
Kecewa, itulah yang di rasakan Indra saat mendengar ucapan wanita di hadapannya.
"Memangnya, siapa yang setuju, ha? Aku tidak setuju dengan ucapan pria itu." jawab Indra berusaha menutupi kekecewaannya.
Tania menatap wajah suaminya sekilas, perlahan tangannya membalas genggaman tangan suaminya.
"Tolong percaya padaku. Aku ini istrimu." pinta Tania.
"Kita bicarakan di mobil saja. Kita tidak bisa membicarakan hal pribadi di depan umum." titah Indra, "Kita sebrangi jalan ini sama-sama." sambungnya lagi.
"Terimakasih, Mas. Tapi sebelum kita berbicara di mobil. Aku harus mengejar Mas Yoga dulu. Walaupun aku sudah mendapat izin untuk membawamu ke apartemen, tapi aku sama sekali tidak bisa. Lebih baik, aku membawa Mas Yoga ke apartemen juga." jawab Tania.
Merasa semakin kecewa dengan sikap istrinya. Dengan terpaksa, Indra menarik tangan istrinya untuk menyeberangi jalan.
"Aw sakit, Mas! Kamu jangan tarik-tarik tanganku." lirih Tania berlari mengikuti langkah kaki suaminya.
"Masuk ke dalam mobilku dan jangan membantah. Biarkan saja pria itu pergi. Itu artinya, pria itu tidak mau ikut campur urusan kita. Atau pria itu lelah denganmu!" ketus Indra berjalan menuju mobilnya.
'Apa benar, Mas Yoga tidak mau ikut campur lagi urusanku dan Mas Indra?' batin Tania.
"Masuk!" titah Indra setelah membuka pintu mobilnya.
"Tapi, Mas. Kamu belum sembuh, kamu tidak tahu, siapa aku dan hubungan kita yang sesungguhnya. Kamu bahkan tidak mempercayai kalau aku istrimu."
"Masuk saja, kita jelaskan di dalam mobil!" titahnya lagi.
Dengan perasaan ragu, Tania masuk ke dalam mobil suaminya.
Setelah melihat istrinya masuk ke dalam mobil. Indra langsung menutup pintu mobil dan berlari memasuki bangku kemudi. Tak lupa, Indra mengunci pintu mobilnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan, Mas? Kamu mau menuduhku sebagai penipu lagi?" tanya Tania setelah mereka berada di dalam mobil.
Tanpa ingin menjawab pertanyaan istrinya, Indra segera menyalakan mesin mobil dan mobil pun berjalan membelah jalanan yang cukup padat.
__ADS_1
Melihat mobil sahabatnya pergi, Yoga langsung masuk ke dalam mobil dan mengikutinya.
Di dalam mobil, Tania memasang seatbelt nya setelah tidak mendapat jawaban dari pertanyaan yang dia lontarkan.
"Kamu mau bawa aku kemana, Mas?" tanya Tania lagi yang tak pantang menyerah.
"Memangnya kenapa? Bukankah aku suamimu. Jika aku suamimu, itu artinya kamu tidak perlu khawatir, aku akan membawamu kemana." jawab Indra setelah sekian lama terdiam.
"Iy-iya, aku tahu kamu suamiku. Tapi kondisimu untuk sekarang ini, sedang tidak baik-baik saja. Bahkan, kamu lupa dengan semua masalalu kita. Dan kamu selalu menuduhku, jika aku penipu dan pembohong, Mas. Bagaimana, aku tidak khawatir?" ujar Tania sedikit ketakutan. Dia berusaha mengambil ponselnya yang berada di tas nya.
"Mau apa, ha!" tanya Indra merebut paksa ponsel istrinya, "Mau menghubungi pria tadi? Pria yang mengaku sebagai sahabatku?" sambungnya lagi.
"Iy-iya. Aku mau menghubungi Mas Yoga. Aku takut, kamu bertindak sesuka hatimu untuk mencelakaiku, Mas! Aku mau meminta pertolongan darinya!" lirih Tania.
Indra memasukkan ponsel istrinya ke dalam saku celananya.
"Jangan pernah menghubungi seseorang saat bersamaku." ketus Indra menancapkan gas nya lagi lebih cepat.
Tania menelan salivanya susah saat melihat mobil yang ditumpanginya berjalan cepat dan membelok ke jalanan yang sepi.
"Diamlah. Aku mau tahu, seberapa besar cinta istriku ini pada suaminya." jawab Indra dengan senyum manisnya.
'Istri? Apa arti ucapan Mas Indra? Dan kenapa senyum Mas Indra terlihat lebih mengerikan?' batin Tania ketakutan.
'Maafkan aku, Tan. Tapi aku benar-benar kecewa dengan sikapmu yang terlalu mementingkan Yoga dari pada suamimu sendiri. Seharusnya, kamu menyadari jika aku sudah mengingat semuanya sama seperti Yoga yang sudah menyadarinya.' batin Indra membelokkan mobilnya ke jalanan yang cukup padat.
Di satu sisi. Yoga yang tengah mengikuti mobil sahabatnya pun memutuskan untuk berhenti mengikutinya, karena dia sudah tahu tujuan sahabatnya itu.
'Aku yakin, dia sudah pulih. Dan aku tidak perlu mencemaskan Tania lagi. Indra bisa menjaga Tania tanpa aku!' batin Yoga.
"Tutup matamu saja, kalau kau takut dengan cara mengemudiku!" titah Indra saat melihat istrinya ketakutan.
"A-aku tidak bisa. A-aku tidak mau, kamu membawaku ke dasar jurang. Lebih baik, aku buka mataku ini dengan lebar!" tolak Tania..
__ADS_1
"Tutup saja dan patuhi semua perintahku! Tutup matamu!" pekik Indra yang membuat mau tak mau Tania menutup matanya.
'Kenapa Mas Indra berubah menjadi menakutkan. Ya, Tuhan. Selamatkan aku dari suamiku ini. Sadarkan suamiku,' doa Tania.
Setelah mobilnya membelah jalanan ibu kota. Kini mobil yang di kendarai Indra sudah sampai di depan rumah milik mereka yang berada di luar Jakarta.
"Sekarang, buka matamu!" titah Indra membuat Tania membuka matanya.
Tania menautkan ke dua alisnya bingung, saat melihat dirinya telah sampai di rumahnya yang dulu.
"Mas, ka-kamu--" ucapan Tania terjeda, "Ka-kamu sudah ingat semuanya?" sambungnya lagi sembari menghapus air matanya yang mulai mengalir membasahi pipinya.
"Iya. Semalam setelah kamu memperlihatkan semua foto pernikahan kita, tiba-tiba kepalaku pusing dan bayangan demi bayangan mulai terlihat jelas di otakku." jawab Indra.
"Ta-tapi kenapa kamu bersikap dingin dan--"
"Aku kecewa denganmu, Tan. Bukan hanya denganmu saja, tapi aku kecewa dengan Yoga. Kalian sudah berani tinggal satu atap di saat aku sakit." potong Indra dengan raut wajah kecewanya.
"Mas, tapi aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Mas Yoga."
"Iya. Tapi kalian menginap satu apartemen kan? Dan aku tahu bagaimana sikap juga karakter Yoga." jawab Indra melepas seatbelt nya. "Sebaiknya, kita turun. Kita bahas semuanya di dalam rumah. Aku tidak mau, ada orang yang mendengar pembicaraan kita!" titahnya lagi.
Tania menganggukkan kepalanya, dia membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
Setelah masuk ke dalam rumah. Indra menutup rapat pintu rumahnya.
"Sebenarnya, apa yang terjadi sampai kamu amnesia, Mas?" tanya Tania menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya.
Indra membalas pelukan istrinya, "Aku kecelakaan karena tak konsentrasi menyetir mobil." jawab Indra menci um pucuk kepala istrinya berulang kali. "Aku sangat merindukanmu, Tan."
"Aku juga sangat merindukanmu, Mas. Itu berarti, kamu tidak marah denganku atau pun Mas Yoga?" tanya Tania menarik tubuhnya.
"Aku tidak marah. Aku hanya kecewa dengan kalian. Apalagi saat Yoga memancing emosiku, tadi." jawab Indra menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Kamu harap maklum, Mas. Kita semua tidak tahu tentang kesembuhanmu. Aku juga bersumpah, Mas. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Mas Yoga. Untuk urusan apartemen, aku bisa menjelaskan." ujar Tania berusaha meyakinkan suaminya.