
Belum ada kemajuan apa pun, hingga saat ini Fedro masih menganggur. Karine menyarankan untuk membuka kafe saja nunggu sambil Fedro mendapatkan pekerjaan, Fedro pun menyetujui itu. Dia akan mencari lokasi yang cocok untuk membangun kafe, kebetulan untuk resep makanan yang akan di jual nanti di dapatkan dari Mama Angga karena dia juga punya beberapa restoran.
Angga dan Fedro sedang dalam perjalanan menuju salah satu lokasi yang menurut Angga cocok untuk membangun kafe, dia mengetahui info lokasi ini dari teman lamanya.
"Apa kamu yakin akan membangun kafe? itu butuh biaya yang cukup besar" tanya Angga saat di perjalanann Angga masih fokus menyetir mobilnya.
"Mau gimana lagi, nggak mungkin juga aku menganggur terus. Aku yakin ini adalah kerjaan Papa pasti dia memberitahu semua perusahan untuk tidak menerima aku" jawab Fedro sambil menghembuskan nafasnya.
"Aku yakin ini pasti berat untuk kamu, bagimana jika kamu buka perusahan sendiri. Aku yakin kamu bisa, pengalaman kamu tidak perlu di ragukan lagi Bos" sambung Angga.
"Iya itu memang ide yang bagus, aku juga sudah merencanakanya. Tapi membuka perusahan butuh dana yang besar Bro" jawab Fedro sambil tersenyum.
"Jangan panggil aku Bos, panggil Bro saja bukan kah kita berteman sekarang?" tanya Fedro.
"Iya tapi aku masih risih saja, rasanya aneh memanggil Bos dengan nama" Angga menggaruk kepalanya.
"Aku dengar dari Karine istri kamu juga sedang mengandung, selamat ya. Gercep juga kamu!" Fedro memberikan selamat pada Angga atas kehamilan Vio.
Karine memang sudah beberapa kali bertemu dengan Vio, mereka juga semakin akrab dan sering chatan. Karine juga tidak menyangkan kalau Vio orang nya asik juga, kalau dulu saat melihat Vio ingin sekali marah karena wanita itu sangat sombong dan sok-sokan.
"Iya selamat juga untuk kalian, aku juga baru tau kalau Karine juga hamil. Kamu juga nggak kalah gercep" jawab Angga sambil tertawa.
"Iya mungkin anak kita akan seumuran nanti" sambung Fedro.
"Kamu udah enak sekali, orang tua kalian mendukung. Kamu punya segalanya untuk membahagiakan Vio, sedangkan aku. Aku tidak yakin Karine masih mau berjuang dengan laki-laki miskin seperti aku" ucap Fedro mengungkapan kegelisaanya.
"Saya yakin Non Karine tulus, dia sangat mencintai kamu. Mana mungkin dia meninggalkan kamu, jangan berpikir terlalu jauh" jawab Angga berusaha membuat Fedro tenang.
"Semoga saja yang kamu katakan benar, aku hanya takut Papa berbuat nekad untuk memisahkan kami" Fedro terlihat menghembuskan nafasnya.
"Tenang saja aku siap membantu kamu dalam masalah apa pun, apa perlu aku bilang dengan Papa kalau kamu mau buka perusahan. Siapa tau dia mau menyuntikkan dana?" tanya Angga yang membuat Fedro terkejut, sungguh baik Angga pada nya padahal saat bekerja dulu dia sering membentak anak ini.
__ADS_1
"Tidak usah kamu ini terlalu baik pada orang Angga, bagaimana jika aku menipu kamu?" Fedro balik bertanya pada Angga.
"Hahaha...Aku peercaya dengan kamu. Sudah berapa tahun aku bekerja, hanya aku yang paling mengenal kamu" Angga tersenyum sambil melihat kearah Fedro.
"Benar juga kamu asisten sekaligus teman bagi ku, tentu saja kamu paling mengerti aku!" jawab Fedro membenarkan kata Angga.
"Aku penasaran kenapa kamu merantau jauh-jauh hanya untuk bekerja jadi asisiten? padahal orang tua kamu bos kaya raya?" sambung Fedro bertanya pada Angga.
"Tidak ada hanya ingin mencari pengalaman saja, lagian sebelum Abang ku menikah kemarin dia yang memimpin perusahan. Aku juga nggak yakin dia menyukai aku sebagai adiknya, lihat kemarin aku menikah saja dia tidak pulang" jelas Angga kenapa dia lebih memilih mencari pekerjaan di luar ketimbang kerja di perusahan Papanya.
"Tapi aku lihat Mama dan Papa kamu sangat menyayngi kamu, kamu beruntung Bro. Tidak seperti aku" sambung Fedro mengingat nasip dirinya.
"Benar juga, apa kamu tidak berusaha mencari mereka?" Angga mala balik bertanya.
"Sudah pernah tapi hasilnya nihil, mungkin aku memang tidak di inginkan jadi aku sudah menyerah mencari mereka" jawab Fedro, baru kali ini Fedro curhat panjang lebar dengan orang lain.
"Sudah lah jangan bahas ini lagi, bukan kah sebentar lagi kita sampai?" tanya Fedro mengalihkan pembicaraan.
"Iya Kafenya dekat dengan pasar, tempat rukonya juga strategis aku sudah melihat beberapa foto yang di kirim teman ku" jawab Angga sambil menganggukan kepalanya.
Benar saja tidak lama kemudian mereka sudah sampai di lokasi, pemilik ruko itu juga sudah menunggu disana karena memang mereka sudah janjian.
Setelah melihat lokasi dan kondisi rukonya Fedro setuju, dia langsung membelinya. Tabunganya benar-benar terkuras, belum lagi untuk perbaikan bangunan dan juga perabotan kafenya nanti. Memulai dari nol, benar-benar tidak mudah. Apa lagi kini ijazah nya tidak berguna karena hampir semua perusahan tidak mau menerimanya, sungguh malang nasipnya.
Angga pulang setelah mengantar Fedro pulang, katanya dia juga masih ada urusan. Fedro tau bagaimana sibuknya bekerja di perusahan, dia pun sangat berterima kasih dengan Angga.
"Sayang aku pulang!!" panggil Fedro mencari keberadaan istirnya.
"Sayang...!" panggil Fedro lagi tapi tidak ada sahutan sama sekali.
"Kemana dia?" tanya Fedro sambil mencari istrinya ke beberapa ruangan.
__ADS_1
Fedro akhinya duduk di sopa sambil mengeluarkan ponselnya, dia menghubungi istrinya. Tapi saat dia menelpon bunyi ponselnya ada di kamar, buru-buru Fedro berjalan kearah kamar. Fedro membuka kamarnya dan tidak ada siapa-siapa, Fedro pun mengambil ponsel Karine.
"Kemana dia,apa dia keluar? tapi kenapa nggak bawak ponsel dan dompetnya juga ada disini" Fedro melihat kearah kamar mandi.
Belum sempat dia membuka kamar mandi, Karine memanggil Fedro. Fedro pun sangat terkejut, bisa-bisanya Karine datang tiba-tiba.
"Sayang...!!" teriak Karine sambil melihat Fedro yang hendak membuka pintu kamar mandi.
"Ya ampun sayang, bikin kaget aja!" kesal Fedro sambil mengelus dadanya karena terkejut.
"Kenapa? aku kan cuma manggil" jawab Karine santai.
"Dari mana kamu? aku cari kamu kemana-mana" tanya Fedro berjalan mendekat kearah Karine.
"Oh aku dari rumah tetangga sebelah, minta ini" Karine menunjukan dua tundun buah mangga mentah, benar-benar kelakuan istrinya pikir Fedro. Dia saja jarang berbicara dengan tetanggs sebelah, Karine dengan mudah meminta mangga.
"Tetangga yang mana? kamu kenal mereka?" tanya Fedro heran.
"Tentu saja aku kenal, di samping itu rumah bu Lensi dan yang di depan rumah bu Nemi. Kami sudah berkenalan kemarin dan mangga ini aku minta di depan rumah bu Lensi, suaminya yang memgambilkan mereka baik sekali!" jawab Karine lalu berjalan kearah dapur.
"Benarkah? aku saja tidak kenal dengan mereka" sambung Fedro sambil mengikuti Karine dari belakang.
"Iya mereka bilang kamu memang jarang kesini, rumah ini lebih sering tertinggal. Besok-besok kamu juga harus menyapa mereka, kita tidak punya keluarga disini jadi lebih baik kalau berteman dengan tetangga" jawab Karina sambil duduk di meja makan.
"Baiklah sayang, kamu lebih dewasa sekarang. Mau kamu apakan buah mangga muda itu?" tanya Fedro duduk disamping Karine.
"Mau aku buat rujak, apa kamu mau?" tanya Karine dan Fedro pun langsung memggelangkan kepalanya.
"Bagiamana dengan tempatnya? apa bagus?" tanya Karine sambil mengupas buah mangga itu.
"Sudah dan aku setuju, jadi sudah aku bayar lunas. Besok mau cari tukang untuk memperbaiki bangunannya" jawab Fedro sambil memakan biskuit yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Bagus lah, semoga lancar sampai selesai. Oh iya bagaimana kalau kita beli mobil agar kamu lancar pergi kemana pun!" sambung Karine agar mereka juga tidak selalu merepotkan Angga.
"Iya akan aku pikirkan setelah menghitung jumlah untuk biaya kafe" jawab Fedro sambil memganggukan kepalanya.