
"Kamu sudah membohongiku? Ingat, tidak? Kamu membangunkan aku pagi hari, dan kamu memintaku untuk bersiap-siap cepat. Kamu mengacak-acakan rambutku dan sekarang, kamu bilang ... kalau kamu tidak ada meeting penting. Dasar laki-laki tukang bohong!" pekiknya lagi sembari memukul lengan Yoga berulang kali.
"Aw ... aw ... sakit, Tania! Jangan pukul aku. Kalau pakaianku kusut, bagaimana?" ujar Yoga melindungi lengannya dari serangan Tania.
"Biar saja. Aku tidak perduli! Mau pakaianmu kusut atau robek, aku tidak perduli! Kamu sudah membohongiku, Mas Yoga! Kamu sudah mengganggu tidur nyenyakku! Sungguh keterlaluan!" pekik Tania.
"Iya, aku minta maaf. Jangan marah padaku," lirih Yoga menepikan mobilnya.
"Kenapa berhenti? Kamu pikir, aku akan turun seperti wanita-wanita pada umumnya, jika marah langsung turun dari mobil?" ketus Tania yang mendapat gelengan kecil dari pria di hadapannya.
"Tania, Tania. Kenapa pikiranmu selalu berbanding terbalik dengan pikiranku, Hem? Siapa yang berpikiran kalau kamu mau turun dari mobilku. Aku hanya ingin memastikan lenganku baik-baik saja. Lihat, lenganku bengkak karena pukulanmu," ujar Yoga melepas seatbelt nya dan membuka kancing kemejanya bagian atas.
Melihat tindakan Yoga, Tania langsung membuang wajahnya ke pinggir jalan.
"Apa yang kamu lakukan, Mas? Jangan bilang, kamu mau buka kemeja itu!" tanya Tania.
"Iya, aku mau membuka kemeja ini, dan aku mau melihat lukaku yang disebabkan olehmu." jawab Yoga.
"Jangan gila, aku tidak mau di tuduh aneh-aneh oleh orang lain. Cepat jalankan mobilnya. Dan turunkan aku di depan kantormu!" titahnya lagi.
Sedangkan di sisi lain, Indra menautkan ke dua alisnya saat melihat mobil yang ditumpangi istrinya menepi di pinggir jalan.
"Apa yang di lakukan mereka? Kenapa mobilnya berhenti di pinggir jalan?" gumam Indra yang baru saja menepikan mobilnya dengan memberi sedikit jarak dari mobil Yoga.
Tok ...
Tok ....
"Tisu, tisu, pak, bu!" titah seorang anak kecil yang baru saja mengetuk kaca pintu mobil Indra, "Tissue, Pak!" sambungnya lagi.
Indra membuka kaca mobilnya, "Satu tissue berapa, dek?" tanya Indra sembari menatap iba gadis kecil yang tak terawat.
"5 ribu saja, Pak!" jawab gadis kecil tersebut.
__ADS_1
"Saya beli satu, tapi saya ada kerjaan untukmu. Jika kamu bersedia, saya akan berikan uang dalam jumlah banyak." titah Indra.
"Apa pekerjaannya, Pak? Asalkan pekerjaan itu halal, aku mau, tapi jangan jual aku!" tanya gadis kecil.
"Haha ... gadis kecil yang cantik. Saya tidak akan menjualmu. Saya bukan orang jahat. Saya hanya ingin, kamu ketuk kaca pintu mobil di depan sana yang sedang berhenti dan jangan lupa tawarkan daganganmu. lalu, kamu lihat ... mereka sedang melakukan apa? Kemudian kamu beritahu saya." ucap Indra, "Bagaimana?"
"Baik, Pak. Aku terima. Bapak tunggu di sini," titah gadis kecil itu, kemudian berjalan menuju mobil Yoga.
"Aku mau tahu, kegiatan apa saja yang di lakukan mereka di dalam mobil!" gumam Indra menatap punggung gadis kecil yang sedang berjalan memunggunginya.
Di satu sisi, Yoga tersenyum tipis saat melihat tingkah laku wanita di sampingnya yang begitu menggemaskan.
"Kalau kamu tetap buka baju di dalam mobil. Lebih baik, aku turun, Mas!" ancam Tania.
"Jangan dong, siapa bilang aku buka baju? Lagi pula, seorang laki-laki wajar-wajar saja, kalau buka baju, kan?" ujar Yoga mengancingkan kemejanya lagi, "Lihat, aku hanya memastikan saja!"
Tania mengintip sedikit ke arah sahabat suaminya.
"Tidak perlu mengintip," titah Yoga.
"Aku sudah selesai, kan?" Dan ternyata lenganku lebam karena pukulanmu," ujar Yoga mengusap lengannya lembut.
"Lebam?" tanya Tania memastikan, dengan reflek tangannya mengusap lengan Yoga, "Kamu bercanda kan, Mas? Kamu lagi nge prank aku, kan?" sambungnya lagi.
"Untuk apa aku nge prank kamu, Tan. Tidak ada gunanya, nge prank wanita liar sepertimu. Lenganku benar-benar lebam!"
"Coba aku lihat!" titah Tania membuat Yoga memicingkan mata dan menggerutu kesal.
"Jangan. Aku tidak mau di tuduh me sum di tempat umum! Apalagi, aku sedang membawa istri sahabatku sendiri. Bisa-bisa, aku dituduh menusuk sahabatku dari belakang." ketus Yoga.
"Terus apa yang baru kamu lakukan, hem? Bukankah, kamu baru saja membuka bajumu? Bagaimana kalau orang lain tahu? Gulung lengan kemejamu. Biar aku obati. Kebetulan aku bawa salep meredakan nyeri!" titah Tania yang mendapat gelengan kecil dari Yoga.
"Aku tidak mau, Tania!"
__ADS_1
"Harus mau, Mas! Kamu mau, aku dituduh melakukan kekerasaan? Kamu mau aku di penjara?" kesal Tania menarik tangan Yoga. "Sekarang, tugasmu hanya diam. Biar aku yang menangani lukamu!" sambungnya lagi.
"Hem, kalau Indra tahu, istrinya ganas dengan pria lain. Aku pastikan, Indra akan ilfil denganmu, Tan!" ucap Yoga melihat lengan kemejanya.
"Aku bukan ganas, aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat. Lagi pula, pukulanku tidak terlalu keras, kenapa bisa lebam? Atau jangan-jangan semalam kamu ke apartemen sebelah tanpa sepengetahuan aku. Dan kamu bermain cantik dengan wanitamu sampai tanganmu lebam. Iya, kan?" tuduh Tania.
"Enak saja, aku tidak mu--" ucapan Yoga terhenti saat mendengar ketukan dari kaca pintu mobilnya.
Tok ...
Tok ....
"Tissue, Pak, Bu!" lirih gadis kecil yang sedang menawarkan dagangannya.
"Mas, tolong kamu beli tissue anak kecil itu, aku kasihan melihatnya. Kamu bisa pakai uangku!" titah Tania.
"Tidak perlu, biar pakai uangku saja, Tan. Kamu obati luka ku, saja!" titah Yoga membuka kaca jendela mobil dan melihat gadis kecil yang sedang membawa tissue dagangannya.
"Satu tissue berapa?" tanya Yoga.
"5 ribu, pak!" jawab gadis kecil dengan pandangan yang tak lepas dari Tania.
"Aku beli 2!" titah Yoga memberikan uang pecahan seratus ribu. "Ini uangnya, dan kembaliannya untukmu saja." sambungnya lagi. "Aw ... Tania yang benar saja! Kamu apakan lenganku!" ucap Yoga setelah memberi uang pada gadis kecil penjual tissue.
Tania tersenyum manis, "Aku hanya ingin bermain-main dengan tanganmu. Karena aku pikir, kamu sudah berulang kali mengerjaiku! Tidak ada luka lebam di sini, Mas!" lirih Tania mencubit lengan Yoga lagi.
"Aw ... sakit Tania! Ada anak kecil di sini." kesal Yoga kemudian mengambil tissue, "Terimakasih," jawab Yoga lalu menutup kaca pintu mobilnya.
"Aku seperti suami takut istri!" kesal Yoga.
"Biarkan saja! Sekarang, cepat jalan! Aku sudah lapar!" titah Tania membuat Yoga menarik tangannya dan menancapkan gas mobil.
Melihat mobil sahabatnya berjalan, seketika Indra melambaikan tangannya pada gadis kecil yang sudah di perintahkan untuk melihat kejadian di dalam mobil Yoga.
__ADS_1
"Bagaimana? Apa yang kamu lihat di dalam mobil itu? Cepat katakan?" tanya Indra penasaran.