
"Aku heran dengan semua wanita. Ponselnya menyala, televisi pun menyala, tapi kenapa wanita itu bisa tertidur dengan pulas." kekeh Yoga menekuk ke dua lututnya agar sejajar dengan Tania yang tengah tertidur pulas.
"Di lihat dari wajahnya, wanita ini sebenarnya lelah. Kantong matanya saja sangat terlihat. Tapi aku juga salut dengan Tania yang terus memperjuangkan Indra. Padahal, dia bisa saja mencari pengganti Indra. Umurnya masih muda, mempunyai paras yang cantik berhati malaikat juga. Pria mana yang tidak menyukai wanita sepertinya. Kalau dia bukan istri dari sahabatku, aku berani bermain cepat. Aku bisa dengan mudah menaklukkan hatinya." ujarnya lagi.
Tania menggeliat saat merasakan usapan lembut di wajahnya. Perlahan ke dua matanya terbuka dan memperlihatkan wajah pria yang sedang menatapnya.
"Mas!" pekik Tania seketika beranjak dari tempat tidurnya. "Sejak kapan kamu di sini dan apa yang kamu lakukan padaku?" sambungnya lagi.
"Menurutmu apa yang aku lakukan padamu, Tan?" jawab Yoga berdiri dan berjalan menuju sofa yang berada di dekat ranjang.
Tania menatap penampilannya sekilas, 'Penampilanku rapih. Itu artinya, Mas Yoga tidak berbuat yang aneh-aneh padaku?' batin Tania.
"Aku tidak akan berbuat aneh padamu, Tan. Kamu ini istri sahabatku. Aku lebih menghargai status persahabatanku dengan Indra daripada memikirkan wanita." ujar Yoga tiba-tiba yang mengerti kepanikan Tania.
"Maafkan aku, Mas. Aku tidak ada niatan untuk berpikir buruk tentangmu. Tapi saat aku mengingat kelakuanmu yang suka bermain wanita, aku tiba-tiba takut saja. Sekali lagi, maafkan aku, Mas! Tidak seharusnya aku mempunyai pikiran buruk padamu." jawab Tania dengan wajah malunya. "Kamu sudah selesai meeting, Mas?" tanyanya lagi.
"Aku baru saja selesai meeting dan aku mendengar suara televisi serta ponselmu yang menyala. Aku pikir kamu sedang bersantai. Pintu kamarnya saja tidak tertutup rapat. Ini juga kesalahanku. Aku tiba-tiba masuk tanpa ketuk pintu. Maafkan aku yang sudah lancang masuk ke kamar orang!" ujar Yoga lalu mengganti channel TVnya.
"Haha ... kamu aneh, Mas! Ini kamarmu, dan kamu bilang minta maaf karena sudah lancang masuk ke kamar orang? Yang tamu itu, aku. Kamu pemilik kamar ini. Jadi, yang minta maaf itu aku, bukan kamu, Mas!" ucap Tania lalu menurunkan kakinya ke lantai. "Kapan kita pulang, Mas. Aku masih ngantuk dan aku mau melanjutkan tidurku di rumah!" tanya Tania menatap lekat wajah pria yang sedang menonton kartun anak kembar.
"Kapan saja, kalau kamu masih betah tidur di sini, aku persilahkan. Biar aku yang pulang sendiri." jawab Yoga menatap sekilas wanita yang sedang duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Ish, aku serius, Mas. Kenapa harus di jawab bercanda. Aku tanya, kapan kita pulang. Aku tidak mau memaksamu untuk mengantarkanku pulang. Aku takut kamu masih ada kerjaan lainnya. Itu sama saja aku mengganggu kamu bekerja!" kesal Tania berjalan menuju kamar mandi dan membasahi wajahnya agar tidak mengantuk.
Setelah selesai membasahi wajahnya dengan air dingin yang segar. Kini hawa kantuk yang menghinggap di dirinya mulai berkurang.
"Cepat sekali?" tanya Yoga di saat melihat Tania keluar dari kamar mandi.
"Aku hanya ingin membasahi wajahku saja. Aku mau hawa kantuk ini berkurang, Mas. Jika tidak ada pekerjaan lagi. Sebaiknya kamu antarkan aku pulang. Atau aku pesan taksi saja, aku tidak mau merepotkanmu terus, Mas!" ucap Tania menyambar tas dan ponselnya.
Yoga mematikan televisinya. Dia bangkit dari duduknya dan merapikan penampilannya.
"Apa cemilan yang OB berikan sudah habis?" tanya Yoga memastikan.
"Sudah, Mas. Tapi aku tidak menikmatinya karena sedikit. Lain kali suruh OB bawakan yang banyak." jawab Tania sedikit berbisik lalu tertawa saat melihat ekspresi wajah sahabat suaminya yang terpaku. "Hahaha ... aku bercanda, Mas. Cemilan itu tidak sedikit tapi perutku saja yang mempunyai daya tampung cukup banyak."
"Em ... aku rasa, kamu tidak perlu mempunyai teman sepertiku, Mas. Karena bisa membuatmu malu di mana saja. Kamu dengar ucapanku yang mempunyai daya tampung banyak di perutku ini. Jadi, aku bisa memastikan jika berpergian bersamaku akan membuat setiap pria malu. Hanya Mas Indra saja yang tersenyum saat melihat tingkahku yang memalukan." jawab Tania, "Berbicara Mas Indra, kapan Mas Indra boleh pulang, ya, Mas." tanya Tania.
"Aku bukan dokter yang menangani Indra, jadi aku tidak tahu kapan Indra bisa pulang ke rumah. Atau mau aku tanyakan ke pihak rumah sakit? Kebetulan aku mempunyai nomer rumah sakit tersebut?" tawar Yoga yang mendapat gelengan kecil dari wanita di sampingnya.
"Tidak perlu, Mas. Aku tidak mau merepotkanmu. Biar aku saja yang memastikanny besok. Aku juga sudah berjanji dengan Mas Indra untuk membawakan makanan kesukaannya. Kamu doakan aku, semoga saja ... Mas Indra dapat mengingatku setelah memakan masakan buatanku!" jawab Tania melingkarkan tangannya ke lengan Yoga. "Maaf, Mas. Tapi aku tidak siap melihat karyawan Mas Yoga. Aku takut dengan tatapan mereka!" lirih Tania.
"Tidak apa-apa. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Sekarang, kita keluar!" titah Yoga berjalan keluar ruangan dengan di dampingi oleh Tania.
__ADS_1
Mereka memasuki lift dan lift pun bergerak membawa mereka sampai ke lantai dasar.
Ting ....
Pintu lift terbuka. Yoga dan Tania berjalan menuju pintu perusahaan.
"Jaga mata dan ucapan kalian jika kalian ingin tetap bekerja di perusahaanku!" titah Yoga dengan nada dinginnya. Dia mengusap tangan Tania yang menggandeng lengannya.
"Ba-baik, Pak!" jawab beberapa karyawan kembali bekerja.
"Kamu tidak perlu takut, mata mereka sudah aku atasi!" bisik Yoga membuat Tania tersenyum tipis.
"Terimakasih!" ucap Tania memasang senyumnya.
Setelah keluar kantor dan masuk ke dalam mobil. Kini mobil yang dikendarai Yoga sedang membelah jalanan ibu kota menuju desa yang terdapat di luar kota Jakarta.
"Apa kamu tidak mau tinggal di Jakarta saja, Tan? Biar aku bisa menjagamu?" saran Yoga sambil fokus menyetir.
"Tidak, Mas. Kalau aku tinggal di Jakarta dan tiba-tiba Mas Indra ingat padaku, bagaimana? Mas Indra mencariku ke rumah ini, bagaimana Mas? Aku tidak mau mengecewakan Mas Indra." tolak Tania.
"Tapi kalau kamu tinggal di Jakarta, kamu bisa leluasa menjaga Indra, Tan. Kamu bisa mengawasi keseharian Indra." saran Yoga. "Coba kamu pikirkan, Tan!" sambungnya lagi, membuat Tania berpikir sejenak.
__ADS_1
"Tapi kalau aku tinggal di Jakarta, aku mau tinggal di mana, Mas? Dan siapa yang akan menjaga rumahku? Tidak mungkin, aku membawa rumahku ke Jakarta. Itu sangat berat, Mas!" jawab Tania.