
Mereka sedang berkumpul di ruang tamu, Mama menangis histeris. Bahkan beberapa kali dia memukuli Fedro, biasa-bisanya Fedro menghamili Karine. Semua orang yang ada disana juga sangat terkejut, Papa sampai pusing apa yang harus dia lakukan sekarang. Di sisi lain dia marah dan malu dengan keluarga jika mereka mengetahui ini semua, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Karine hamil tanpa suami.
"Maaf membuat Mama dan Papa kecewa, Fedro memang bukan anak yang berbakti. Tapi Fedro benar-benar mencintai Karine" Fedro berlutut di lantai sambil menundukan kepalanya.
"Apa maaf bisa mengembalikan semunya! ini adalah masalah besar dan kalian telah membuat malu keluarga ini!!" teriak Mama tak tahan lagi membendung amarahnya.
"Mau di apakan kalian ini?" tanya Papa sambil memijat kepalanya.
"Begini saja, aku akan menikahi Karine dengan orang lain. Jadi mereka tidak akan tau Karine hamil duluan" ide Mama membuat Karine dan Fedro terkejut.
"Tidak!! kami sudah menikah dan aku tidak akan menikah dengan orang lain" sahut Karine yang juga sudah berlutut di samping Fedro.
"Mama hanya mau yang terbaik untuk kamu!" jawab Mama agar Karine mengerti.
"Aku tidak akan menikah dengan orang lain, titik!" jawab Karine masih keras kepala.
"Berapa usia kandungan kamu?" tanya Mama lagi membuat Karine ragu dan Fedro pun langsung menggenggam tangan Karine.
"14 minggu" jawab Karine sambil menundukan kepalanya dan menghembuskan nafasnya.
"Baiklah kalau begitu gugurkan saja anak dalam kandungan kamu, Mama dan Papa akan mengirim Fedro ke luar untuk mengurus perusahan Oma di luar negeri. Ini adalah penawaran terakhir, Mama masih bisa memaafkan kesalahan kamu jika kalian berdua berpisah" usul Mama lagi tentu saja Karine tidak mau.
"Tidak!! aku tidak akan menggugurkan bayi ku dan aku juga tidak akan berpisah dengan Fedro" Karine langsung menggelangkan kepalanya.
"Kamu pikir membesarkan anak itu mudah, bahkan kamu tidak bisa mencuci. Apa lagi mengerjakan pekerjaan rumah, kamu masih terlalu mudah Karine!!" bentak Mama.
"Bujuk Karine untuk melakukanya Fedro, Mama akan memaafkan kesalahan kalian" sambung Mama melihat Fedro yang terus menundukan kepalanya.
"Maaf Ma, tapi Fedro tidak bisa membunuh anak Fedro sendiri. Fedro juga nggak bisa kehilangan Karine" jawabnya sambil menatap Mama.
"Berani sekali kamu!! Ya ampun rasanya kepala ku mau pecah" Mama terlihat memejamkan matanya.
__ADS_1
"Mbok Nem...!!" panggil Papa dan Mbok Nem pun langsung datang, dia juga gemetar karena Tuanya itu terlihat sangat marah.
"Iya Tuan" jawab Mbok Nem sambil menundukan kepalanya.
"Bantu bereskan pakaian mereka, usir mereka dari sini. Jangan sampai membawah uang dan kendaraan ku!!" perintah Papa.
"Pergi dari rumah ini, sekarang kalian bukan anak ku lagi. Jangan bawah uang sepeser pun, raskan bagaimana hidup susah di luar sana" sambung Papa sambil berteriak pada mereka.
"Mama tidak mau Karine pergi dari sini!" sahut Mama sambil menahan tangan Papa.
"Ini adalah keputusan terakhir, aku tidak butuh putri yang mempermalukan Papanya sendiri" jawab Papa lalu pergi dari sana.
"Papa...!" teriak Mama tapi Papa tidak menghiraukanya.
Mama hanya bisa terduduk lemas di sopa, Karine dan Fedro mengemasi baju mereka. Mereka juga hanya membawah satu koper, itu pun hanya baju bahkan Karine meninggalkan dompetnya serta Atm yang Papa berikan. Begitu juga dengan Fedro, semua uang yang dia dapat adalah hasil dari perusahan jadi di meninggalkan semuanya.
.
.
.
Sepanjang jalan Karine menggengam erat tangan Fedro, dia melihat wajah suaminya penuh dengan luka. Entah kemana tujuan mereka saat ini, Karine tidak tau dan hanya pasrah karena dia sangat mempercayai Fedro.
"Sayang kita mau kemana?" tanya Karine sambil memandangi wajah suaminya.
"Kita ke bandara Pak" ucap Fedro dan supir tasksi itu pun langsung menganggukan kepalanya.
"Aku akan mengajak kamu tinggal di kota S. Ini aku lagi menghubungi Angga untuk membantu kita, maaf membuat kamu hidup susah" jawab Fedro sambil mengelus pipi Karine.
"Tidak apa-apa, aku kuat asal bersama dengan kamu" jawab Karine sambil tersenyum.
__ADS_1
"Tapi kita harus tetap minta maaf pada Mama dan Papa, bagaimana pun mereka adalah orang tua kamu. Aku nggak mau hubungan kalian renggang karena ini!" sambung Fedro.
"Tentu saja, kita akan sama-sama mendapatkan restu Mama dan Papa. Mungkin setelah baby kita lahir" jawab Karine sambil mengelus perutnya.
"Terima kasih, aku bahagia. Kamu benar-benar membuat aku terkejut, dari kapan kamu tau kalau kamu hamil?" tanya Fedro yang juga ikut mengelus perut Karine.
"Kemarin saat di kantor aku muntah dan kepalah ku pusing, aku bercerita pada Lulu. Aku juga belum datang bulan membuat Lulu yakin kalau aku lagi hamil, jadi kami beli tes kehamilan dan hasilnya positif" jawab Karine menceritakan semuanya.
"Sebenarnya aku mau memberikan ini pada kamu" Karine mengambil gambas hasil usg dan alat tes kehamilanya di dalam tas.
"Ini dia, baby nya masih sebesar biji kacang" tunjuk Karine pada foto usg itu.
"Benarkah ini dia? luar biasa" sahut Fedro sambil mengelus foto itu dan Karine pun hanya bisa tersenyum.
Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di bandara, Fedro membantu Karine turun dai mobil. Walaupun dirinya juga masih sangat lemas, Karine melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum memasuki pesawat karena dia sedang hamil. Tapi untunglah semuanya baik dan Karine dalam keadaan sehat, mereka bisa melanjutkan perjalananya.
Membutuhkan waktu satu jam tiga puluh menitan untuk sampai di kota S, mereka berdua turun dari peswat menuju lobi bandara. Angga sudah mengirim pesan bahwa dia sudah ada di bandara menunggu kedatangan Fedro dan Karine, Fedro sangat berterima kasih karena Angga mau membantunya. Tidak mungkin dia meminta bantuan ibu panti, keuangan ibu juga sedang sulit belum lagi harus mengurus banyak anak-anak.
"Boss...!!" panggil Angga saat melihat Fedro dan Karine keluar dari sana sambil menarik koper mereka.
"Jangan panggil aku Bos, aku bukan bos kamu. Cukup panggil Fedro saja, terima kasih sudah mau menjemput kami" jawab Fedro setelah dia dan Karine menghampiri Angga.
"Tidak apa-apa, bukan kah kita temam. Teman memang harus saling membatu kan, apa mau aku carikan hotel atau tempat tinggal baru?" tanya Angga pada mereka.
"Tidak usah Ga, aku punya rumah di jalan A. Tolong antar kami kesana" jawab Fedro dan Karine cukup terkejut pasalnya suaminya punya rumah dan dia tidak tau.
"Baiklah aku akan mengantar kalian kesana, apa kamu baik-baik saja? atau perlu ke klinik terdekat?" tanya Angga menatap muka Fedro.
"Angga benar sebaiknya kita obati luka kamu dulu" sambung Karine.
Mereka pun pergi dari sana menuju klinik terdekat, luka di wajah Fedro cukup parah. Sepanjang perjalanan Angga banyak bertanya dengan mereka, setelah Karine menceritakan semuanya Angga turut perihatin dengan mereka. Sungguh besar ujian cinta mereka, tapi dia juga turut bahagia karena Karine juga sedang hamil.
__ADS_1