Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Episode 58. Surat Cerai


__ADS_3

Selama empat bulan ini Fedro tidak menemuinya bahkan Karine tidak tau apa kabar suaminya itu, saat ini usia kandungannya sudah delapan bulan. Karine hanya mengurung dirinya di kamar, dia tidak pernah keluar dari sana. Mbok Nem yang selalu menemaninya, kadang dia hanya menghabiskan waktu seharian untuk menyulam. Saat Mama dan Papa ingin menemaninya Karine langsung mengusirnya, tapi hari ini Papa sudah habis kesabaran.


"Keluar kamu Karine! Papa dobrak pintunya jika kamu tidak buka" teriak Papa sambil mengetuk pintu kamar Karine.


Karine yang masih berbaring pun kesal karena Papanya sangat mengganggu, dengan malas dia membuka pintu kamarnya. Ternyata ada Mama juga disana, ada apa pikir Karine mereka berkumpul disini.


Cekleekk....


"Ada apa kalian kesini?" tanya Karine malas, Karine terlihat tidak sehat karena bibirnya pucat matanya juga terdapat lingkaran hitam sepertinya dia kurang tidur.


"Kenapa kamu mengurung diri di kamar terus? Mama dan Papa sangat khawatir sama kamu!" sambung Mama langsung memegang baju Karine.


"Bukan kah ini yang kalian inginkan, lebih baik aku mati!" teriak Karine sambil meneteskan air matanya.


"Ini adalah yang terbaik untuk kamu, Papa dan Mama melakukan ini semua karena kamu putri kami satu-satunya" sambung Papa menatap sendu dengan Karine.


"Kalian menghancurkan hidup ku, impian ku bersama dengan suami ku. Apa salahnya menerimanya di keluarga kita, bukan kah Papa selalu membanggakan Fedro?" tanya Karine dengan mantap mata Papanya.


"Tapi keadaanya berbeda sayang! Papa bisa terima jika laki-laki itu bukan Fedro" jawab Papa.


"Tanda tangan ini, setelah kalian bercerai kamu bebas melakukan apa pun termasuk merawat anak kamu" Papa memberikan amplop berwarna coklat berisiko surat perceraian.


"Apa ini?" tanya Karine sedangkan Mama hanya bisa menundukan kepalanya.


"Ini adalah surat perceraian kalian dari pengadilan, Papa sudah mengurus semuanya. Anak ini jadi anak kamu dan kamu bisa mengurus nya, tapi dengan syarat kamu harus ceraikan Fedro!" ucap Papa membuat Karine syok.


"Papa menuruh aku untuk memilih antara Fedro atau anak ku, lagi-lagi ancaman. Papa dan Mama selalu mengamcam ku" jawab Karine ingin merobek surat cerai itu.


"Tunggu jika kamu robek itu, dia akan meninggal!" Papa memperlihatkan ponselnya, sambungan vedio call dengan Bram.


Fedro terlihat tidak berdaya dengan luka di sekujur tubuh nya, lehernya di gantung dan saat ini dia berdiri di atas kursi. Karine langsung menggelangkan kepalanya, tega sekali Papa melakukan ini pada Fedro.

__ADS_1


"Apa yang Papa lakukan?" tanya Karine sambil menangis histeris.


"Kamu sudah tau apa yang akan terjadi, jika Bram menendang kursinya dan dia bisa langsung mati saat ini juga" ucap Papa sambil menatap tajam pada Karine.


"Jangan!! apa yang Papa inginkan? jangan bunuh Fedro" teriak Karine dan Mama hanya diam.


"Tanda tangan surat itu maka aku akan membebaskan Fedro" jawabnya dengan cepat Karine menuju meja rias dan langsung menandatangani surat cerai itu.


Papa memperhatikan Karine karena dia tidak mau Karine membohonginya, Mama sebenarnya tidak tega melihat Karine. Tapi apa boleh buat, dia tidak mau semua orang tau tentang tingkah Karine dan Fedro. Jika sampai tersebar reputasi keluarga mereka akan hancur, lagian mau di taruh dimana muka mereka dia hadapan para keluarga.


"Aku akan berikan surat ini, tapi dengan syarat Papa tidak mengganggu kehidupan Fedro lagi. Biarkan dia hidup tenang, biarkan dia menjalankan bisnisnya" ucap Karine tidak punya pilihan lain dari pada Karine harus melihat Fedro meninggal.


"Baiklah Papa setuju, bahkan Papa akan berikan dia perusahan cabang Papa jika kamu benar-benar menceranikanya. Papa juga punya syarat, setelah kamu melahirkan kamu harus mau tinggal di luar negeri untuk sementara waktu dan kamu juga bisa lanjut S2 disana" Papa sudah menyusun rencana matang-matang.


"Kamu tanang saja, Mama akan mengurus anak kamu sebagai adik kamu nantinya. Semua orang tidak akan curiga" sambung Mama sambil mengelus kepala Karine.


"Baiklah akan aku lakukan Semuanya, cepat turunkan Fedro!" jawab Karine.


"Sudah selesai, sini suratnya" sambung Papa dan Karine pun langsung memberikanya.


"Bagus jadilah anak yang penurut, tunggu satu bulan lagi maka kamu akan bebas. Kamu bisa pergi kemana pun yang kamu mau" jawab Papa dan Karine hanya menganggukan kepalanya.


Mama membawah Karine duduk di atas kasur, sedangkan Papa sudah pergi dari sana. Karine terlihat menangis, Mama sangat sedih melihat keadaan Karine seperti ini tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


.


.


.


Papa Jo sudah sampai di gudang pabrik tempat dia menyekap Fedro, Fedro terlihat duduk di atas kursi dengan tangan dan kaki terikat. Papa Jo langsung menyiram air ke muka Fedro, Fedro lansung membuka matanya.

__ADS_1


"Bangun kamu!" ucap Papa Jo sambil berdiri di depan Fedro.


"Papa..." lirih Fedro sambil menatap Papa Jo.


"Jangan banyak bicara kamu, Bram bersihkan tanganya. Saya nggak mau surat ini kena darah nya!" perintah Papa dan Bram.


"Baik Tuan" jawabnya langsung membersihkan tangan Fedro dengan air dan mengelapnya dengan tisu.


Setelah itu Papa menyuruh Bram mengambil meja dan meletakan surat cerai itu didepan Fedro, Fedro yang tidak tau apa-apa langsung membaca surat itu. Dia langsung menolak untuk menanda tangani surat itu, tapi Papa licik dengan bujuk rayuan serta hasutanya dia menghalalkan segala cara agar Fedro mau menceraikan Karine.


"Cepat tanda tangani, Karine saja sudah setuju untuk bercerai. Mungkin dia sudah sadar, laki-laki miskin seperti kamu tidak akan bisa membuat dia bahagia!" ucap Papa membuat Fedro tersenyum miris.


"Aku tidak akan pernah menceraikan Karine" tolak Fedro sambil menggelangkan kepalanya.


"Jangan keras kepala, kamu ini egois sekali loh. Karine masih punya cita-cita dan masa depan yang cerah bukan menjadi ibu rumah tangga seperti yang kamu mau, dia harus melanjutkan S2 di Amerika" jelas Papa agar Fedro paham.


"Kamu menghancurkan semua nya, hidupnya karirnya dan anak kamu adalah sebuah bencana besar bagi kami. Aku menyesal telah menolong anak yang tidak tau malu seperti kamu" Papa menujuk kepala Fedro.


"Aku tidak akan percaya sebelum bertemu dengan Karine langsung" Jawab Fedro tidak percaya sama sekali.


"Baiklah jika kamu tidak percaya aku akan melakukan panggilan video sekarang, agar kamu percaya" ucap Papa mengeluarkan ponselnya.


Papa pun langsung menghubungi nomor Mama, tidak lama kemudian Mama langsung mengangkatnya. Karine juga masih duduk disamping nya, Papa langsung mengarahkan ponselnya ke muka Fedro.


"Bicaralah langsung!" ucap Papa sambil mengarahkan ponselnya.


"Karine...! apa ini yang kamu mau? Kamu menyerah ternyata. Sudah ku duga, seharusnya kamu tidak memulai semua ini" ucap Fedro sambil tersenyum penuh arti.


"Maafkan aku, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Aku masih mau melajutkan kuliah ku, aku juga tidak sanggup hidup susah. Kamu tau sendiri aku tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah, itu membuat ku muak!" jawab Karine tapi sebenarnya dia ingin menangis dan berkata kalau semua itu bohong.


"Aku menyesal mencintai wanita egois seperti kamu, baiklah akan aku turuti mau kamu" sambunh Fedro langsung tanda tangan surat perceraian mereka.

__ADS_1


__ADS_2