
Senja berlari ke kamarnya ia merasa kesal dan dongkol pada Mamanya karena mau ikut dengannya keluar, padahal ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Awan. Namun, selalu saja ada halangan nya seakan Tuhan tidak menginjinkan ia untuk bertemu kembali dengan Awan untuk bersua seperti dulu.
"Ya Tuhan, apa Mas Awan bukan jodohku? tapi kenapa Engkau menciptakan rasa cintaku yang amat besar padanya Tuhan? Jika Awan bukan jodohku hilangkanlah rasa cintaku padanya Tuhan, sebab aku tersiksa karna itu. Tapi, jika Mas Awan jodohku tolong! satukanlah kami dan buat Papa dan Mama merestui kami," lirihnya berdoa sambil menitiskan air mata.
"Mas Awan ... telpon Senja sekarang plis...! suara serak terdengar begitu menyedihkan. Di saat tengah memerangi pikiran susahnya, tiba-tiba ponsel Senja berbunyi. Dengan semangatnya Ia langsung meraih ponselnya dan melihat panggilan itu tanpa nama.
"Nomor siapa kah ini? apa mungkin Mas Awan sudah ganti nomor?" Senja ragu untuk mengangkatnya.
Ponsel terus berdering hingga ia pun penasaran siapa penelpon itu akhirnya ia pun mengangkatnya.
"Halo?" ucapnya.
"Apa benar ini nomor Senja?" tanya penelpon perempuan itu.
"Iya benar, saya Senja ini dengan siapa ya?" balik Senja yang bertanya.
"Perkenalkan saya Jingga, pacar barunya Bang Awan," ucap Jingga sengaja memanas-manasi Senja.
Desiran darah Senja mengalir deras, sontak ia kaget. dan terdiam dengan linangan air mata di pipi.
"Jingga? kalian sudah ..." ucap Senja tak kuasa meneruskan kata-katanya, hatinya Bey sesak mendengar pengakuan perempuan itu.
__ADS_1
"Iya saya sudah sah jadi pacarnya bangy Awan kenapa kaget ya? hihihi," ledek Jingga sambil tertawa.
"Kok kaget gitu si? bukannya Awan sudah putuskan kamu? jadi wajar dong kalau dia sudah punya pacar baru?" ucap Jingga menambahkan semakin membuat hati Senja panas.
Senja langsung mematikan ponselnya dan menangis pilu. Jingga berhasil membuat Senja sakit hati ia pun tertawa penuh dengan kemenangan.
"Mas Awan apa semua itu benar?" lirih Senja sambil menagis. Ia tidak sanggup menahan sakit hatinya lagi ia pun jatuh terkulai di lantai meratapi nasibnya.
Seketika itu pula Ponselnya berbunyi lagi, tapi Senja tidak menghiraukannya ia membiarkan ponselnya terus berbunyi karna ia tau pasti itu Jingga yang sengaja menerornya lagi. Padahal itu bukan dari Jingga, tapi dari Niko yang akan mengajaknya keluar malam itu untuk menjenguk Awan.
Di tempat lain, Awan merasa kesepian di rumah tanpa ada ponsel yang menemani hari-harinya selama dua hari setelah pulang dari rumah sakit. Sepanjang hari ia habiskan untuk tidur dan rebahan saja. Mama Andin berkali-kali menyuruhnya untuk makan. Namun, Awan tidak menghiraukan Mamanya ia sibuk dengan pikirannya sendiri yang sedang meratapi nasib malangnya. Cinta yang diharapkannya dari sang pujaan hati kini mulai kandas di ambang kehancuran. Awan terpuruk dalam kesedihan.
"Awan apa kamu tidak merasa lapar? ini sudah menjelang malam lho, tapi kamu belum makan juga. Ada apa dengan kamu? apa luka nya masih sakit?" tanya Mama Andin pada anaknya.
"Ayah mu lagi ke tempat Nenek mu, maaf Mama lupa kasi tau kalau dia lagi pulang kampung untuk beberapa hari," jelas Mama Andin memberitahu.
"Ada keperluan apa Ayah kesana Ma?"
"Mama juga tidak tau pasti, ada hal penting yang harus dibicarakan dengan Kakek mu katanya."
"Tentang apa sih Ma?"
__ADS_1
"Mama juga gak tau Awan, nanti saja tanyanya tunggu dia pulang."
"Hem Mama selalu begitu," cetus Awan kesal.
"Emang Mama tidak tau kok, ada perlu apa kamu sama ayahmu?"
"Awan mau ambil ponsel Awan Ma."
"Sepenting apa sih ponselmu itu? sampai-sampai kamu mogok makan begini?" ucap Mama Andin geram.
"Awan mau hubungi Senja Ma, Awan kangen sama Senja," ucap Awan melirih.
Wajah Mama Andin berkerut tidak suka mendengar Awan menyebut nama Senja.
"Mama kenapa sih sepertinya tidak suka aku tanya Senja?"
"Iya Mama tidak suka!"
"Tapi kenapa Ma? apa salah Senja?"
"Buat apa lagi perempuan seperti itu Awan? dia sudah tidak peduli dengan kamu lagi. Lupakan saja dia!" pinta Mama Andin.
__ADS_1
Awan terdiam ia menarik nafas panjangnya. tidak menyangka kalau mamanya bisa berubah begitu cepat. Padahal awalnya ia selalu baik pada Senja.
Mama kok bisa jadi benci sama Senja? padahal awalnya kan dia baik banget sama Senja apa mungkin karena ada Jingga sekarang ada di sini? atau ada hal lain yang membuatnya berubah? batin Awan bertanya dalam hatinya.