan Papamu."


"Jadi Mas Awan tidak mau berjuang bagaimana caranya menggagalkan rencana Papa?" Senja memanas.


"Bukan aku tidak mau berjuang tapi ...," Awan terdiam tidak tau mau bicara apa.


"Dari awal sudah kutebak cinta Mas ke aku cuma sedalam kolam renang, sangat dangkal dan terbatas aku kecewa padamu Mas. Melihatmu seperti ini aku semakin yakin kalau apa yang dikatakan Jingga itu benar," ujar Senja kesal.


Awan meraih tangan Senja tapi Senja menepisnya ia pun menjauhi Awan. Awan mencoba menjelaskan kalau ia tidak sanggup melawan kehendak orang tua Senja yang terlanjur sudah menjodohkannya dengan Niko.

__ADS_1


__ADS_2