
Sesuai dengan ucapannya. Setelah sampai di warung bubur. Yoga melepas genggaman tangannya dari Tania. Dan mempersilahkan Tania untuk duduk terlebih dahulu.
"Duduklah. Biar aku yang memesannya!" titah Yoga.
"Kita ajak Mas Indra juga, Mas. Aku yakin, dia seorang diri!" tawar Tania saat melihat suaminya semakin dekat kearahnya
"Terserahmu saja. Asalkan kamu jangan marah dan mengadukan apapun tentang bercandaku yang terlalu berlebihan, tadi." jawab Yoga lalu memesan bubur ayam tiga porsi beserta teh hangat untuk melengkapi minumannya.
Tania melambaikan tangan dan berjalan ke arah suaminya yang sedang berjalan kearahnya.
Melihat lambaian tangan istrinya, Indra menautkan kedua alisnya, 'Apa Tania sudah tahu keberadaan atau dia sedang memanggil seseorang di belakangku?' batin Indra menoleh ke belakang dan tak ada siapapun.
"Mas!" panggil Tania setengah berteriak, "Mas Indra, sinih!" sambungnya lagi.
'Iya benar. Sedari tadi, dia sudah mengetahui keberadaanku. Dan bodohnya, aku tidak menyadarinya!' batin Indra melanjutkan langkahnya menuju sang istri.
"Kamu memanggilku?" tanya Indra dengan nada dinginnya.
"Aku tidak akan memintamu untuk mempercayai aku sebagai istrimu. Aku hanya ingin menawarkan sarapan pagi. Maafkan aku, karena semalam ... aku sudah membuatmu berpikir keras karena foto yang aku tunjukkan." ucap Tania setelah berhadapan dengan suaminya.
'Jadi, Tania tidak memperdulikan semua ini, lagi?' batin Indra.
"Duduklah. Aku sudah memesankan makanan untuk kita bertiga!" titah Yoga yang baru saja datang.
Tania mengangguk, dia menjatuhkan pantatnya di kursi yang kosong bersebelahan dengan Yoga.
Di dalam hati, Yoga tertawa keras saat melihat ekspresi wajah Indra yang masam.
"Duduklah di depan kita!" titah Yoga.
__ADS_1
Indra menatap istri dan sahabatnya bergantian, lalu menjatuhkan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan ke dua orang tersebut.
Pesanan bubur dan teh hangat pun sudah di antar dan siap di makan.
"Tan, setelah selesai nanti, seperti biasa ... kamu masuk dan tunggu aku bekerja!" titah Yoga lalu menyuapkan sendok makan yang berisi bubur.
Tania menatap tajam pria di sampingnya, "Hem." ketus Tania kemudian pandangannya beralih pada sosok pria di hadapannya.
"Kamu mengikuti kita, Mas?" tanya Tania membuat Indra tersedak makanannya.
Uhuk ... Uhuk ...
"Minum dulu, Mas!" titah Tania menyodorkan teh hangat untuk suaminya.
Indra menerima dan meminum teh hangat tersebut, "Terimakasih." jawabnya.
"Sama-sama. Lain kali berhati-hatilah kalau makan." ucap Tania. "Dan kamu benar mengikuti kita sedari tadi, Mas?"
"Oh, tapi aku dan Mas Yoga tidak mempunyai hubungan apapun. Apalagi pacaran." ujar Tania berusaha membela dirinya.
"Aku tidak perduli. Mau kalian pacaran atau tidak, aku tidak akan perduli. Lagi pula, apa untungnya aku?" tanya Indra.
"Sudahlah, Tan. Kamu tidak perlu mengeluarkan tenagamu di pagi hari hanya untuk meladeni semua ucapan Indra. Dia tidak akan percaya dengan apa yang kamu katakan. Sebaiknya, kita habiskan makanan ini. Setelah itu, kamu masuk ke kantor dan beristirahatlah. Kamu bilang, kamu masih ngantuk kan? Sampai-sampai aku harus--" ucapan Yoga terhenti saat kakinya di injak oleh Tania. "Aw ... Tan, kaki ku sakit!" kesal Yoga.
"Biarin. Jangan menambah masalah baru, aku tidak mau Mas Indra berpikir, jika aku mengkhianatinya!" bisik Tania. "Lanjutkan makanmu lagi, Mas!"
Indra semakin kesal saat melihat interaksi istri dan sahabatnya yang terlalu dekat. Bahkan tanpa Yoga dan Tania sadari, tangan Indra sudah mengepal erat.
"Semalam, wanita ini mengaku, jika dia istriku, tapi kenapa sekarang aku dengar dari mulut pria ini, kalau kalian tinggal satu atap? Itu artinya, dugaanku benar, kalau kalian penipu?" tanya Indra yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.
__ADS_1
"Tidak Mas. Aku tidak menipumu. Apa yang aku ucapkan semalam memang benar, aku ini istrimu. Kita pernah menikah secara diam-diam. Aku tidak mungkin berbohong masalah pernikahan. Dan yang di ucapkan Mas Yoga itu--" ucapan Tania terhenti, dia tidak tahu harus mencari alasan apalagi agar suaminya tidak salah paham.
"Itu apa? Jika kalian memang sepasang kekasih, seharusnya kalian tidak perlu menipuku. Aku sengaja mengikuti kalian karena aku ingin tahu kebenarannya. Dan ternyata, kalian sudah menipuku!" ketus Indra meluapkan emosinya.
"Siapa yang menipumu, Mas. Semua foto pernikahan kita, sudah aku tunjukkan. Apa perlu, kita datangi rumah kita yang berada di luar Jakarta. Kamu bisa bertanya pada tetangga sekitar kita." jawab Tania mulai terpancing emosi.
"Tidak perlu, untuk apa aku mengikuti permainan ini. Sangat memuakkan!" ujar Indra beranjak dari tempat duduknya.
"Mas, kamu mau kemana? Kamu belum habiskan makanan ini!" tanya Tania yang ikut bangkit dari tempat duduknya dan berjalan beberapa langkah menuju suaminya. "Tunggu dulu, Mas. Jangan marah, aku tahu tanggal lahirmu, aku tahu makanan kesukaanmu dan aku tahu semuanya tentangmu." sambungnya lagi sembari meraih tangan Indra.
"Lepaskan tangan kotormu dari tanganku!" titah Indra yang mendapat gelengan kecil dari Tania.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Mas. Dan untuk Mas Yoga, cepat kamu bicarakan apa yang terjadi." titah Tania geram saat melihat sahabat suaminya diam seperti patung.
"Aku tidak tahu harus berbuat apalagi untuk meyakinkan pria ini, Tan. Kamu saja yang meyakinkan! Aku mau ke kantor! Kamu bawa saja ke apartemen yang kamu tempati!" titah Yoga membuat Indra dan Tania kebingungan.
'Kenapa sikap Yoga berubah? Apa Yoga sudah tahu kesembuhanku?' batin Indra.
'Kenapa Mas Yoga memintaku untuk membawa Mas Indra ke apartemen? Bukankah, semua ini akan menimbulkan masalah baru? Aku tidak mungkin membawa Mas Indra ke apartemen.' batin Tania lalu melihat sahabat suaminya pergi menyebrangi jalan. "Mas Yoga! Tunggu aku! Kita perlu bicara!" teriak Tania melepaskan cengkraman tangannya dan mengejar pria yang sedang menyebrang jalan.
Lagi dan lagi Indra terpaku saat melihat sikap istrinya yang begitu mementingkan sahabat suaminya dari pada suaminya sendiri.
'Tania lebih memilih mengejar Yoga dari pada aku?' batin Indra.
Yoga tersenyum tipis saat menyebrangi jalan. 'Tugasku sudah selesai. Aku tidak boleh ikut campur urusan mereka, atau hatiku akan benar-benar mencintai istri dari sahabatku sendiri.' batin Yoga.
"Mas Yoga, tunggu aku! Kamu tidak bisa meninggalkan aku sendiri di sini!" teriak Tania kesusahan menyebrang jalanan yang cukup ramai.
Melihat istrinya nekat, Indra pun langsung berlari mencegahnya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Indra setelah meraih tangan istrinya.
"Maaf, Mas. Kamu bisa tunggu sebentar di sini? Aku harus mengejar Mas Yoga. Ada sesuatu yang harus aku pastikan. Aku tidak bisa membawamu ke apartemen, Mas. Aku tidak mau di tuduh menipu atau mencari kesempatan darimu." lirih Tania.