Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Bab 21


__ADS_3

Mendengar semua yang di katakan Yoga, entah kenapa hati Tania seperti bergetar.


'Aku tidak percaya, Mas Yoga bersikap sangat perhatian padaku.' batin Tania.


"Aku tunjukkan kamarmu, Mas. Kamu bisa ikuti aku!" titah Tania berjalan lebih dulu di ikuti oleh Yoga di belakangnya.


Ke esokkan harinya. Tak main-main dengan ucapannya, kini tepat di pukul 6 pagi, Yoga sedang mengetuk pintu kamar istri sahabatnya.


"Tan, bangun! Aku sudah bilang semalam, kan? Kalau kamu akan ikut bersamaku ke kantor? Jadi, sekarang ... bangunlah!" titah Yoga membuat wanita yang sedang berada di alam mimpinya terbangun.


Tania menggeliat, dia merentangkan ke dua tangannya di ke samping sambil meluruskan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Hoam, jam berapa ini?" gumam Tania menatap jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi.


Tok ...


Tok ....


"Tania, bangun! Kamu dengar ucapanku, kan? Atau jangan-jangan kamu masih membuat peta di bantal tidurmu?" teriak Yoga dari luar kamar.


'Peta?' batin Liana mengusap area bibirnya. "Enak saja, tidurku tidak seperti tidurmu yang membuat peta di kasur!" kesal Tania menurunkan kakinya.


"Tan, buka pintunya!" kesal Yoga saat tak mendengar jawaban dari istri sahabatnya.


Krek!


Pintu terbuka dari dalam kamar. Dan Tania dapat melihat pria pengganggu tidurnya sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Mas, please! Ini masih pagi! Jangan membuat keributan di pagi hari!" kesal Tania tak lama kemudian dia menguap.

__ADS_1


"Cepat bersiap-siap! Aku tidak mau kita terlambat. Karena meeting ini sangat penting!" titah Yoga.


"Mas, kamu tahu kalau meeting ini sangat penting, tapi kenapa kamu malah membangunkanku. Kamu bisa pergi seorang diri tanpa aku, Mas!" kesal Tania, "Jangan jadi pengganggu, deh! Aku masih ngantuk!"


"Tidak bisa, Tania. Aku tahu, apa yang mau kamu lakukan di belakangku. Aku tidak mau, diam-diam kamu mencari pekerjaan. Aku juga tidak mau menjadi sahabat terburuk di mata Indra. Sebaiknya, kamu mandi dan bersiap-siap. Kamu bisa lanjutkan tidurmu di kantor nanti!" titah Yoga.


Tania menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu kamarnya.


"Iya, kamu siap-siap dulu. Kamu saja masih pakai pakaian semalam. Memangnya, kamu mau meeting menggunakan pakaian semalam yang bau." ejek Tania.


"Itu urusan mudah. Sekarang, kamu mandi, jangan sampai aku meminta orang untuk memandikanmu!" ancam Yoga membuat Tania membulatkan matanya tak percaya dengan cara berpikir sahabat suaminya.


"Kamu bicara apa, Mas? Kamu mau meminta orang untuk memandikanku? Memangnya aku orang matti, apa! Ya, sudah, sanah pergi! Aku janji, akan bersiap-siap secepat mungkin." usir Tania merebahkan tubuhnya lagi di kasur.


Yoga menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah laku wanita yang tak jauh darinya.


"Tania!" pekik Yoga.


Sedangkan di satu sisi. Indra kini sudah siap dengan pakaian polosnya.


"Aku harus menemui Tania. Aku yakin, dia pasti kesepian tanpaku. Tapi tunggu dulu, sebelum aku kecelakaan, aku sempat menitipkan Tania kepada Yoga. Apa kini, Tania bersama Yoga? Gara-gara ponselku hilang, jadi aku tidak bisa menghubungi yoga. Jika seperti ini, lebih baik aku datangi Yoga saja ke kantor." gumam Indra memakai jaketnya dan keluar kamar.


Setelah berada di luar kamar. Indra dapat melihat Lisa dan ibunya yang sedang menonton acara televisi pagi hari.


"Ndra, kamu sudah rapi saja, Ini baru jam setengah tujuh pagi. Memangnya, kamu mau kemana?" tanya Ratu saat melihat putranya keluar kamar.


Lisa menatap penampilan pria di hadapannya. "Iya, kamu mau kemana, Ndra? Jangan bilang, kamu mau membuktikan ucapan wanita itu?" tebak Lisa.


"Ucapan wanita itu? Memangnya, siapa dan apa ucapannya?" tanya Ratu penasaran.

__ADS_1


"Itu Tan. Tante tahu wanita yang mengaku-ngaku menjadi istri Indra, kan? Semalam sewaktu aku dan Indra pergi. Kita Bertemu lagi dengan wanita itu. Dan parahnya, wanita itu merekayasa foto pernikahan orang lain, demi Indra percaya, kalau dirinya memang istri Indra. Beruntung, Indra tidak percaya dengan ucapannya. Indra langsung mengusir wanita itu, Tan!" ucap Lisa panjang lebar.


"Wanita yang berna Tania?" tanya Ratu memastikan.


"Iya, siapa lagi yang mengaku-ngaku menjadi istri Indra selain wanita kampung yang bernama Tania." jawab Lisa yang tanpa di sadari menyinggung perasaan Indra.


'Aku harus tahan emosi. Aku tidak mungkin marah-marah di depan mereka. Bisa-bisa aku ketahuan, kalau aku sudah ingat semuanya. Dan yang mengaku-ngaku di sini itu, kamu ... Lisa! Bukan tania.' geram Indra dalam hati.


"Memang, ya, wanita itu tidak mempunyai harga diri dan perasaan malu. Sudah tahu, kamu kekasih Indra. Tapi tetap saja, mereka nekat untuk memberi kabar palsu!" kesal Ratu.


"Aku hanya ingin menghirup udara segar di pagi hari. Jadi, kalian tidak perlu berpikir aneh-aneh padaku." jawab Indra setelah sekian lama terdiam.


Mendengar jawaban putranya, seketika Ratu bangkit dari sofa. Dia mengeluarkan pendapatnya.


"Itu ide yang bagu, tapi ibu lebih suka, kamu di temani Lisa. Agar hubungan kalian semakin dekat. Dan satu hal lagi, kamu tidak perlu mengingat masalalu. Lebih baik, kamu mulai lembaran baru bersama Lisa. Kenangan kalian berdua, biarlah menjadi kenangan. Sekarang, tugas kalian menciptakan moment-moment terbaru kalian!" titah Ratu.


"Aku tidak bisa, Bu. Aku mau berjalan-jalan sendiri. Aku mau mengingat semua kenangan itu. Menurutku, kenangan itu sangat penting." tolak Indra lalu menatap wajah Lisa, "Maafkan aku, kali ini ... aku tidak bisa membawamu. Aku butuh waktu dengan diriku sendiri!".


"Aku tahu, tapi Tante hanya ingin yang terbaik untukmu. Tante Ratu tidak mau melihatmu sedih. Biar aku temani dan aku yang menyetir mobil. Kamu bisa duduk manis, Ndra!" rayu Lisa.


"Aku tidak bisa! Tolong hargai aku!" pekik Indra.


"Ya, sudah. Kalau begitu, aku ikuti kamu menggunakan mobil ya? Aku takut, kamu tersesat di jalan!" tawar Lisa yang lagi dan lagi mendapatkan penolakan.


"Sudah aku bilang, aku mau sendiri. Tolong hargai aku! Walaupun aku terluka, tapi aku juga membutuhkan waktuku sendiri." kesal Indra melanjutkan langkahnya keluar rumah dan masuk ke dalam mobil.


Melihat semua itu, Lisa segera mengejarnya, tapi lagi dan lagi langkahnya di halangi oleh Ratu.


"Sudahlah. Biarkan saja Indra pergi. Tante yakin, Indra hanya pergi di sekitar komplek rumah!" cegah Ratu.

__ADS_1


"Tapi, Tan, bagaimana kalau mereka bertemu di belakang kita? Aku tidak mau usahaku sia-sia!" kesal Lisa.


"Usahamu tidak akan sia-sia. Tante pastikan, Indra jatuh ke pelukanmu!" jawab Ratu.


__ADS_2