
"Suamiku tidak mungkin amnesia, dok!" lirih Tania membuat Ratu semakin emosi.
"Dia bukan suamimu. Dia putraku! Kita tidak merasa mempunyai menantu sepertimu. Pergi!" pekik Ratu.
"Tidak, Tante. Aku tidak bisa pergi. Aku harus menemui Mas Indra. Aku harus memastikan keadaannya baik-baik saja." jawab Tania, "Dok, aku boleh masuk? Aku mau menjenguk suamiku,"
"Silahkan. Tapi di larang ada keributan, ya!" jawab dokter membuat Tania berlari masuk di ikuti oleh Ratu dan lainnya.
Setelah Tania masuk ke dalam ruangan suaminya. Dia bisa melihat suaminya yang tak sadarkan diri.
"Mas, bangun!" lirih Tania menggenggam erat tangan suaminya. "Bangun, Mas! Kamu harus kuat, kamu tidak boleh seperti ini!" sambungnya lagi.
"Lepas! Tangan kotor sepertimu tidak pantas menyentuh tangan putraku!" ketus Ratu sambil menepis kasar tangan Tania.
"Dia suamiku, Tan!" lirih Tania, "Aku dan Mas Indra sudah menikah."
"Pernikahan kalian tidak Sah. Kalian tidak mendapat restu dari kita!" ketus Ratu.
"Tapi aku sudah menjadi istri Mas Indra, Tan!" ucap Tania diselingi isak tangisnya.
"Aku tidak perduli, mau kamu istri Indra atau bukan, aku tidak perduli. Intinya, aku tidak pernah menganggapmu sebagai menantuku. Dan satu hal lagi, kalian baru menikah siang tadi, kan? Dan aku rasa, kalian belum melakukan malam pertama. Sebaiknya, kamu tinggalkan Indra. Aku akan membayar berapapun yang kamu mau, asalkan kamu tinggalkan putraku!" ucap Ratu yang mendapat gelengan kecil dari Tania.
"Tidak mungkin, Tan. Tidak mungkin aku meninggalkan Mas Indra. Aku sangat mencintainya. Kita saling mencintai!" jawab Tania, "Mas, kamu bangun dong! Kamu bicara ke semua orang yang ada di sini, kalau kita saling mencintai. Ayo, Mas!" lirih Tania.
"Tan," panggil Yoga mengusap pundak Tania yang rapuh. "Sabar!" sambungnya lagi.
"Aku sudah sabar, Mas. Aku terima kalau Tante dan Om menghinaku, tapi aku tidak bisa terima kalau Tante memintaku untuk meninggalkan Mas Indra. Kita saling mencintai, walaupun kita baru saja menikah." lirih Tania lalu melihat kelopak mata Indra yang bergerak. "Mas Indra sudah sadar!" ucap Tania menghapus air matanya.
"Indra sayang!" titah Ratu. "Kamu sudah sadar, nak? Apa yang sakit? Biar ibu panggilkan dokter dulu, ya!" titah Ratu.
"Siapa kamu!" tanya Indra lirih.
"Aku ibumu, nak. Aku ibu kandungmu, ibu yang sudah melahirkan kamu. Dan ini ayahmu! Kita satu keluarga yang utuh!" ucap Ratu.
__ADS_1
"I-ibu? A-ayah?" lirih Indra.
"Iya, ini Ayah, Ndra!" timpal Roy.
Indra mengangguk, lalu menatap wanita yang sedang menangis di sampingnya. "Dan kamu siapa?" tanya Indra pada Tania.
"Mas, kamu tidak kenal aku?" tanya Tania kecewa.
"A-aku kenal kamu?" lirih Indra merasakan kepalanya sakit. "Aw, kepalaku sakit!"
"Indra, Indra. Kamu jangan berpikir yang berat-berat nak. Dia bukan siapa-siapa kita. Dia hanya orang asing yang mengaku-ngaku istrimu!" ucap Ratu.
"Istri? Sejak kapan aku menikah? A-aku belum menikah? Dan siapa pria itu?" tanya Indra menunjuk ke arah Yoga.
"Ibu juga tidak tahu, siapa dia!" jawab Ratu.
"Mas, aku ini istrimu. Kamu tidak ingat siang tadi, kamu mengucapkan ijab qobul. Kita sepasang suami istri, Mas!" titah Tania.
"Aku tidak ingat." jawab Indra.
"Tapi Tan. Aku mau di sini menemani Mas Indra. Aku mau membantu menyembuhkan Mas Indra." tolak Tania.
"Cepat pergi! Kita tidak butuh bantuanmu. Pergi! Yoga bawa dia pergi!" titah Ratu.
"Tan, kita pergi dulu, okeh!" bisik Yoga.
"Tapi, Mas. Aku tidak bisa membiarkan suamiku sendiri di sini. Mas Indra ini suamiku, Mas. Kamu juga jangan diam saja, dong! Kamu bilang ke Mas Indra kalau aku istrinya. Kamu harus--"
"Tan, biarkan Indra berisitirahat. Kita tidak bisa memaksa Indra untuk berpikir keras. Ingat kata dokter, jika kita memaksa Indra, maka akan berpengaruh buruk pada kesehatan Indra. Sebaiknya kita pulang. Di sini sudah ada ke dua orang tua Indra yang akan menjaganya." potong Yoga.
"Tapi, Mas. Mas Indra ini suamiku!" lirih Tania.
"Iya, aku tahu." jawab Yoga. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Indra, cepatlah sembuh!" titahnya lagi.
__ADS_1
"Mas, aku pulang, ya! Besok aku datang lagi ke sini?" titah Tania kemudian berjalan keluar ruangan.
"Bu, kenapa dia tahu namaku? Namaku Indra kan? Tapi kenapa aku tidak bisa mengingat kalian semua? Kenapa aku hanya bisa mengingat diriku sendiri. Apa yang terjadi padaku? Dia istriku, Bu? Tapi aku tidak merasa menikahi wanita sepertinya." tanya Indra kebingungan.
"Sudah. Kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting. Mereka bukan siapa-siapamu. Mereka hanya orang yang iseng saja. Dan kamu belum menikah. Kamu masih single, kekasihmu sedang berada di luar negeri. Dia wanita miskin yang ingin cepat kaya, Ndra!" ucap Ratu.
'Wanita miskin yang ingin cepat kaya? Tapi kenapa hatiku terasa berbeda, saat melihat wanita itu menangis. Aku merasa tidak tega melihat dia menangis? Tapi sudahlah. Mungkin hanya perasaanku saja!' batin Indra.
Sedangkan di luar ruangan.
"Mas, Mas Indra sama sekali tidak mengingat kita. Aku takut, Mas! Aku takut ibunya Mas Indra menjodohkan Mas Indra dengan wanita pilihannya." lirih Tania.
"Tenanglah, Tan. Kita berdoa semoga saja, amnesia Indra cepat sembuh!" ucap Yoga menyakinkan istri sahabatnya.
"Aku takut amnesia Mas Indra akan lama. Dan aku takut, aku takut kalau aku hamil, Mas! Jujur saja, aku dan Mas Indra sudah melakukannya," gumam Tania lirih.
"Iya, aku sudah tahu. Aku melihat tanda merah di lehermu. Sekarang, kita pulang. Aku akan mengantarmu pulang. Jika ada celah, kita akan menjenguk Indra tanpa sepengetahuan ora tuanya!" ujar Yoga.
"Iya, Mas." jawab Tania menghapus air matanya dan menatap sekilas ruangan suaminya. "Semoga saja, amnesia Mas Indra cepat sembuh."
"Ayo!" ajak Yoga. "Malang sekali nasib istri Indra ini. Aku tidak menyangka, Indra akan amnesia dan kedua orang tua Indra akan memanfaatkan kesempatan ini untuk memisahkan mereka.' batin Yoga sambil menatap punggung Tania yang berjalan menjauh.
Merasa tertinggal jauh, Yoga langsung mengejar Tania.
"Tunggu aku, Tan!" ucap Yoga.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil dan mobil pun mulai berjalan keluar rumah sakit, Yoga terus saja melihat Tania yang melamun.
"Tan, jangan melamun." ujar Yoga.
"Aku tidak melamun. Aku hanya memikirkan suamiku saja." ucap Tania memandang lurus ke depan.
"Kamu harus menerima semua resiko dari keputusan yang kamu ambil. Mungkin ini resiko jika kalian menikah secara diam-diam." ucap Yoga.
__ADS_1
"Apa pernikahanku dengan Mas Indra tidak Sah, Mas?" tanya Tania memastikan.