
Tania menyimak penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh sahabat suaminya.
"Mas, kamu mau bicara apa?" tanya Tania lagi.
"Suamimu terlalu posesif. Padahal, sebelum dia sembuh dari amnesianya. Dia selalu bersikap acuh dengan kita. Bahkan, dia tidak mempermasalahkan aku yang terus berdekatan denganmu." ujar Yoga membuat Indra menendang kaki sahabatnya yang berada di balik meja makan.
Bugh!
"Aw, sakit, Indra!" pekik Yoga menarik dan memangku salah satu kakinya. "Kau gila, ya! Organ ini sangat penting bagiku. Bagaimana, jika kaki ku cedera?" gerutu Yoga mengusap kakinya yang terkena tendangan maut dari sahabatnya.
Tania memicingkan matanya tak suka saat melihat pertengkaran antar suami dan sahabat suaminya.
"Kalian bisa tidak, sehari tidak bertengkar? Kasihan mie instan ini. Aku sudah bersusah payah membuat mie instan tapi tidak kalian makan. Dan kalian lebih suka membiarkan mie instan ini melar." kesal Tania menuangkan air putih di gelasnya.
Yoga kembali melanjutkan makannya lagi dengan menatap benci sahabatnya. Begitu pun sebaiknya, Indra tak kalah memperlihatkan tatapan tajam untuk sahabatnya.
"Benar-benar jorok. Tanganmu saja, baru menyentuh kaki, tapi tanganmu sudah--"
"Bukan jorok, tapi vitamin." potong Yoga dengan kesal.
Tania menggelengkan kepalanya saat terus mendengar keributan dari ke dua pria di hadapannya.
Merasakan telinganya sakit karena mendengar keributan itu, Tania segera menghabiskan makanannya.
Tak membutuhkan waktu lama untuk Tania menghabiskan makanannya. Kini mie instan yang berada di mangkuknya sudah habis tak tersisa.
"Sekarang, aku sudah selesai makan. Dan aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Mas!" ucap Tania serius.
Yoga dan Indra seketika menatap wajah wanita di depannya.
"Apa?" tanya mereka berdua kompak.
__ADS_1
Indra menatap tajam sahabatnya, "Jangan terlalu perca diri. Istriku sedang bicara denganku, bukan denganmu. Lebih baik, kau lanjutkan saja makanmu!" ketus Indra.
"Tan, apa yang mau kamu katakan? Kenapa terlihat sangat serius?" tanya Yoga mengabaikan ucapan sahabatnya.
"Huh, jadi begini. Aku bertanya kepada kalian berdua. Setelah makan malam ini selesai, kalian mau kemana?" tanya Tania.
"Tentu saja aku menginap di apartemen ini, Tan, seperti semalam. Tidak apa-apa, kan? Kalau aku menginap di apartemenmu?" jawab Yoga.
"Aku tidak setuju. Tania sudah bersuami. Jangan membuatku berpikiran tidak jelas tentang kalian." tolak Indra.
"Jika pikiranmu ingin jelas, tidurlah di sini bersama kita. Sebenarnya, ini cara yang mudah tapi karena yang bertanya sangat pintar. Maka dari itu, aku akan menjelaskannya secar detail." jawab Yoga.
"Stop! Jangan bertengkar terus. Apa mulut kalian tidak capek, Hem?" ketus Tania sembari menutup telinganya rapat.
"Dia yang memulai duluan, sayang!" jawab Indra.
"Apa? Aku memulai duluan? Hei, aku tidak pernah memulai duluan. Yang memulai duluan, siapa? Yang menitipkan istrimu padaku, siapa, Hem?" tantang Yoga menekuk lengan kemejanya.
"Kau, kau--"
Indra dan Yoga patuh. Dia duduk ke tempat semula.
"Aku sudah bertanya ke Mas Yoga. Dan kini, aku akan bertanya padamu, Mas! Bagaimana? Kamu mau pulang dan kumpul bersama keluargaku atau kamu mau di sini bersamaku?" tanya Tania.
"Maafkan, aku, Tan. Sepertinya, aku harus pulang. Aku tidak bisa menginap di sini. Tapi kamu tenang saja, aku akan cari cara agar aku bisa menginap bersamamu di apartemen ini!" jawab Davien membuat Tania tersenyum tipis.
'Tidak apa-apa. Biarkan Mas Indra pulang, walaupun di dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku tak terima saat melihat Mas Indra pulang dan bertemu dengan wanita yang bernama Lisa. Tapi, aku juga tidak bisa memaksanya.' batin Tania.
"Tan, kamu marah padaku?" tanya Indra beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju istrinya. "Kamu marah, Hem?" sambungnya lagi.
"Tidak, Mas. Mana mungkin aku marah, Hem! Aku bisa mengerti posisimu, tapi biarkan mas Yoga menginap di sini, ya? Aku kesepian jika di apartemen sendiri. Lagi pula, aku dan Mas Yoga tidur di kamar yang terpisah." jawab Tania meraih dan melingkarkan tangan suaminya ke lehernya. "Aku senang, kamu sudah sembuh, Mas!"
__ADS_1
Cup!
Ciuuman singkat mendarat di pipi dan bibiir istrinya membuat Yoga yang melihatnya kesal.
"Ingat, masih ada aku di sini. Kalian tidak bisa melakukan apa yang seharusnya tidak di lakukan di depan umum!" titah Yoga.
Tania terkekeh saat melihat ekspresi kesal sahabat suaminya.
"Mas, kamu sudah biasa di apartemen sebelah. Jadi, tidak perlu iri padaku!" jawab Tania.
"Wanitanya sangat banyak. Aku saja sampai tidak hafal, dia berkencan dengan siapa saja selama sehari." bisik Indra membuat Tania tertawa renyah.
"Hei, hei, aku tahu ... kalian sedang menggosipkanku, kan?" ketus Yoga.
"Hahaha ... iya, Mas. Kata Mas Indra, wanitamu sangat banyak. Bahkan dia tidak hafal, kamu berkencan dengan siapa saja selama sehari, karena banyaknya wanita yang kamu bawa." ujar Tania terkikik.
Yoga memicingkan matanya tak suka saat mendengar jawaban dari istri sahabatnya. "Kalian memang menyebalkan! Dari pada aku pusing mendengar ucapan kalian, lebih baik aku masuk ke dalam kamar!" ketus Yoga berjalan menuju kamarnya.
Melihat kepergian Yoga. Tawa Tania san Indra seketika pecah. "Hahaha ... ekspresi Mas Yoga kalau sedang marah lucu, ya, Mas!" ucap Tania.
"Seperti Tom yang sedang kesal dengan musuhnya si jeerry." jawab Indra. "Sayang, aku harus pulang. Besok pagi, aku akan datang kemari. Kamu masuk dan kunci pintu kamarmu rapat-rapat. Jangan biarkan Yoga masuk ke dalam kamarmu. Aku akan menyusun rencana agar kita bisa bersama lagi!"
"Iya, Mas. Kamu tidak perlu khawatir. Setiap malam, aku selalu mengunci rapat pintu kamarku. Kamu hati-hati, ya! Oh, iya, ponselmu sudah aku kembalikan, kan?" tanya Tania memastikan.
"Iya. Aku sudah memegang ponselku. Tapi jangan kirim pesan atau lainnya sebelum aku kirim pesan terlebih dahulu, ya!" titah Indra membuat Tania menautkan ke dua alisnya.
"Kenapa, Mas? Apa aku mengganggumu?" tanya Tania yang mendapat gelengan kecil dari suaminya.
"Tidak sayang. Mana mungkin, kamu menggangguku. Aku hanya berjaga-jaga saja, sayang. Ingat, aku sedang berpura-pura amnesia di depan orang tuaku. Jadi, aku tidak mungkin memperlihatkan ponsel lamaku. Bisa-bisa orang tuaku curiga padaku. Karena di dalam ponsel ini terdapat beberapa foto pernikahan kita." jawab Indra menciu um sekilas pipi kanan istrinya.
"Iya, iya. Aku mengerti. Ya, sudah. Sebaiknya, kamu pulang sekarang. Aku tidak mau kamu, kamu sampai rumah malam." titah Tania.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu mengusirku?" tanya Indra tak percaya.
"Mas, bukan seperti itu. Tidak mungkin aku mengusir suamiku sendiri. Aku hanya takut, orang tuamu curiga."