Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Bab 28


__ADS_3

"Menjelaskan seperti apa?" tanya Indra.


"Mas, jangan marah, dong! Nanti gantengnya hilang! Oh, iya. Keluargamu sudah tahu, kalau kamu sembuh dan wanita yang bernama Lisa, apakah dia--"


"Mereka belum tahu semuanya. Hanya kamu dan Yoga yang tahu," potong Indra.


"Mas Yoga?" gumam Tania kebingungan. "Kapan kamu memberitahukan Mas Yoga?" sambungnya lagi.


"Tanpa aku memberitahukan keadaanku, dia juga sudah tahu. Memangnya, kamu pikir, Yoga akan memberikanmu padaku di saat aku amnesia?" jawab Indra.


"Oh pantas, sewaktu menyebrang tadi Mas Yoga acuh padaku. Ternyata dia sudah menyadari kesembuhanmu. Dan untuk apa kamu membawaku kemari, Mas? Apa kita akan tinggal di sini lagi? Tapi beberapa pakaianku ada di apartemen Mas Yoga. Sebaiknya, kamu antarkan aku ke apartemen, lalu kita kembali ke rumah ini."


"Tidak Tan, Aku tidak bisa tiba-tiba kembali ke rumah ini untuk sementara waktu." jawab Indra lirih.


"Tapi kenapa, Mas? Apa jangan-jangan kamu sudah mempunyai perasaan kepada wanita itu? Kalau semua ucapanku ini benar, aku kecewa denganmu." kesal Tania beranjak dari sofa.


"Aku tidak bisa bukan berarti aku mempunyai perasaan kepada Lisa, Tan. Kamu ini istriku dan selamanya akan tetap menjadi istriku. Sebaiknya, kamu tetap tinggal di apartemen Yoga. Dan aku akan berpura-pura amnesia." jawab Indra menghampiri istrinya. "Sebaiknya, kamu masakan aku, saja. Aku lapar, Tan!"


"Ish, kemarin tidak mau mengakui kalau aku istrimu, sekarang giliran sudah ingat semuanya, kamu seenak jidat minta makan ke aku. Memangnya, aku asisten rumah tanggamu!" kesal Intan meletakkan tas nya di atas meja. Kemudian, dia berjalan menuju dapur.


Davien meraih dan membuka tas milik istrinya, dia dapat melihat ponselnya yang berada di tas.


"Tan, ini ponselku?" teriak Indra.


Tania membuka kulkas dan tak melihat bahan-bahan masakan. Segera Tania berjalan menuju ruang tamu, di mana suaminya berada.


"Mas, aku--"

__ADS_1


"Kamu pegang ponselku, Tan?" potong Indra memperlihatkan ponselnya.


"Iya. Ada salah satu warga yang menemukan ponselmu. Ambil saja, Mas. Aku ragu memberikannya padamu sedari kemarin." jawab Tania lalu menjatuhkan pantatnya di samping suaminya, "Mas, semua bahan-bahan di kulkas habis. Sepertinya, aku tidak bisa memasakkan makanan untukmu. Bukankah tadi, Mas Yoga sudah mentraktirmu bubur ayam di depan kantor?" sambungnya lagi.


Indra menarik tubuh istrinya mengikis jarak di antaranya.


"Tidak apa-apa. Aku pesan makan di aplikasi online saja. Kamu mau makan apa?" tanya Indra meraih mengambil ponsel istrinya.


Tania menautkan ke dua alisnya, "Kenapa pakai ponselku, Mas?" tanya Tania penasaran.


"Tidak apa-apa. Aku berjaga-jaga saja agar orang tuaku tidak tahu kalau ponselku sudah ketemu. Dan lebih baik, aku menggunakan namamu. Tapi, kamu tenang saja, Tan. Aku yang akan membayarnya." titah Indra menci um sekilas pucuk kepala istrinya.


"Harus, kamu ini suamiku. Dan tugas suami adalah memenuhi semua kebutuhan istrinya. Tapi aku sudah kenyang karena makan bubur tadi, Mas." lirih Intan melingkarkan tangannya di pinggang sang suami.


"Aku tidak butuh bantahan, sayang. Aku tahu, kamu baru makan bubur itu sedikit, kan? Jadi, sebagai gantinya ... kamu nanti harus makan yang banyak! Aku tidak mau istriku yang cantik ini sakit. Dan aku tidak mau, Yoga mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku heran padamu, kenapa kamu memberi izin pria sepertinya menginap di apartemen. Apa kamu tidak takut, kalau Yoga melakukan sesuatu hal yang tidak di inginkan, Hem? Aku takut, Tan. Kamu itu milikku dan selamanya akan menjadi milikku. Aku sempat cemas, karena melihat kedekatan kalian. Aku tidak mau, istriku yang sangat cantik ini, jatuh ke dalam pelukan pria semacam Yoga. Kamu hanya milikku, Tan!" ujar Indra panjang lebar.


"Tapi kalian tidak melakukan apapun di belakangku, kan. Kalian tidak satu kamar?" tanya Indra yang mendapat cubitan dari kecil dari istrinya.


"Kamu pikir, aku wanita mura han yang bisa dengan gampangnya di sentuh pria lain! Aku dan Mas Yoga pisah kamar. Mas Yoga sering ke apartemenku karena dia lapar." ketus Tania membuat jarak.


"Makan? Memangnya, dia tidak pernah pulang ke rumah? Atau dia tidak punya uang untuk membeli makan sampai-sampai harus minta kamu?"


"Ish, biar aku beritahu, Mas. Kamu tahu, apartemen sampingku itu di tempati wanita simpanan Mas Yoga. Ya, kamu sudah bisa menebak apa yang akan mereka lakukan di apartemen? Apa salahnya aku menolong sahabat suamiku sendiri? Dia juga sudah banyak menolongku di saat kamu tidak ada. Sudahlah, intinya aku tidak pernah satu kamar atau berbuat aneh-aneh dengan Mas Yoga. Aku masih menghargaimu sebagai suamiku!" ketus Tania beranjak dari sofa di ikuti oleh Indra di belakangnya.


"Tan, kamu marah?" tanya Indra.


Tak ingin menjawab pertanyaan suaminya, Tania melangkahkan kakinya menuju kamar.

__ADS_1


Melihat istrinya merajuk, Indra segera mengikuti langkah istrinya yang masuk ke kamar.


"Tan!" panggil Indra setelah berada di dalam kamar.


"Kamu pergi saja, Mas. Aku malas berdebat denganmu." usir Tania.


"Kamu tidak boleh marah denganku, Tan. Kita baru saja bertemu."


"Aku tidak marah denganmu. Aku hanya kecewa karena kamu tidak percaya." jawab Tania menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang. "Pergi saja, Mas. Kamu temui saja wanita yang bernama Lisa. Bukankah, dia kekasihmu? Dan kamu lebih mempercayai kekasihmu itu dari pada istrimu sendiri?" sindir Tania.


"Maafkan aku, sayang. Tapi Lisa bukan kekasihku. Dia hanya mengaku-ngaku saja. Dia hanya--"


"Hanya apa? Hanya masalalumu yang akan menjadi masa depanmu setelah denganku?" potong Tania dengan senyum getirnya.


Indra berjalan menghampiri istrinya. "Kamu bicara apa, Hem? Kamu masa depanku." rayu Indra.


"Pergi, mas. Aku malas bicara denganmu!" ketus Tania.


"Aku antarkan kamu pulang ke apartemen. Kita bicarakan semua ini di apartemen, okeh!" bujuk Indra meraih dan menggenggam tangan istrinya. "Jangan marah, dong! Nanti cantiknya hilang!" rayunya lagi.


"Aku memang tidak cantik seperti wanita yang bernama Lisa itu, Mas." ketus Tania membuat Indra gemas melihat kemarahan istrinya. Dia mencubit ringan pipi Tania.


"Mas, kamu jangan cubit pipiku. Aku sedang marah. Memangnya, kamu senang kalau aku marah, ha!" ujar Tania semakin kesal.


"Aku gemas, Tan. Lama kelamaan aku makan kamu!" goda Indra.


"Aku bukan makanan. Kamu pesan saja, makanan di aplikasi online!" jawabnya lagi.

__ADS_1


"Ponselku ada di ruang tamu. Lebih baik, aku makan yang ada saja!" goda Indra menaik turunkan alisnya.


__ADS_2