Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Episode 63. Karine Melahirkan


__ADS_3

Jam dua malam Karine merasakan mules, dia bolak balik kamar mandi tapi tidak ingin BAB. Awalnya dia mengira hanya sakit perut biasa, tapi setengah jam kemudian sakitnya bertambah. Keluar cairan juga dari ***********, Karine pun Panik dia langsung memanggil Mamanya. Mama yang mendengar teriakan Karine pun langsung naik keatas, terlihat Karine duduk diatas kasur dengan cairan sudah bercecer di lantai.


"Karine...!" teriak Mama.


"Apa yang terjadi?" tanya Papa yang juga ikut masuk.


"Sepetinya Karine mau melahirkan, ayo kerumah sakit sekarang juga!" jawab sambil menghampiri Karine.


"Sakit sekali Ma, rasanya Karine tidak bisa berjalan" jawab Karine sambil memegangi perutnya.


"Biarkan Papa yang gendong, ayo Ma. Jangan lupa ambil tas persiapan persalinannya!" sambung Papa yang sudah menggendong Karine.


Mama langsung mengambil tas yang memang sudah mereka siapkan, setelah itu dia menyusul Karine dan Papa yang sudah turun duluan. Seketika rumah heboh, semuanya langsung bangun. Mabok Nem dan Tina terlihat mengatar mereka kedepan, Mang Dadang pun langsung melakukan mobil menuju rumah sakit.


"Jaga rumah Mbok, aktifkan nomor. Siapa tau ada yang kurang nanti, kami bisa menelpon Mbok" ucap Mama sebelum masuk kedalam mobil.


"Baik Nyonya, hati-hati dijalan" jawab Mbok Nem dan Mama pun menganggukan kepalanya lalu masuk kedalam mobil.


Dalam perjalanan Karine terus mengelus sakit, Mama dan Papa sangat khawatir. Karine juga bukan tipe wanita yang kuat, tubunya lemah lembut. Saat ini saja wajahnya sudah pucat dan keringat membasahi tubuh nya, Mama hanya bisa memeluk Karine sambil mengelus perutnya.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di ruangan UGD, dokter langsung melakukan pemeriksaan. Beberapa perawat juga sedang memasang infus, Mama dan Papa hanya bisa melihat denga cemas.


"Kami sudah melakukan pemeriksaan, ini sudah pembukaan 5 tapi ketubanya sudah pecah duluan. Kita harus melakukan tindakan operasi secepatnya, apa ada suaminya?" tanya dokter itu pada Mama dan Papa.


"Cepat lakukan secepatnya dokter, saya akan menghubungi suaminya. Dia lagi dinas di luar kota" jawab Papa dan dokter pun mengangguk mengerti.


"Cepat langsung menuju ruang operasi!" perintah dokter, para perawat disana langsung mendorong bet keruangan operasi.


Papa dan Mama hanya bisa mengikuti mereka dari belakang, setelah Karine masuk. Mereka duduk di depan ruangan, Papa langsung menelpon Fedro. Bagaimana pun itu adalah anaknya, perjanjian mereka juga harus Papa tepati.

__ADS_1


"Papa mau apa?" tanya Mama saat melihat Papa mengeluarkan ponselnya.


"Mau menghubungi Fedro, bagaimana pun itu adalah anaknya. Ingat rencana kita, jangan sampai Karine tau!" Papa memperingatkan Mama.


"Apa keputusan ini sudah tepat, Mama nggak mau Karine tambah menderita natinya" jawab Mama.


"Itu tidak akan pernah terjadi, Mama cukup tutup mulut dan semuanya akan berjalan sesuai rencana" ucap Papa sambil menatap Mama, Mama hanya bisa terdiam.


Tidak lama kemudian Fedro mengangkat telponya, saat tau Karine akan melahirkan dia langsung menuju rumah sakit. Saat tau ini adalah tanggal-tanggal Karine menunggu persalinan Fedro sudah tidak kembali ke kota S dan menetap disini, ada perasaan khawatir juga. Dia berharap Karine baik-baik saja, semoga persalinannya juga lancar.


.


.


.


Fedro langsung berlari mencari ruang operasi, benar saja saat sampai disana dia melihat Mama dan Papa sedang berbicara dengan seorang dokter, Fedro dengan cepat langsung menghampiri mereka. Mama menatapnya dengan tatapan tidak suka, begitu juga dengan Papa.


"Karine masih di ruangan operasi, bayinya sudah lahir. Ambil lah, ikut dia dan jangan pernah temui Karine lagi setelah ini. Ingat jangan sampai Karine tau!" ancam Papa Fedro langsung lemas dengan ucpanya Papa.


"Mari ikut saya Tuan, saya sudah membawah bayinya ke ruangan" ucap dokter itu lagi.


"Tapi boleh kah aku menemui Karine untuk terakhir kalinya" mohon Fedro sambil melihat Mama dan Papa.


"Karine masih dalam pemulihan, dia juga belum sadar. Mau bicara apa lagi kamu?" tanya Mama.


"Setidaknya aku melihat dia untuk terakhir kalinya, aku mohon setelah ini aku akan benar-benar pergi" mohon Fedro lagi, Papa pun menghembuskan nafasnya.


"Antar dia menemui Karine setelah itu langsung ajak mengambil bayinya!" perintah Papa.

__ADS_1


"Baik Tuan Jo, mari saya antar menemui Nona Karine" mereka pun masuk keruangan operasi itu.


Ternyata ruanganya sangat luas, ada beberapa kamar. Karine beradi di ruang bersalin, operasinya sudah selesai hanya saja dia belum sadar karena efek bius. Keadanya cukup lemah, bahkan dia belum sempat melihat anaknya.


Karine terlihat terbaring disana sambil memejamkan matanya, Fedro sudah mengganti bajunya dengan pakaian steril. Dia perlahan mendekati Karine, pelan-pelan dia memegang tangan Karine dan menciumnya.


"Terima kasih sudah melahirkan anak kita dengan selamat, selamat tinggal. Aku harap kamu bahagia!" ucap Fedro sambil mengelus pipi Karine yang juga sedang mengunakan selang oksigen untuk alat bantu pernafasan.


"Aku akan menjaga anak kita baik-baik, kamu tenang saja. Selamat tinggal" sambung Fedro lalu mencium kening Karine lama.


"Tuan sudah waktunya keluar!!" panggil dokter tadi.


"Baiklah ayo pergi" jawab Fedro, sambil berjalan kearah dokter itu. Sesekali dia memandangi Karine yang masih terbaring disana, Fedro hanya bisa menahan air matanya saat akan meninggalkan Karine.


Mereka berjalan keruangan bayi, banyak bayi-bayi juga disana. Fedro langsung di ajak menghampiri salah satu bok bayi, bayi itu bertuliskan By. Ny Karine Vandela. Untuk pertama kalinya hati Fedro bergetar melihat anak mereka, bayinya sangat lucu dan gemuk.


"Ini adalah bayi kalian, bawah lah sekarang sebelum Nona Karine bangun!" ucap dokter itu.


"Tapi bagaimana dengan bayi Karine, apa yang direncanakan oleh Papa?" tanya Fedro sambil melihat kearah Bram yang ada diujung sana mengawasi mereka.


"Tuan tenang saja, Tuan Jo sudah menyiapkan bayi untuk menggantikan bayi kalian. Sekarang pergi lah!" jawabnya Fedro pun langsung mengedong bayi itu.


"Apa dia perempuan atau laki-laki?" tanya Fedro lagi.


"Dia laki-laki, semuanya aman dan dia dalam keadaan sehat tidak ada yang perlu di khawatirkan" jawab dokter itu lagi sambil membenarkan bedong bayi itu.


"Cepatlah keluar! atau mau Tuan berubah pikiran" teriak Bram dan Fedro pun langsung berjalan keluar dari sana.


"Baiklah aku pergi dulu, maaf tidak berpamitan dengan Papa dan Mama. Bilang pada mereka" ucap Fedro setelah berada di depan Bram.

__ADS_1


Fedro pun langsung turun kebawah menuju parkiran, dia langsung membawah bayi nya masuk kedalam mobil. Dia menangis kencang dan Fedro hanya bisa menempuk tubunya sambil memeluknya erat, akan kah dia bisa membesarkan bayi mungil ini sendirian sambil menatap putra kecilnya.


__ADS_2