Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Bab 15


__ADS_3

Tok ...


Tok ....


"Tan, kau sedang apa? Kenapa lama sekali? Memangnya, barang apa saja yang kamu masukan, Hem?" tanya Yoga dari balik pintu kamar Tania.


Mendengar suara Yoga. Tania langsung memasukkan beberapa foto kebersamaannya dengan sang suami. "Aku juga bisa memberitahukan Mas Indra melalui foto ini!" gumam Tania menutup koper dan berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu kamarnya.


Krek!


"Maaf sudah menunggu terlalu lama. Tapi aku sudah siap kok! Sebentar, aku ambil koper yang ada di atas kasur!" titahnya lagi.


"Tidak perlu. Kamu tidak perlu mengambil dan membawa koper itu. Di sini ada aku, Tan. Aku seorang pria. Dan tugas seorang pria itu membantu seorang wanita yang sedang kesusahan. Jadi, kamu tunggu saja di luar. Biar aku yang membawa kopermu ke dalam mobil." ujar Yoga menerobos masuk ke dalam kamar Tania dan mengambil koper yang berisi pakaian Tania serta suaminya.


"Terimakasih, Mas. Lagi dan lagi kamu membantuku."


"Semua yang aku lakukan tidak ada yang gratis. Kalian harus membayarnya!" ujar Yoga setelah sampai di depan mobilnya.


"Bayar? Aku pikir, bantuan yang Mas Yoga berikan gratis ternyata aku harus membayarnya. Okeh, aku akan bayar. Mas Yoga minta bayaran berapa? Kebetulan aku pegang uang cash senilai 2 juta. Kira-kira kurang tidak? Kalau kurang, Mas Yoga bisa berhenti di minimarket yang terdapat mesin ATM. Tapi, untuk sekarang ... aku baru bisa bayar 2 juta dulu, Mas! Ini uang 2 jutanya!" titah Tania mengambil semua uang di dompetnya.


Yoga terkekeh, dia memasukkan koper Tania ke dalam bagasi mobil.


"Aku tidak butuh uangmu, Tan. Dan aku bukan pria matre yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang." jawab Indra lalu membukakan pintu mobil untuk Tania, "Masuklah. Biar aku jelaskan di dalam mobil. Apa saja yang perlu kau bayar untuk jasaku ini!" sambungnya lagi.


Tania menggelengkan kepalanya, "Maaf, tapi aku tidak bisa masuk ke dalam mobil sebelum Mas Yoga beritahu aku, apa yang harus aku lakukan." tolak Tania.

__ADS_1


"Tan, kamu tidak perlu takut, kamu pikir ... aku meminta apa darimu? Kau ini istri sahabatku sendiri. Mana mungkin aku meminta hal aneh padamu. Sudahlah, masuk saja ke dalam mobil. Biar aku jelaskan. Apa yang aku inginkan." titah Yoga meyakinkan wanita di sampingnya, lagi.


"Tapi aku tidak mau, Mas. Terima uang ini atau beritahu aku, apa yang harus aku lakukan. Secara logika, kamu tipe pria yang maaf ... jika ucapanku menyinggung perasaanmu, tapi kamu hobi bermain wanita, Mas. Aku tidak mau, menjadi targetmu selanjutnya." lirih Tania membuat Yoga tertawa renyah.


"Hahaha ... apa aku tidak salah dengar? Tania ... Tania ... Mana mungkin aku memintamu untuk mengkhianati sahabatku sendiri. Itu gila, Tania. Apalagi, Indra sahabat terbaikku. Itu tidak mungkin, Tan!" jawab Yoga.


"Lalu apa kalau bukan itu, Mas?" tanya Tania kebingungan.


"Biar aku bisikan. Tapi di dalam mobil. Aku janji aku tidak akan meminta hal aneh darimu. Cepat masuk, aku sudah ada janji dengan wanitaku. Aku tidak bisa membiarkan dia marah padaku, Tan!" titah Yoga membuat mau tak mau Tania masuk ke dalam mobil.


Yoga tersenyum saat melihat Tania sudah masuk ke dalam mobil.


'Cara berpikir wanita ini memang unik.' batin Yoga berlari masuk ke dalam mobilnya.


Akhirnya, mobil yang ditumpangi Tania sudah berjalan menjauhi kediaman rumahnya.


"Hahaha ... coba tebak saja!" jawab Yoga yang lagi dan lagi membuat Tania semakin kesal.


"Mas, aku sedang bicara denganmu. Jawab pertanyaanku saja, Mas!" kesal Tania.


"Okeh, okeh. Aku akan menjawab pertanyaanmu tapi kamu jangan marah. Aku tidak mau, kamu marah padaku lalu setelah Indra sembuh, kamu mengadukan semua perbuatanku pada suamimu itu, bisa-bisa aku di pecat sebagai sahabat sejati. Kamu mau membuat hubunganku dengan suamimu renggang, Hem?" ujar Yoga sembari fokus menyetir.


"Tidak mau, Mas. Dan aku tidak akan mengadukan apapun pada Mas Indra nanti, tapi jawab pertanyaanku, Mas. Sedari tadi, kamu selalu mengulur waktu untuk menjawab pertanyaanku!" kesal Tania.


"Okeh, okeh. Setelah kita sampai di apartemen, aku akan masuk ke dalam apartemen samping apartemenmu. Tapi setelah aku selesai bertemu dengan wanitaku, aku akan datang ke apartemenmu. Tenang saja, aku tidak akan berbuat apapun padamu. Tapi aku mau, kamu siapkan makan malam untukku. Sudah aku pastikan, malam nanti aku akan kelaparan. Siapkan makanan yang enak untukku."

__ADS_1


"Hem, aku pikir kamu minta apa, Mas. Ya, sudah. Kita mampir ke minimarket terdekat. Aku harus membeli beberapa bahan makanan untuk di masak nanti." jawab Tania menghembuskan napasnya lega.


"Tapi kamu bisa masak kan, Tan? Aku tidak mau, hasilnya mengecewakan."


"Tenang saja, aku bisa masak. Tapi, aku tidak tahu apa saja makanan kesukaanmu." jawab Tania.


"Iya, itu sudah pasti karena kita baru beberapa hari bertemu. Semua makanan yang enak, pasti aku suka. Intinya, makanan kesukaanku tidak jauh berbeda dengan makanan kesukaan Indra. Masak saja, makanan kesukaan Indra, pasti aku memakannya."


"Iya, iya. Berhenti di minimarket depan ya, Mas!" titah Tania yang mendapat gelengan kecil dari Yoga.


"Tidak perlu. Bukankah aku sudah bilang, apartemenmu sudah di bersihkan oleh orang sewaanku, dan aku sudah meminta dia untuk mengisi isi kulkas sampai penuh. Jadi, kamu tinggal masak yang enak untukku!" jawab Yoga.


"Hem, iya, Mas." jawab Tania.


Setelah beberapa menit mobil yang ditumpangi Tania membelah jalanan. Kini mobil Yoga telah terparkir mulus di parkiran bawah tanah bangunan yang sangat besar dan luas.


"Kita turun! Dan berhati-hati. Kalau perlu, kita harus menjaga jarak. Aku tidak mau, ada orang yang mengenali kita." titah Yoga melepas sabuk pengamannya dan turun dari mobil di ikuti oleh Tania di belakangnya.


"Biar aku yang membawa koperku, Mas. Kamu masuk saja ke dalam. Tapi sebelumnya, kamu beritahu aku di lantai berapa apartemenmu berada." jawab Tania.


"Biar aku saja yang membawa kopermu. Kamu cukup berjalan di belakangku, tapi agak sedikit menjauh, Tan." titah Yoga lagi.


"Tapi katamu, kamu--"


"Hust, diam Tan! Sebaiknya kita masuk. Aku sudah di tunggu!" titah Yoga berjalan masuk sambil mendorong koper milik istri sahabatnya.

__ADS_1


Tania mengekor di belakang Yoga. 'Laki-laki aneh. Bilangnya takut ketahuan, tapi kenapa dia tetap keras kepala ingin membawakan koperku.' batin Tania.


"Ayo, masuk ke dalam lift, Tan! Apa kamu mau naik tangga darurat? Aku tutup liftnya kalau kamu mau naik tangga darurat!" titah Yoga.


__ADS_2