
Setelah memberikan surat cerai itu Fedro juga punya permintaan, dia tidak yakin permintaannya akan di terima oleh Papa. Tapi Fedro salah dengan senang hati dia memberikanya dan menyanggupinya, bahkan dia ingin memberikan cabang perusahan untuknya.
"Aku punya permintaan! setelah ini aku tidak akan mengganggu hidup Karine lagi" ucap Fedro sambil menatap tajam pada Papa.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Papa balas menatap Fedro.
"Aku mau anak ku, setelah dia lahir biarkan aku merawatnya" jawab Fedro yakin tanpa ada keraguan.
"Baiklah aku setuju! kami juga tidak menginginkan anak haram kalian" sambung Papa membuat Fedro sedikit tersinggung karena ucapnya sangat menyakitkan.
"Dia bukan anak haram, bahkan dia ada setelah kami menikah" Fedro membantah ucapan Papa.
"Tetap sama saja karena kami tidak pernah merestui pernikahan kalian, kamu bertindak terlalu jauh hingga lupa diri" sahut Papa sambil menunjuk dada Fedro.
"Ya aku tau aku memang lupa diri, setelah anak ku lahir aku akan mengambilnya. Setelah itu aku tidak akan menganggu Karine atau keluarga kalian lagi!" jawab Fedro ingin mengakhiri ini semua.
"Baiklah kita sepakat, aku akan membantu kamu membawah anak itu setelah lahir dan Karine tidak perlu tau kalau kamu yang merawatnya. Kami akan menukar nya dengan bayi yang telah meninggal agar Karine percaya!" jelas Papa dengan rencanya yang telah dia susun matang.
"Aku setuju, tolong lepaskan aku dan jangan ganggu aku lagi. Aku akan hidup tenang di kota S" sambung Fedro agar Papa tidak mengganggu kehidupanya lagi.
"Tentu saja aku akan melepaskan kamu, bahkan aku akan memberikan kantor cabang untuk kamu di kota S. Hidup lah dengan tanang disana dan anggap kita tidak punya hubungan apa-apa setelah ini" jawab Papa menyanggupi segala keinginan Fedro.
"Aku tidak perlu harta Papa, terima kasih untuk semuanya" Fedro berlutut di depan Papa Jo dengab posisi kaki yang masih terikat.
Dengan kesadaran penuh, Fedro mencium kaki Papa Jo sebagi rasa hormatanya dan terima kasih atas apa yang telah diberikan Papa selama ini.
"Maafkan aku tidak bisa menjadi anak yang berguna, aku juga menyesal karena semuanya berakhir seperti ini. Aku harap Papa bahagia, aku tidak pernah menaruh dendam dengan kalian dan akan selalu berdoa yang terbaik untuk kalian" ucap Fedro lalu mencium kaki Papa.
__ADS_1
"Bangun tidak usah seperti ini!" teriak Papa yang sebenarnya tidak tega, dia tau Fedro karena dia yang membesarkanya.
"Buka ikatanya, antar dia pulang!" sambung Papa lalu pergi dari sana, sedangkan Fedro hanya terduduk sambil memandang kepergian Papa.
"Apa ini akhir semuanya? seharusnya kamu tidak memulainya Karine Vandela. Seharusnya aku sudah tau dia tidak akan mau bertahan" teriak Fedro dalam hatinya.
Bram membuka ikatan kaki Fedro, lalu dia membantu Fedro berdiri. Bram ingin mengantar Fedro pulang ke apartemenya tapi Fedro tidak mau, dia mala memilih untuk pulang ke hotel dimana dia menginap saat ini.
.
.
.
Sedangkan Karine langsung mengusir Mamanya setelah panggilan telpon Papa tadi, Mama masih berdiri di depan pintu kamar Karine walaupun Karine sudah menguncinya. Terdengar bunyi benda jatuh, mungkin Karine melemparkan semuan benda di kamarnya. Mama tidak berani menegurnya karena dia tau bagaimana perasaan Karine saat ini, tidak mungkin juga Karine bunuh diri karena dia sangat menyanyangi anaknya.
Karine menangis histeris, setelah lelah meleparkan semua barang di kamarnya. Dia terduduk lemas di lantai, ini kah akhir dari hubungan mereka. Sungguh tragis sekali pikirnya, tidak ada pilihan lain lagi jika tidak salah satu dari mereka mati.
Bahkan Karine tertidur di lantai sampai malam, Mama sangat khawatir mereka bertiga berdiri didepan pintu kamar Karine dari tadi. Mbok Nem dan Tina juga ikut sedih dengan keadaan Karine, sungguh malang nasipnya.
Besoknya Karine bangun dengan rasa nyeri pada perutnya, selain itu keluar flek hitam. Karine langsung keluar memanggil Mbok Nem, kebetulan Mama juga masih ada di sana. Saat Karine berteriak mereka semua langsung menghampiri Karine.
"Mbok...!" teriak Karine.
"Mbok Nem....!!" panggil Karine sambil buru-buru turun dari tangga.
"Ada apa sayang, pelan-pelan kamu bisa jatuh!" Mama langsung berlari menghampiri Karine begitu juga dengan Mbok Nem.
__ADS_1
"Ada apa Non?" tanya Mbok Nem saat menghampiri Karine.
"Keluar darah dari v*gin* ku Ma, ayo kita kerumah sakit sekarang. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama dia" jawab Karine Mbok dan Mama pun panik.
"Cepat suruh Mang Dadang ataupun siapa yang ada di luar untuk menyiapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Mama dan Mbok Nem langsung pergi keluar.
"Baik Nyonya" jawab Mbok Nem sambil menganggukan kepalanya.
"Ayo sayang Mama bantu kamu!" sambung Mama sambil memapah Karine untuk berjalan keluar.
"Jika terjadi apa-apa padanya aku akan menyalahkan Mama dan Papa" Karine menatap Mamanya dengan perasaan kesal.
"Sudah lah itu tidak penting, ayo pergi ke rumah sakit dulu" jawab Mama tidak menghiraukan ucapan Karine.
Mobil pun sudah siap, mereka pergi menuju rumah sakit. Karine tak henti-hentinya mengelus perutnya, dia harap anaknya akan baik-baik saja. Mama juga langsung menelpon Papa, Papa yang mengetahui itu langsung menuju rumah sakit.
Sampai diruma sakit mereka langsung menuju ruangan UGD, dokter pun langsung melakukan pemeriksaan pada Karine. Karine tidak mau melahirkan prematur, dia akan benar-benar menyalahkan Mama dan Papa karena mereka semua ini terjadi. Bahkan dia tidak nyenyak tidur selama empat bulan ini karena memikirkan hidupnya, bahkan kini dia telah menyerah dan meninggalkan Fedro untuk mempertahankan anaknya.
"Bagimana keadaanya Ma? apa Karine baik-baik saja?" tanya Papa yang baru saja datang, dia berlari menuju UGD tadi.
"Belum tau Pa, Karine masih di periksa oleh dokter. Semoga saja dia baik-baik saja, Mama takut dia melahirkan duluan padahal ini belum bulanya" jawab Mama sambil meramas tanganya.
"Mama tenang saja, semoga itu tidak terjadi. Yang terpenting Karine selamat dan aku tidak perduli dengan anaknya, jika dia mati lebih bagus. Bukan kah kita tidak mengingkanya!" sambung Papa lagi.
"Papa ini bicara apa, Mama sangat menyesal telah membuat Karine menderita seperti ini. Sepanjang jalan tadi Papa tau dia ngomong apa? jika tejadi sesuatu dengan anaknya maka dia tidak akan memaafkan kita" sahut Mama terlihat emosi.
"Itu hanya omongan Karine saja, dia tidak akan berani macam-macam karena aku punya kartu As nya" jawab Papa sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Apa yang Papa rencanakan lagi? aku nggak mau terlibat lebih jauh" tanya Mama sambil menatap suaminya.
"Kamu akan tau sendiri nanti" jawab Papa lalu duduk disamping Mama sambil memperhatikan tirai net tempat pemeriksan Karine.