
Karine menagis saat Papanya meletakan pestol di kepala Fedro, dia berteriak sampai suaranya serak. Fedro hanya terduduk pasrah, Papa selalu saja mengancamnya. Setidaknya dengan Karine pulang banyak orang yang akan menjaganya, tapi dia berjanji akan menjemput Karine nantinya dan memberikan hidup yang layak untuk mereka.
"Papa jangan! singkirkan pistol itu!!" teriak Karine.
"Papa akan masuk penjara jika membunuh suami ku!" ancam Karine yang terus merontah tapi para bodyguardnya itu lebih kuat.
"Hahaha...kamu lupa siapa Papa kamu? aku bisa melenyapkan siapa pun yang aku mau termasuk laki-laki bajingan ini" jawab Papa membuat Karine semakin takut.
"Apa mau Papa sebenarnya?" tanya Karine dengan air matanya sudah mulai jatuh.
"Tinggalkan dia dan pulang bersaman dengan kami" jawab Papa dan Karine pun langsung terdiam.
"Aku baik-baik saja, kamu pulang lah. Setidaknya kamu bisa hidup tenang dan nyaman dirumah" sambung Fedro sambil tersenyum kearah Karine.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, apa kamu juga mau aku pulang. Apa karena aku istri yang hanya menyusahkan kamu? bahkan aku tidak bisa apa-apa" Karine mulai menangis terisak.
"Bukan begitu! aku tau kamu sering menangis disini. Rumah ini sangat kecil, kamu tidak nyaman kan? benar kata Papa dan Mama kamu harus pulang" jawab Fedro dan Karine pun langsung mengelengkan kepalanya.
"Dia saja bilang begitu! cepat pilih. Mau Papa tembak dia sampai mati atau pulang kerumah?" Ancam Papa.
"Kalian membuat ku muak, baiklah aku akan pulang. Tapi barikan aku memeluk Fedro sebantar" jawab Karine tidak punya pilihan lain.
"Baiklah lepaskan dia!" suruh Papa dan mereka pun melepaskan Karine, Papa memasukan kembali pistolnya kedalam saku jasnya.
"Jangan berlari! kamu bisa tersandung" teriak Fedro saat Karine berlari menghampirinya.
Karine langsung memeluk Fedro erat sambil menagis, dia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Fedro. Walaupun dia sering menangis tengah malam karena kepanasan dan tidak bisa tidur kasurnya juga tidak seempuk dirumah, kesal karena air keran sering macet atau kelelahan karena membersihkan rumah sendirian. Karine bisa terima semua itu asal bersaman dengan Fedro, dia akan belajar menerima semua itu.
"Jangan khawatir! semuanya akan baik-baik saja. Pulang lah aku akan menjempur kamu" bisik Fedro di selah pelukan mereka.
"Baiklah, kamu harus berjanji akan datang menjemput ku" jawab Karine mempererat pelukanya.
__ADS_1
Cukup lama mereka berpelukan, Karine pun melepaskaan ikatan tangan Fedro. Sambil menangis dan air matanya menetas, setelah tangan Fedro terbuka Fedro langsung menghapus air mata Karine.
"Jangan menangis lagi, bukan kah kamu sudah jadi wanita yang kuat?" canda Fedro.
Cup..
Tanpa aba-aba Karine mencium bibir Fedro, Papa dan Mama yang melihat itu langsung mengalihkan pandanganya. Bisa-bisanya Karine mencium Fedro di depan mereka, Papa langsung berdeham agar Karine tersadar mereka masih ada disini.
"Hemmm...." Papa menatap Karine.
"Ayo kita pergi, bawah Karine ke mobil!" perintah Papa dan mereka pun membawah Karine.
Fedro masih duduk disana sambil melihat kearah Karine, dia tersenyum agar istrinya itu tidak sedih. Tapi Karine semakin menangis, bahkan dia tambah terisak saat mereka menariknya secara paksa.
.
.
.
Beberapa jam menempuh perjalanan mereka akhirnya sampai dirumah, Bram dan anak buahnya menjaga ketat rumah. Mereka membawah Karine masuk kedalam rumah, Mbok Nem dan Tina terlihat menyambut mereka.
"Selamat datang Tuan, Nyonya" sapa Mbok Nem dan Tina sambil menundukan kepalanya.
"Tolong antar Karine kekamarnya, kamu Tina tolong buatkan teh bawah kesini!" perintah Mama yang ikut duduk di sopa ruang tamu.
"Baiklah Nyonya, saya kebelakang dulu" Jawab Tina lalu pergi kedapur.
"Mbok Nem..." ucap Karine lirih.
"Non ayo saya antar ke atas, pelan-pelan!" jawab Mbok Nem sambil memapah Karine berjalan.
__ADS_1
Mbok Nem membantu Karine menaiki tangga pelan-pelan, dia tau Karine hamil terlihat dari perut nya yang memulai membuncit. Semua orang disana tidak menyangkan jika Fedro dan Karine punya hubungan, bahkan sampai Karine hamil.
"Maaf apa boleh Mbok tau sudah berapa bulan Non? perut Non sudah mulai membesar" tanya Mbok Nem berusaha seharus mungkin agar tidak menyinggung Karine.
"Sudah masuk empat bulan Mbok, apa sudah kelihatan sekali ya?" tanya nya sambil menghembuskan nafasnya.
"Tentu saja Non, semoga Non terus sehat dan lancar sampai lahiran" jawab Mbok Nem sambil tersenyum.
"Kalian pasti terkejut dengan ini semua, apa yang Mama dan Papa katakan pada kalian setelah aku pergi?" tanya Karine sambil menatap Mbok Nem sekilas.
"Awalnya kami semua sangat terkejut, dari awal kalian seperti tidak pernah akur. Jadi mana mungkin kalin bisa begitu!" jawab Mbok sambil menyatukan tujuknya.
"Hemm aku paham maksud Mbok, awalnya memang tidak mungkin karena aku suka dia lenih dulu. Aku yang merayunya sampai kami melakukan itu, tapi jangan bilang orang lain" sambung Karine karena dia percaya Mbok Nem tidak akan memberitahu siapa-siapa.
"Benarkah? tapi memang Tuan muda sangat kaku dengan perempuan. Tapi Mbok lihat kalian cocok, cantik dan ganteng tapi keadaan saja yang tidak memungkinkan" jawab Mbok Nem.
"Mbok benar, aku juga tidak yakin Mama dan Papa akan membiarkan aku bertemu dengan Fedro" sambung Karine sambil membuka pintu kamarnya.
"Saat tau kebenaranya kemarin Nyonya sangat murka, bahkan dia membuang semua barang Fesro di kamarnya. Mbok dan Tina sampai ketakutan, Mbok sarankan Non jangan pergi lagi. Kasihan Nyonya dan Tuan, mereka merasa kesepian apa lagi Nyonya terlihat tidak semangat untuk hidup. Kasihan sekali!" Mbok Nem memberitahu Karine tentang kejadian setelah Karine pergi.
"Benarkah? aku kira Mama dan Papa benar-benar membuang aku. Menurut Mbok apa yang harus aku lakukan?" tanya Karine sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Mbok juga bingung, permasalahan Non sangat lah rumit. Akan susah membuat Tuan dan Nyonya menerima Tuan muda" jawab Mbok Nem sambil menghidupkan Ac kamar Karine.
"Apa lagi aku? Mbok aja pusing kan. Sudah lah Mbok kembalilah ke bawah. Aku mau istrirahat dulu" sambung Karine.
"Apa Non perlu sesuatu? sebelum saya turun?" tanya Mbok Nem memastikan.
"Tidak ada Mbok, nanti aku akan hubungi Mbok jika butuh sesuatu" jawab Karine sambil menggelangkan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu Non" ucap Mbok Nem sambil berjalan meninggalkan kamar Karine.
__ADS_1