Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Episode 64. Bayi Kalian Meninggal


__ADS_3

Karine sudah di pindahkan keruangan rawat inap, cukup lama dia memejamkan matanya. Sampai akhirnya dia tersadar dan menanyakan keberadaan bayinya serta Fedro, dengan berat hati Papa harus menjalankan rencana mereka. Mau tidak mau Karine harus menerima semua ini, walaupun mereka tau Karine pasti akan terpuruk lagi.


"Mama...!" panggil Karine sambil melihat Mamanya duduk disopa dekat tempat tidurnya.


"Sayang kamu sudah bangun! apa ada yang sakit? Mama panggilkan dokter dulu" jawab Mama sudah berdiri dan ingin memanggil dokter.


"Tidak perlu, aku baik-baik saja. Mana bayi ku Ma?" tanya Karine sambil melihat sekelilingnya.


"Mana Fedro juga? aku mendengar suaranya tadi" tanya Karine berusaha bangun.


"Jangan banyak gerak kamu baru saja selesai operasi, Fedro tidak ada disini. Dia di kota S, dia juga tidak akan menemui kamu!" jawab Mama menghampiri Karine.


"Tapi aku mendengar suara dia, dia pasti ada disini! trus mana bayi ku sekarang?" tanya Karine lagi.


"Apa dia ada di ruangan bayi? aku mau melihatnya" sambung Karine ingin bangun dari tempat tidur.


"Jangan bergerak Karine! Papa ingin memberitahu kamu" jawab Papa yang juga mendekat dengan Karine, dia langsung memegang tangan Karine.


"Memberitahu apa? jangan membuat aku penasaran" ucap Karine sambil menatap tajam kearah Mama dan Papanya.


"Bayi kalian meninggal, Papa harap kamu sabar menerima semua ini" Papa langsung memeluk Karine dan Mama pun langsung menundukan kepala nya.


"Tidak...!! tidak mungkin. Pasti kalian membohongi aku kan, jelas-jelas aku mendengar suara tangisanya" Karine langsung menangis dan menggelengkan kepalanya.


"Papa tidak bohong sayang, itu memang benar. Kata dokter bayi kamu sudah banyak meminum cairan ketuban, badanya membiru dan membuat dia tidak bisa diselamatkan" sambung Mama membuat Karine tambah lemas.


"Bawah aku menemuinya, kenapa ini terjadi. Aku benci!!" teriak Karine sambil mengepalkan tanganya.


"Kamu masih belum pulih, nanti Mama akan menemani kamu menemuinya" jawab Mama sambil mengelus pundak Karine dan memeluknya.


"Aku mau sekarang! lepaskan aku!!" ucap Karine sambil mendorong Mamanya.

__ADS_1


"Karine...!" panggil Mama sambil mengejar Karine yang sudah berlari keluar sana.


"Cepat kejar dia Ma, suruh dia bertemu dengan bayi itu" sambung Papa dan Mama pun langsung berlari mengejar Karine.


Papa sudah membayar orang tua yang bayinya baru meninggal kemarin, mereka adalah orang yang tidak mampu. Bayinya juga sudah meninggal, jadi mereka mau-mau saja dibayar. Nanti juga bayinya akan dimakamkan, mereka juga masih bisa berkunjung kemakamnya.


Mama langsung menuntun Karine kekamar jenazah karena bayi nya sudah dipindahkan kesana, ada beberapa perawat membantu mereka. Karine masuk kesana sambil menangis histeris, apa lagi saat melihat sebuah bayi yang dibendung dengan kain putih dan memejamkan matanya.


"Ini adalah bayinya Nyonya, sudah dimandikan sesuai dengan perintah Nyonya. Kami juga sudah membungkusnya dan siap dimakamkan" ucap salah satu perawat itu pada mereka.


"Iya suster terima kasih" jawab Mama, sedangkan Karine terdiam di depan bok bayinya.


"Aku mau menggendong nya, kenapa kamu meninggalkan Mama secepat ini. Apa kamu pikir Mama tidak bisa membesarkan kamu?" tanya Karine yang sudah menggendong bayinya.


"Bayi ku perempuan atau laki-laki?" tanya Karine ingin membuka bedong bayi itu.


"Jangan di buka, biarlah dia seperti itu sayang. Bayi kamu laki-laki" jawab Mama sambil menahan tangan Karine.


"Sudah lah sayang, kamu harus mengikhlaskan dia. Biarkan dia tenang di surga" Mama ingin mengambil bayi itu dari gendongan Karine.


"Jangan sentuh bayi ku, Mama tidak tau bagaimana rasanya kehilangan bayi Mama!!" teriak Karine sambil menepis tangan Mamanya.


"Mama sangat tau perasaan kamu, kamu harus kuat sayang. Papa dan Mama sangat menyayangi kamu" jawab Mama sambil mengelus pundak Karine.


"Cukup aku nggak mau mendengar kata-kata Mama lagi, kali ini jangan membuatku tambah sakit. Aku seperti kehilangan separuh hidup ku, jadi jangan memberikan semangat yang ujung-ujungnya Mama dan Papa yang mematahkan semangat ku" ucap Karine pilu sambil meneteskan air matanya menatap bayi yang dia gendong.


Cukup lama mereka disana, tidak ada yang berani melarang Karine menangis sambil berteriak histeris. Nasip nya memang benar-benar sial, baru cerai kini ditinggalkan oleh anaknya juga. Karine sampai terduduk lemas di lantai, dia enggan melepasakan anaknya. Sampai dia pingsan, perawat dengan sigap meletakan kembali bayi itu kedalam bok lalu membawah Karine kembali ke ruangnya.


.


.

__ADS_1


.


Tanpa persetujuan Karine Papa langsung menguburkan bayi itu, tentu saja kepemakan elit dekat dengan rumah mereka agar Karine tidak curiga. Sedangkan Karine sendiri masih terbaring lemas di rumah sakit, hanya Mama yang menemaninya disana.


Mama sebenarnya tidak tega, tapi demi memisahkan Fedro dan Karine dia menyetujui semua rencana suaminya. Karine saat ini masih terbaring di tempat tidur, setelah pingsan tadi dia di bawah kembali ke ruangan.


"Maafkan Mama, Mama hanya mau kamu bahagia dan memiliki keluarga yang bahagia nantinya" ucap Mama sambil mengelus kepala Karine.


"Mama tau kamu pasti kuat!" sambung Mama lalu mencium kening Karine.


Tidak lama kemudian Mbok Nem datang bersama dengan Pak Dadang, mereka sangat sedih saat tau bayi Karine meninggal. Mereka memang sengaja tidak diberitahu karena Pak Dadang dan Mbok belum tentu bisa merahasiakan ini semua, mereka datang untuk menjenguk Karine setelah pemakaman tadi selesai.


"Permisi Nyonya...!" ucap Mbok Nem sambil masuk kedalam ruangan.


"Mbok kalian kesini, apa pemakamanya sudah selesai?" tanya Mama pada mereka.


"Sudah Nyonya, kami kesini ingin menengok keadaan Non Karine. Sekalian juga membawahkan baju ganti untuk Nyonya dan Non Karine" jawab Mbok Nem sambil memberikan paper bag yang dia bawah.


"Terima kasih Mbok, silahkan duduk. Karine belum siuman karena tadi dokter memberikan obat agar dia tenanga" jawab Mama sambil ikut duduk di sopa bersama mereka.


"Saya turut berduka Nyonya, kasihan sekali Non Karine" sambung Mbok Nem terlihat sedih.


"Saya juga Nyonya, padahal kalian adalah orang baik. Semoga kedepannya Nona Karine mendaptkan kebahagaianya" sahut Pak Dadang dan Mama pun langsung menganggukan kepalanya.


"Apa Nyonya sudah makan?" tanya Mbok Nem sambil melihat kearah majikanya itu.


"Belum, aku bahkan tidak merasa lapar saat melihat kondisi Karine seperti ini" jawab Mama sambil menatap kearah Karine.


"Jangan begitu, Nyonya juga harus memperhatikan kesehatan Nyonya untuk membuat Non Karine semangat. Biar saya belikan makanan kebawah!" sambung Mbok Nem ingin membelikan makanan untuk Mama.


"Tidak usah Mbok, biarkan saya saja. Saya permisi dulu Nyonya" ucap Pak Dadang pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Setelah Pak Dadang membeli makanan, Mbok menemani Mama sampai dia sudah selesai makan. Sedangkan Pak Dadang memilih menunggu di depan ruangan bersama dengan bodyguard Papa, Papa sepertinya datang kekantor karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


__ADS_2