Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Saat di Mol


__ADS_3

Setelah Mama Andin menyuruh Jingga masuk ia langsung pergi kedalam menemui Awan. Saat itu Awan berada dalam kamar akan bersiap pergi mandi. Tanpa di sadari Awan, pintu kamarnya terbuka saat ia masih telanjang dada.


Disaat itu pula Jingga berada di depan kamar Awan sambil menggigit bibirnya ia menjerit dalam hatinya karena kagum melihat bentuk tubuh Awan yang Atletis mulus dan putih. "Ya ampun Bang Awan," ujarnya ternganga.


Mendengar ada yang datang sontak Awan melindungi dadanya yang berbulu dengan kedua tangannya. "Jingga? ngapain di sini?" ucap Awan merasa malu terciduk hanya memakai celana pendek dan tidak berbaju ia pun berusaha mencari handuk untuk menutupi tubuhnya.


"Maaf Bang, aku tidak sengaja. Hihi ... gak apa-apa kok jangan malu gitu sama aku, kita kan udah dekat dari kecil," ucap Jingga sambil tertawa dan berusaha menutupi rasa malunya karena sudah mendapati Awan di kamar dalam keadaan begitu.


"Hem, iy-iya. Tapi, kamu kok kamu tiba-tiba kesini sih gak permisi lagi!" Awan merasa kesal dengan sikap lancang Jingga.


"Aku tidak sengaja Bang, kirain Bang Awan cuma tiduran di kamar."


"Lain kali ketuk pintu dulu kalau ada perlu."


"Tadi kan pintunya terbuka Bang," Jingga membela dirinya sendiri.


"A- ya sudahlah, gak apa-apa!" Awan membuang napas kasar sudah terlanjur lihat juga akhinya ia pasrah tidak mau mempermasalahkan hal itu lagi.


Kok bisa lupa tutup pintunya sih tadi, batin Awan menyalahkan dirinya sendiri.


Awan membelitkan handuk di pingggangnya sambil berkata pada Jingga yang setengah merem.


"Ada perlu apa kamu ke sini?" tanyanya.


"Tadinya aku cuma mau ajak Bang Awan jalan-jalan ke Mol mau?" Jingga menawarkan.


"Maaf aku tidak bisa, luka di kakiku masih sakit," tolak Awan beralasan.


"Bang Awan tenang saja, biar aku yang menuntun Bang Awan jalan. Oke?" rayu Jingga.

__ADS_1


"Aku capek," ujar Awan lagi.


"Capek? Emang Bang Awan cepek ngapain, kan cuma diam di rumah saja." Jingga masih ngotot mengajak Awan.


Rupanya Jingga tidak tau kalau Awan barusan pulang jalan sama Niko dan Senja sebelumnya.


Awan pun berpura-pura cari alasan lain dan Jingga pun tidak lagi memaksanya untuk pergi. Jingga pergi dengan kesalnya menemui Mama Andin yang sudah berada di mobilnya. Sedangkan Awan melanjutkan aktivitas ya yang tertunda yaitu mau pergi mandi.


"Jingga selalu buat kesal bagaimana caranya mencegah perbuatannya yang selalu bikin jengkel itu, Mama sih pake acara sok-sok dekat gitu dengan Jingga selama ini aku yang reportnya," gerutu Awan sendirinya.


"Gimana Awan jadi pergi?" tanya Mama Andin yang tampak sudah tak sabar lagi mau pergi.


"Tidak mau Tan, katanya dia lagi gak mood"


"Dia memang gitu orangnya semenjak pulang dari rumah sakit bawaannya uring-uringan mulu. Tante juga gak abis pikir kenapa dia jadi begitu," ujar Mama Andin kesal dengan sikap anaknya.


"Paling dia kangen sama pacarnya itu Tan," sahut Jingga dengan nada kesal.


"Syukur deh kalau gitu. Ayo kita pergi saja Tan," ajak Jingga yang sudah mulai duduk menyetir.


"Oke pelan-pelan saja!" Mama Andin memasang sabuk pengaman Jingga juga mereka pun jalan.


Mereka sudah tiba di Mol.


Mama Andin memandang sekeliling tempat ia kagum melihat semua benda dan pakaian semua bagus di pandangan matanya hingga ia setiap liat barang yang disukainya selalu dicobanya. Jingga pun menyuruhnya untuk memilih beberapa helai baju yang di sukai dan ia yang akan membayarnya. Mama Andin pun dengan semangatnya memilih pakaian yang dia suka.


Aduh ini Mak-mak lapar mata, gak bisa liat barang bagus langsung disosornya, gimana nih kalau uang nya gak cukup, batin Jingga rada panik.


"Jingga Tante sudah selesai milih, semuanya bagus bisa bantu Tante bawain gak?" pinta Mama Andin sambil menyodorkan beberapa helai baju.

__ADS_1


Astaga! sudah dibayarin minta bantu lagi, Jingga terseyum tipis tapi dalam hati mengeluh.


Mama Andin sudah membawa beberapa baju untuk ke kasir, sementara Jingga masih mematung.


"Kenapa Tante Andin jadi gini sih, dulu gak gini kok, ya ampun gimana kalau Mama tau uang nya habis." Jingga kalang-kabut mau cari alasan apa untuk bikin alasan kalau uang yang di pegang nya gak cukup bayar semua pakaian yang di pilih Mama Andin.


"Jingga ...! itu pemilik tokonya kita kesana," Panggil Mama Andin.


"Iya Tante ...!" Jingga mendekat ia semakin panik.


Mama Andin mengantarkan semua belanjaannya pada kasir dan memperlihatkan harga yang harus di bayar. Jumlahnya mencapai jutaan. Mata Mama Andin melotot mendengar harga yang di ucapkan Kasir itu, ia pun memberitahu Jingga.


Mama Andin memberitahu harga belanjaannya dan Jingga langsung menepuk jidatnya berpura-pura ketinggalan dompet. "Aduh Tante maaf banget, Dompet aku ketinggalan di rumah yang ada cuma segini gak apa-apa ya Tan, lain kali saja kita belanja lagi di sini." ucap Jingga sambil memperlihatkan beberapa uang seratus ribu pada Mama Andin.


"Oh iya gak apa-apa kok Jingga, Tante bisa balikin sebagian pakaian itu kalau gak cukup. Hehehe," Mama Andin malu bukan main karna memilih terlalu banyak. Ia pun menemui kasir dan mengembalikan beberapa pakaian yang tidak jadi dibelinya kemudian mengembaliakan pakaian tersebut ke tempatnya semula.


"Kasian banget Tante Andin, padahal pakaian itu sudah di pilihnya," lirih Jingga sedikit malu saat membayar beberapa pakaian tersebut namun hal itu menurutnya lucu ia pun tertawa dalam hatinya.


"Jingga maaf yah Tante khilaf pilih pakaian ya terlalu banyak." ucap Mama Andin sungkan.


"Iya gak apa-apa kok Tan, lain kali nanti Jingga ajak ke sini lagi."


Mereka pun pergi dari toko tersebut dengan rasa malunya.


"Kok dompet kamu bisa ketinggalan gitu sih Jingga, gimana ceritanya?" tanya Mama Andin kurang yakin dengan alasan Jingga. Ia merasa malu saat di toko tadi tapi ia menahan rasa malunya itu.


"Itu dia Tan, jingga juga gak tau tiba-tiba gak ada di tas. Untung saja bawa dompet yang lain kalau gak kita pasti gak bisa pulang Tante." Jingga tertawa.


"Emang kenapa gak bisa pulang?" Mama Andin bingung.

__ADS_1


"Bensin mobil juga belum di isi ternyata Tan, hari ini Jingga benar-benar lupa segalanya. Tapi Tante tenang saja, Jingga masih ada uang kok buat beli bensinnya ha-ha-ha," Jingga menertawai dirinya sendiri.


"Ada-ada saja kamu Jingga," Mama Andin ikut tertawa dan geleng kepala. Setelah cekikikan tertawa mereka masuk ke mobil dan pulang.


__ADS_2