
Tania menarik ke dua sudut bibirnya tipis, "Aku bukan makanan." ujarnya lagi.
"Tapi aku lapar, sayang!"
"Mas, bagaimana kalau kita pulang ke apartemen? Di sana ada beberapa bahan makanan. Dan kita undang Mas Yoga untuk makan malam bersama kita. Setidaknya, kamu harus mengucapkan kata terimakasih karena Mas Yoga mau merawat dan menjagaku di saat kamu sakit." saran Tania.
"Harus sekarang? Tidak bisa nanti atau--"
"Kamu mau apa, Hem? Kita pulang sekarang. Tapi setelah di jalan nanti, kita cari mini market terdekat. Kita cari makan di mini market untuk mengganjal perutmu." potong Tania bangkit dari tepi ranjang dan berjalan keluar kamar.
Indra menghela napasnya kasar saat melihat istrinya keluar kamar.
"Padahal, bukan ini yang aku inginkan, tapi aku tidak bisa membujuk Tania di sini." gumam Indra menyusul langkah kaki istrinya keluar kamar.
Tania mengambil tas dan ponselnya. "Ayo, kita berangkat, Mas. Jangan sampai kita sampai apartemen malam hari. Kasihan Mas Yoga!" teriak Tania.
"Kamu selalu mengkhawatirkan Yoga tapi kamu tidak peka terhadap suamimu sendiri, Tan." keluh Indra.
"Aku tahu apa yang kamu inginkan. Tapi aku--" ucapan Tania terjeda, dia mencoba mencari kata-kata yang mudah di pahami suaminya.
"Apa? Kamu malas berduaan denganku?" kesal Indra berjalan keluar rumah.
Tania tersenyum tipis dan menghampiri suaminya.
"Kenapa tidak menjawab? Itu artinya, kamu mengakui, kalau kamu tidak mau berduaan denganku?" ketus Indra yang mendapat gelengan kecil dari istrinya.
"Ini masih siang, Mas. Sebaiknya, kita ke apartemen dan kita masak untuk makan malam kita bersama. Aku akan menghubungi Mas Yoga." jawab Tania mengalihkan pembicaraannya.
Indra membukakan pintu mobil untuk istrinya, "Masuklah," titahnya dengan nada dingin.
Tania menggelengkan kepalanya, "Kamu masih marah, Mas?" tanya Tania sembari menjatuhkan pantatnya di bangku dekat bangku kemudi.
Indra menutup pintu mobil dan berjalan memutari mobilnya.
"Mas, kamu marah denganku?" tanya Tania.
"Menurutmu, bagaimana?" tanya Indra setelah masuk dan duduk di bangku kemudi. "Sudahlah, lebih baik kamu istirahat saja. Jika sudah sampai, aku akan mengabarimu." sambungnya lagi.
__ADS_1
"Mas, aku hanya tidak ingin kita pulang terlalu malam. Orang tuamu akan cemas saat putranya yang berpura-pura amnesia ini belum pulang. Mereka pasti berpikir, jika kamu lupa jalan pulang rumahmu sendiri. Kamu bisa mengerti apa yang aku rasakan, kan?"
"Aku tidak perduli dengan mereka. Kita sudah lama tidak bertemu, Tan. Apa salahnya aku meminta." ketus Indra menancapkan gas mobilnya lebih cepat.
Sedangkan di satu sisi. Ratu melihat jam di dinding rumahnya yang sudah menunjukkan pukul 1 siang.
"Tan, sudah berapa jam, Indra di luar rumah. Aku takut, terjadi sesuatu dengan Indra." lirih Lisa membuat Ratu semakin cemas dengan keadaan putranya.
"Kamu jangan berbicara seperti itu, Lis. Ibu juga mencemaskan Indra. Tapi mau bagaimana lagi? Kita tidak tahu kemana perginya Indra." keluh Ratu.
"Atau begini saja, kita cari Indra bersama-sama. Siapa tahu, Indra sedang di rumah teman atau singgah di tempat favoritnya?" ucap Lisa.
Mendengar ucapan Lisa, Ratu langsung menjatuhkan pantatnya di sofa. "Apa kamu lupa dengan keadaan Indra yang sekarang? Dia sedang amnesia, Lis! Bagaimana, dia tahu di mana rumah dan nama temannya. Kecuali sahabatnya Yoga. Mungkin saja, Indra sedang bersama Yoga?" tebak Ratu.
"Apa Tante yakin? Semalam aku bertemu dengan pria dan wanita itu. Dan aku sudah berhasil membuat Mas Indra tak percaya dengan semua ucapan wanita itu." ujar Lisa dengan bangga.
"Syukurlah, jika kamu berhasil menghasut Indra. Intinya, Tante tidak mau ... Indra dan wanita itu kembali bersama. Tante tidak mau mempunyai menantu yang berasal dari keluarga tidak mampu. Walaupun Indra sangat mencintai gadis itu, tapi Tante akan melarangnya keras!"
"Tante berdoa saja, agar sakit Indra berkepanjangan." jawab Lisa ikut menjatuhkan pantatnya di sofa.
"Iya. Bukankah, jika Indra amnesia, Indra tidak akan ingat dengan wanita itu?"
"Tapi Tante tidak setuju dengan ucapanmu, Lis. Tante tetap menginginkan Indra untuk sembuh. Maka dari itu, Tante mau ... kamu meluluhkan hati Indra secepatnya." jawab Ratu. "Kita tunggu sampai sore. Jika sore, tidak ada tanda-tanda Indra pulang ke rumah. Tante akan suruh supir untuk mencari Indra." sambungnya lagi.
"Harus sore, Tan? Tidak bisa sekarang saja? Aku takut terjadi sesuatu dengan Indra."
"Berpikirlah positif. Jangan membuat Tante semakin cemas."
Setelah perjalanan beberapa jam. Kini, mobil yang di tumpangi Tania sudah sampai di depan lobby apartemen.
"Jangan marah, Mas!" bujuk Tania menggenggam tangan suaminya. "Aku tidak mau melihat suamiku marah."
"Turun dan masuklah. Kita bertemu di dalam lift saja." titah Indra membuat Tania menghembuskan napasnya kasar.
"Ya, sudah. Aku turun dan aku akan tunggu kamu di dalam lift. Kamu berikan saja kunci mobilmu kepada security yang sedang berjaga." ujar Tania membuka pintu mobil dan turun di ikuti oleh Indra.
Indra memberikan kunci mobilnya kepada security yang sedang berjaga.
__ADS_1
Tania berjalan lebih dulu dan mereka bertemu di dalam lift.
Di satu sisi. Yoga telah sampai di depan apartemen miliknya. Dia ragu untuk mengetuk apartemen istri sahabatnya, tapi cacing di perutnya sudah berbunyi meminta makan.
"Aku lapar, tapi aku lebih menyukai masakan Tania dari pada makanan yang siap saji." keluh Yoga.
Setelah berpikir sejenak. Yoga membunyikan bel apartemen serta ketukan di pintu apartemen Tania.
Ting ...
Tong ....
"Tan!" panggil Yoga.
"Aku ada di sini, Mas!" jawab Tania yang baru saja keluar dari dalam lift bersama suaminya.
Yoga menoleh dengan memberikan senyum kebahagiaannya.
"Aku lapar. Kamu masak apa di dalam?" tanya Yoga.
Tania mengambil kunci dan membuka pintu kamar apartemennya.
"Bagaimana, kabarmu?" tanya Yoga basa basi kepada Indra.
"Aku baik-baik saja. Terimakasih sudah mau menjaga dan merawat istriku. Itu adalah permintaan pertama dan terakhirku menyangkut istriku!" ujar Indra.
Yoga menautkan ke dua alisnya, "Permintaan pertama dan terakhir. Apa kematian sudah mendekat ke arahmu?" tanya Yoga.
Indra menginjak sepatu sahabatnya, "Kau pikir, aku akan mati cepat, ha! Lalu, senak jidat, kamu mendekati istri orang."
"Tapi ucapanmu, tadi?" tanya Indra.
"Ayo, masuk! Jangan bertengkar di depan apartemen. bertengkarlah di dalam. Sekalian, aku mau membuatkan makan malam untuk kalian berdua." titah Tania setelah pintu apartemennya terbuka.
Indra masuk lebih dulu dengan menarik tangan istrinya.
"Aku tidak mempunyai tenaga untuk bertengkar dengan Indra. Yang aku butuhkan hanyalah makanan darimu!" titah Yoga menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu.
__ADS_1