
Bagaikan bencana bagi Karine, semua yang dia alami sekarang seperti mimpi buruk baginya. Melihat makam putranya dan mengingat bagaimana Fedro sama sekali tidak memperdulikan nya, padahal dia berharap Fedro akan datang dan menemaninya.
Saat ini Karine sedang melamun melihat beberapa koper yang telah rapi di dekat lemarinya, mentalnya benar-benar lemah. Dia terus terpuruk dengan keadaan yang menurutnya tidak adil, berbeda dengan kehidupan orang lain yang selalu berjalan mulus tanpa hambatan.
"Hmmm....akhirnya aku pergi juga!" Ucap Karine tiba-tiba.
Mama masuk kedalam kamar Karine, dia memperhatikan anaknya yang terlihat tidak baik-baik saja. Dia tau betul apa yang dirasakan oleh Karine saat ini, tapi apa boleh buat ini adalah keputusan yang paling tepat.
"Sayang....!"
"Apa kamu sudah siap, Papa sudah menunggu di bawah?" Tanya Mama yang baru saja masuk.
"Sudah Ma, ini kopernya sudah siap. Apa kita akan pergi sekarang?" Jawab Karine sambil melihat kearah Mama nya.
"Iya...ayo turun. Biarkan Mang Dadang yang membawah kopernya" sambung Mama sambil memegang tangan Karine dan mengajaknya untuk turun kebawah.
Karine pergi dengan gontai, dia menuruni tangga dengan perasaan campur aduk. Seolah-olah banyak yang dia pikirkan saat ini, apa ini adalah keputusan yang paling tepat. Akan kah dia bisa hidup tanpa Fedro dan melupan semua masa lalu mereka, memikirkanya saja rasanya tidak sanggup.
Benar saat sampai dibawah semua sudah menunggu Karine, Mbok dan Tina terlihat sangat khawatir dengan keadaan Karine. Mukanya terlihat pucat, nasipnya benar-benar membuat mereka tidak habis pikir.
"Ambil koper Karine di kamarnya Pak, apa ada yang tertinggal sayang?" Tanya Papa saat Karine datang.
"Baiklah Tuan" jawab Pak Dadang sambil berjalan menuju kamar Karine.
"Sepetinya tidak ada, Mama dan Papa akan mengantar Karine kan?" Tanya Karine sambil memandang kearah Mama dan Papanya.
"Tentu saja kami akan menemani kamu sampai kamu masuk kuliah nanti, Oma sangat senang kamu tinggal di sana. Mereka bahkan sudah menyiapkan penyambutan kedatangan kamu nanti!" Jelas Mama bagaimana Oma sangat senang mendengar jika Karine akan tinggal disana bersama denganya.
"Apa kalian memberitahu Oma?" Tanya Karine lagi.
"Tentu saja tidak, Oma tidak tau apa-apa. Kami hanya mengatakan kalau ini adalah keinginan kamu sendiri dan dia percaya!" Jawab Papa membuat Karine lega.
"Bagus lah, sebaiknya Oma memang tidak perlu tau" sambung Karine sambil menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian setelah semua nya siap, mereka berangkat ke bandara bersama. Mama dan Papa rela melakukan ini semua demi Karine, dia tidak mau Fedro terlus masuk kehidupan Karine.
.
.
.
Beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai dirumah Oma, benar saja disana para keluarga sedang berkumpul untuk menyambut Karine dan orang tuanya.
"Akhirnya kalian sampai juga, Oma sudah dari tadi tidak sabar menunggu kedatangan kalian!" Ucap Yuri, sepupunya Karine yang tinggal disana.
"Benar sekali Tante juga sangat merindukan kamu Karine, sudah lama sekali kamu tidak berkunjung kesini" sambung Tante Lea sambil memeluk Karine.
"Karine juga sangat merindukan kalian, maaf jarang berkunjung kesini. Biasa lah Karine lagi sibuk ngurus perusahan cabang Papa!" Jawab Karine di selah pelukanya.
"Jangan diam di pintu saja, ayo biarkan mereka masuk" sahut Oma yang memandangi mereka.
"Oma...!" Panggil Karine lalu langsung memeluk Omanya.
"Mentang-mentang cucu kesayangan datang yang lain pada di cuekin. Iya nggak Tan?" Tanya Yuri pada Mama Elvi.
"Sudah-sudah ayo masuk, jangan berdebat disini" ajak Oma dan akhrinya mereka semua masuk kedalam.
Setelah beberapa menit mengobrol bersama, Karine memutusakan untuk istirahat karena dia cukup lelah memikirkan semuanya. Jika buka karena kedua orang tuanya yang selalu mendukung dan memberikan dukungan, mungkin saja dia sudah gila sekarang.
Karine merebahkan tubunya di atas kasur sambil memandang langit-langit kamarnya, dia terus menghembuskan nafasnya.
"Sangat berat sekali! aku tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini" ucap Karine sambil mengusap wajahnya.
"Kenapa kamu juga pergi meninggalkan Mama" Sambung Karine sedih sambil memandang sebuah foto bayi mungil di ponselnya.
Tok...
__ADS_1
Tok...
Tok...
"Karine apa kamu tidur?" tanya Mama dari luar sambil mengetuk pintu.
"Iya ada apa Ma?" teriak Karine langsung meletakan ponselnya dan bergegas membuka pintu kamar.
Karine pun membuka pintu, Mama masuk kedalam sambil membawah koper Karine yang ketinggal di bawah.
"Ini koper kamu ketinggalan dibawah tadi, kamu sedang apa?" tanya Mama sambil meletakan koper itu disamping lemari.
"Makasih Ma, tidak ada aku hanya rebahan" jawab Karine lalu kembali duduk di atas kasur.
"Mama dan Papa tidak bisa lama-lama disini, tadi Papa baru mendapatkan kabar kalau perusahan sedang ada masalah. Jadi kami harus pulang besok, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Mama sambil duduk disamping Karine dan memegang tangannya.
"Kenapa mendadak, bukan kah kalian bilang akan menemani aku sampai aku masuk kuliah bulan depan?" Karine terlihat kesal mendengar ucapan Mamanya.
"Disini sudah ada Oma, ada Yuri juga yang menemani kamu. Mama harap kamu mengerti!" Mama mencoba membujuk Karine.
"Terserah Mama..." jawab Karine pasrah.
"Mama akan sering kesini, bahkan jika minggu depan masalah perusahan Papa selesai kami akan menemani kamu disini" sambung Mama lagi dan Karine hanya menganggukan kepalanya.
"Mama harap kamu juga melupakan semuanya dan mulai hidup baru disini, lihat Mama! Mama sangat menyanyangi kamu. Kamu adalah harta paling berharga bagi kami, kamu harapan Mama dan Papa satu-satunya jadi jangan kecewakan Mama dan Papa" Mama mengelus pipi Karine.
"Aku tau, aku akan memulai hidup yang baru. Maaf karena menyusahkan Mama, aku juga bukan anak yang berbakti" jawab Karine sambil menundukan kepalanya.
"Aku menyesal! maafkan aku Ma" sambung Karine lagi, perasaanya benar-benar kacaw. Mungkin ini adalah karma karena dia keluarganya jadi berantakan, Fedro harus keluar dari rumah dan dia jadi hancur sekarang. Tidak ada akhir yang bahagia untuk mereka, hanya tersisah penyesalan yang mendalam.
"Tidak ini adalah takdir, kita juga tidak bisa melawannya. Sekarang kamu hanya harus bahagia" Mama langsung memeluk Karine.
"Terima kasih Ma....." Karine membalas pelukan Mamanya.
__ADS_1
"Sama-sama, Mama hanya bisa melakukan ini agar kamu bisa hidup bahagia. Setelah ini jangan ingat masa lalu, terlus lah membangun masa depan yang bahagia dan kejar impian kamu" jawab Mama sambil mengelus rambut Karine.
Jalan terbaik menurut takdir, kecewa penyesalan semuanya menjadi satu. Karine kehilangan semuanya, tidak hanya Fedro yang pergi tapi juga bayi mereka. Itu lah yang paling disesalkan oleh Karine, andai dia tidak egois untuk memiliki Fedro semuanya tidak akan berakhir begini.