Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Awan semakin pusing menghadapi kedua orang tuanya


__ADS_3

Sesampainya di rumah Jingga pamit langsung pulang karena Mama nya sudah menelepon menyuruhnya untuk segera pulang. Jingga merasa panik Mamanya menyuruhnya belanja alat dapur ia melupakan hal itu karna uang mamanya sudah habis untuk belanja baju Mama Andin.


Aduh bagaimana ini, uang Mama sudah habis aku harus bilang apa sama Mama? batin Jingga kalang-kabut merasa bersalah.


Setelah sampai di rumah, Jingga langsung masuk ke dalam rumah. Mamanya yang sudah lama menunggu bernapas lega melihat sang anak sudah pulang dengan selamat. "Jingga mana belanjaan yang Mama pesan?" tanyanya.


"A- Jing-ga gak jadi beli Ma," ucapnya terbata-bata karena merasa ketakutan mamanya akan marah besar padanya.


"Lho kenapa gak jadi beli, Mama mau masak apa hari ini. Mana uangnya? biar Mama yang beli. Dasar anak malas, gak bisa di harap kamu!" omel Mama Asih.


"Maafkan Jingga Ma, Jingga kehilangan uang itu hu-hu-hu-u-u ...," Jingga tiba-tiba pura-pura menangis.


"Apa! kenapa bisa hilang?" Mama Asih melotot histeris.


"Jingga juga gak tau Ma, awalnya uang itu Jingga simpan di Dompet. Tapi, saat Jingga mau belanja uang tersebut sudah gak ada di dompet Jingga Ma," ucapnya sambil mewek memainkan sandiwara.


"Masa sih bisa hilang! apa kamu mau bohongi Mama ya?" ucap Mama Asih curiga Jingga tidak berkata jujur.


"Gak bohong Ma, benaran ... uang nya sudah hilang. Jingga pasti ganti kok Ma, kalau sudah gajian. Plis ... jangan marah ya Ma..." pinta Jingga memohon.

__ADS_1


"Ini bukan masalah marah atau diganti Jingga, tapi ini masalah perut kita. Jika gak ada duit itu bagaimana kita makan. Kamu tau kan kalau itu uang terakhir Mama untuk belanja satu minggu ini," ucap Mama Asih kecewa.


"Maafkan Jingga Ma, Jingga teledor. Jingga janji akan cari tambahan untuk belanja kita selama seminggu ini," ucapnya.


"Baguslah kalau gitu, kalau kamu mau berusaha. Mama tidak mau tau kamu harus belanja sampai ?minggu depan," ujar Mama Asih tegas.


"Baik Ma," ucap Jingga tampak sedih.


Mama Asih pergi ke dapur bingung mau makan apa sementara bahan makanan mereka sudah habis semua.


"Bocah tengil, kurang ajar! buat susah saja. Duit dari mana mau beli beras sama lauk," ucap Mama Asih merasa geram.


Sedangkan Jingga masih terpaku di tempat duduknya ia juga kebingungan mau cari uang kemana buat ganti uang mamanya.


"Kenapa juga aku pake acara ke Mol segala, kan gini jadinya uang Mama habis buat belanja Tante Andin. Aku berharap akan jalan sama Bang Awan eh dapatnya Mak nya yang jelalatan," sungut Jingga menyesalinya perbuatannya yang diluar ekspektasi.


Di tempat lain, saat itu Mama Andin sibuk mencoba baju-baju yang barusan Jingga belikan untuknya. Ia berputar-putar di depan cermin sambil mengenakan baju-baju tersebut secara bergantian.


Awan yang baru saja melewati kamar mamanya menghentikan langkahnya ia terdiam sejenak memperhatikan Mamanya di kejauhan ia pun berseru karena penasaran. "Ma, dari mana dapat baju-baju baru itu?" tanyanya.

__ADS_1


Mama Andin menoleh kaget ia pun berkata, "Tentu saja dari Mol, kenapa kamu kepo siapa yang belikan untuk Mama?"


Awan diam saja, hanya bisa menghela napas panjang dan geleng kepala kenapa mamanya jadi seperti itu.


"Jingga yang membelinya buat Mama. Bagaimana pendapat kamu apa baju-baju cocok dengan Mama?" Mama Andin memperlihatkan semua baju pada Awan.j


"Hem, gak tau Ma. Awan gak bisa komen."


"Kamu iri ya? Mama di belikan baju-baju baru ini? kok gitu jawabannya."


"Gak iri kok Ma, justru Awan kasian sama Mama kok mau-maunya di belikan baju oleh Jingga. Buat malu saja!" cetus Awan tidak suka.


"Anak kurang ajar! malah ngatain orang tua, Iri bilang ... siapa suruh tadi tidak mau ikut!" cetus Mama Andin sambil melempar Awan dengan lipstik.


Awan bergegas pergi ia semakin jengkel pada Mamanya kenapa selalu merugikan Jingga.


"Mama tidak tau kalau Jingga tidak tulus orangnya pasti ada maunya. Sepetinya Mama sudah masuk jeratan Jingga, aku harus bagaimana? aku tidak mau jadi korbannya. Mama sangat lemah mudah saja terperdaya oleh Jingga," ujar Awan jadi kuatir.


Awan berusaha mencari cara bagaimana ia bisa menjauhkan Mamanya dari Jingga ia berpikir keras saat itu. Sementara Ayah Awan masih berharap Senja jadi menantunya. Awan merasa pusing memikirkan kedua orang tuanya yang berulah menyuruhnya untuk segera menikah itu.

__ADS_1


Saat itu juga, ia mendapat chat dari Ayahnya kalau sore nanti, Ayahnya mengajaknya untuk mendatangi rumah Pak Agung untuk menagih janji yang selama itu membuatnya berharap. Pak Alam menyuruh Awan untuk siap-siap setelah pulang narik mereka akan berangkat ke rumah Pak Agung.


Awan semakin pusing ia mengacak-acak rambutnya dan menarik rambutnya sendiri karna geram harus bicara apalagi pada Ayahnya kalau hubungan dengan Senja sudah berakhir dan Senja sudah di jodohkan dengan pria lain.


__ADS_2