
Sudah dua minggu Karine hanya tinggal dirumah, dia sangat bosan. Belum lagi tentang pekerjaan nya Lulu mengurus semuanya, Mama menyuruh Karine tetap dirumah. Mama saat ini mengambil ali mengurus semuanya, sedangkan Papa kembali bekerja di perusahan. Mereka seharusnya sudah pensiun tapi salah sendiri keras kepala pikir Karine, ada yang lebih membuat Karine sedih karena merindukan Fedro.
Karine duduk di ayunan taman rumahnya, mau menghubungi Fedro ponsel saja tak punya. Iya Papa mengambil semuanya termasuk ponsel, bahkan dia tidak bisa menggunkan telpon rumah karena Tina yang menjaganya. Dia bagaikan tuan putri yang terkurang di sangkar emas, tidak ada yang bisa dia lakukan.
"Mama sangat merindukan Papa kamu! menurut kamu apa yang sedang dia lakukan?" tanya Karine sambil mengelus perutnya.
"Non ini teh nya! silahkan diminum dulu" ucap Mbok Nem meletakan teh dan beberapa cemilan di gazebo.
"Letakan saja disana" jawab Karine yang masih betah duduk di sana.
"Jangan begitu Non, Non bahkan belum makan siang dan ini sudah hampir jam 3 sore" sambung Mbok Nem menghampiri Karine.
"Benar juga aku belum makan, tolong ambil kan aku nasi sekalian. Aku mau makan disini!" jawab Karine sambil menatap Mbok Nem yang berdiri di depanya.
"Baiklah saya akan ambilkan nasi sekalian, ayo saya bantu Non berjalan ke gazebo" Mbok Nem memapah Karine sambil berjalan kearah gazebo.
"Mbok Nem ini terlalu berlebihan, aku hanya hamil bukan tidak bisa berjalan" sahut Karine ingin melepaskaan pegangan Mbok Nem.
"Tetap saja Non, kalau kenapa-napa gimana?" Mbok Nem membantu Karine untuk duduk.
"Tunggu sebantar Non, saya ke dapur dulu" Mbok Nem pun pergi dari sana.
Tidak lama kemudian, Mbok Nem datang tapi tidak sendirian dia datang bersama dengan Lulu. Karine melihat Lulu tentu saja senang, Lulu langsung menghampiri Karine dan memeluknya dengan gaya lebay nya.
"Queen..!!" teriak Lulu sambil berlari kecil.
"Lulu kamu datang?" jawab Karine sambil tersenyum.
"Tentu saja, aku sangat merindukan kamu. Kenapa juga kamu pergi tampa pamit, aku sangat sedih" Lulu langsung memeluk Karine, sedangkan Mbok Nem meletakan nasinya di samping mereka.
__ADS_1
"Ini nasinya Non, kalau begitu Mbok pergi kebelakang dulu" sambung Mbok Nem, Karine pun langsung melepaskan pelukanya dan berterima kasih dengan Mbok Nem.
"Terima kasih ya Mbok" Mbok Nem pun hanya menganggukan kepalanya.
Mereka duduk bersama, Karine menungkan teh untuk Lulu. Lulu terlihat sangat antusias menceritakan tentang perusahan, semenjak Karine tidak ada semuanya jadi kewalahan. Apa lagi Mama Elvi jarang masuk dan lebih terlihat murung, mau gimana lagi Karine juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kamu kabur kemana Queen? kamu tau aku sangat kewalahan di kantor" ucap Lulu sambil mengibaskan kipasnya.
"Aku pergi ke kota S bersama dengan Fedro, tapi Mama dan Papa menjemputku pulang. Padahal Papa sendiri yang mengusir kami hari itu!" jelas Karine sambil cemberut.
"Sudah lah lebih baik kalian jangan kabur-kaburan lagi, semuanya benar-benar kacaw Queen. Aku lihat Tuan dan Nyonya Elvi sangat terpuruk dengan masalah kalian, mana kamu sampai bunting gini!" jawab Lulu sambil menghembuskan nafasnya.
"Apa maksud kamu bunting?" tanya Karine sambil menatap tajam pada Lulu.
"Maksud ku sedang hamil Queen, terus bagaimana dengan Tuan balok es itu. Apa dia masih di kota S?" tanya Lulu menanyakan keberadaan Fedro.
"Aku tidak tau, bahkan aku tidak punya ponsel untuk menghubunginya. Oh iya mana ponsel kamu, cepat untung Mama dan Papa belum pulang!" ucap Karine cepat dan Lulu pun ragu untuk memberikan ponselnya.
"Sini jangan lama-lama, ini penting!!" Karine langsung menarik ponsel Lulu dari tanganya.
Karine langsung mengetikan nomor Fedro, beberapa kali Karine menelpon tapi tidak di angkat. Akhirnya dia pasrah dan mengembalikan ponselnya pada Lulu, apa yang terjadi dengan Fedro apa jangan-jangan Papa benar-benar mencelakainya.
Banyak yang mereka obrolkan tentang pekerjaan dan juga Karine minta bantuan pada Lulu untuk kabur, Lulu yang mendengar itu tentu saja tidak mau. Dia tau akan berhubungan dengan siapa, jadi dia menolak dengan tegas permintaaan Karine.
.
.
.
__ADS_1
Malam harinya hujan turun sangat deras, ini mengingatkan Karine dengan Fedro. Dia memandang ke luar sambil melihat rintik hujan jatuh, tanpa dia sadari air matanya jatuh. Karine berdiri di depan pintu kaca arah ke balkonya, di mengusap kacanya yang berembun.
Tapa Karine sadari Mama masuk kedalam kamar, dia memperhatikan Karine dari kejauhan. Tapi tidak lama kemudian Karine menyadari kedatangan Mamanya, dia langsung menghapus air matanya.
"Mama..!" panggil Karine saat menoleh kebelakang.
"Maaf aku nggak tau Mama datang" sambung Karine sambil menghampiri Mamanya.
"Apa yang kamu lakukan disana? ini Mama bawakan susu. Kata Mbok Kamu tidak minum susu hari ini" jawab Mama sambil meletakan susu di atas nakas samping tempat tidur.
"Terima kasih, seharunya Mama tidak perlu repot-repot aku bisa menyuruh Mbok" jawab Karine.
"Sudah cepat minum susunya lalu tidur, tidak baik ibu hamil tidur malam-malam" suruh Mama dan Karine pun langsung mengambil gelas susu itu dan meminumnya walaupun Karine kurang suka susu selama hamil ini.
"Cepat istirahat, Mama turun dulu" ucap Mama mengelus kepala Karine lalu keluar dari kamar Karine.
Setelah susunya habis, Karine pun mematikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur. Dia sebenarnya belum mengantuk, tapi mengingat kata Mama dia tidak boleh egois dan harus memikirkan bayi di kandunganya juga.
"Ayo kita tidur sayang, semoga Papa baik-baik saja disana" ucap Karine sudah berbaring di kasur sambil mengelus perutnya.
Sampai tengah malam akhinya Karine tertidur, tapi tidurnya terganggu karena ada suara berisik di arah balkon. Karine takut sambil menarik selimut menutupi kepalanya, tidak lama kemudian suara ketukan terdengar.
"Sepetinya ada maling, bagaimana ini?" ucap Karine takut tanpa menghiraukan ketukan itu.
"Tapi kenapa dia bisa masuk? bukan kah bodyguard Papa banyak berjaga dirumah. Atau jangan-jangan hantu?" tanya Karine sambil mengintip di selah selimutnya.
"Jangan dengar Karine, ayo tidur lagi" sambung Karine menyelimuti dirinya.
Angin bertiup kencang hingga gordeng itu terus bergerak, Karine melihat bayangan hitam di luar sana. Dia benar-benar tidak berniat untuk membuka atau mencari tau siapa yang ada di balkon kamarnya, Karine mala menarik selimut semakin keatas dan menututp telinganya menggunkan bantal.
__ADS_1
"Karine...! ini aku sayang buka pintunya" suara yang sangat Karine kenal.
"Fedro..!!" teriak Karine langsung bangun dan berjalan kearah balkon kamarnya.