
Saat menghitung jumlah belanjaan mereka tiba-tiba Karine ingin kebelet pipis, dia menurun Malik untuk menunggu disana. Sedangakn dia dan Mbok Nem pergi ke toilet, tapi dengan diikuti oleh Tian bodyguard satu nya. Karine pun tidak mempermasalahkan itu, dia pun langsung mengajak Mbok Nem masuk ke toilet cewek. Sedangkan Tian menunggu mereka di depan pintu masuk, tidak mungkin dia juga masuk kedalam.
"Mbok tunggu disini, aku pipis dulu!" ucap Karine memberikan tasnya lalu masuk kedalam salah satu toilet.
"Iya Non, Mbok tunggu disini" jawab Mbok Nem yang menunggu di depan kaca dekat tempat cuci tangan.
Tidak lama kemudian ada seseorang yang masuk kedalam, Mbok pun langsung menoleh ke pintu masuk. Mbok terkejut karena yang masuk adalah seorang laki-laki bertopi dengan memaki masker, sangat mencurigakan.
"Tolo...!!" belum selesai Mbok Nem berbicara laki-laki itu langsung membuka maskernya.
"Tuan Fedro...." sambung Mbok Nem terkejut.
"Diam Mbok, jangan teriak. Tolong izinkan aku menemui Karine sebentar" mohon Fedro dan saat melihat Fedro yang memohon seperti itu Mbok Nem pun megangukan kepalanya.
"Baiklah Mbok akan menunggu disana" tunjuk Mbok Nem dekat pintu masuk, tapi beruntung lah toilet sepi.
"Mbok aku..." Karine terkejut saat ada seseorang langsung mendorongnya masuk kembali.
"Siapa kamu? jangan sakiti aku!" ucap Karine ketakutan sambil memejamkan matanya.
"Jangan takut ini aku" sambung Fedro sambil memegang kedua bahu Karine.
"Fedro...Bagaimana kamu bisa masuk kesini?" tanya Karine karena Tian menjaga pintu masuk.
"Susah juga ingin bertemu dengan kamu, aku menyuruh wanita pura-pura jatuh di depan agar bodyguard kamu menolongnya dan aku bisa masuk kesini" jelas Fedro bagaimana pengorbananya untuk bertemu dengan Karine.
"Aku sangat merindukan kamu, aku hampir gila karena memikirkan kamu sepanjang hari!" sambung Fedro langsung memeluk Karine dan mencium pipinya.
"Aku juga sangat, sangat merindukan kamu" jawab Karine dalam hatinya.
"Lepaskan aku!! jangan sentuh aku. Kita bukan lagi suami istri" jawab Karine langsung mendorong Fedro menjauh dari tubuhnya.
"Aku tau kamu hanya bercanda kan? kamu pasti di ancam oleh Papa sehingga menanda tangani surat perceraian kita" sambung Fedro lagi.
__ADS_1
"Aku tidak bercanda, itu memang keinginan ku. Bukan kah Papa sudah menjelaskannya kenapa aku mau bercerai, aku rasa aku tidak perlu menjelaskannya lagi" jawab Karine dengan muka datarnya, padahal dia sangat sedih dan tidak ingin mengucapkan ini pada Fedro.
"Kamu serius hanya demi melanjutkan S2, alasan macam apa itu?" tanya Fedro sambil memegang pundak Karine.
"Iya aku melakukan itu demi masa depan ku, kamu tanang saja aku akan membesarkan anak kita. Kamu bisa melanjutkan hidup kamu dan mencari wanita lain, hidup bahagia bersama denganya" ucap Karine dan Fedro yang mendengar itu langsung tersenyum lalu mengusap dagunya.
"Ternyata kamu sangat egois, kamu tega memisahkan anak dari ayahnya. Demi masa depan?" tanya Fedro langsung tertawa.
"Hahaha...aku tak percaya ini?" sambungnya lagi.
"Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita, jangan temui aku lagi. Anggap saja pernikahan kita hanya kesalahan, mari kita hidup masing-masing!" jawab Karine membuat Fedro semakin menggepalkan tanganya.
"Semudah itu, kamu anggap aku ini apa?" teriak Fedro.
"Lepaskan aku, aku mau pergi!!" ucap Karine karena Fedro memegang tangan Karine.
"Aku benci kamu! kamu wanita paling egois yang pernah aku temui" Fedro meneteskan air matanya.
Karine pun langsung keluar dari sana, dia meninggalkan Fedro begitu saja. Fedro hanya berdiri terdiam beberpa saat, kemudian dia langsung meninju dinding toilet itu sebelum pergi.
Setelah itu dia pergi dari sana, dia melihat sekeliling dan ternyata Karine juga sudah pergi. Dia menyesal ingin memperjuangkan wanita yang tidak mau di perjuangkan, lebih mementingkan dirinya sendiri. Selama berbualan-bulan ini dia hanya bisa memandangi rumah Karine, setidaknya itu bisa membuat Fedro tenang.
Tapi sepetinya perjuangannya sia-sia karena Karine memang ingin berpisah denganya, bahkan Karine mengatakan jika pernikahan mereka adalah kesalahan. Tapi bagi Fedro pernikahan ini adalah kenangan yang indah walaupun singkat, ada bayi mereka juga yang harus di perjuangkan.
.
.
.
Setelah keluar dari toilet tadi Karine memutuskan untuk langsung pulang, dia sudah tidak mood lagi untuk pergi kemana pun. Bahkan belanjaanya juga belum selesai di bayar, terpaksa Tian harus tinggal disana untuk menunggu barang belanjaan Karine.
Setelah masuk kedalam mobil Karine langsung menangis, Malik pun langsung menatap Mbok Nem tapi Mbok Nem pura-pura tidak tau. Malik juga tidak berani bertanya, jadi sepanjang perjalanan pulang mereka hanya mendengar suara tangisan Karine.
__ADS_1
"Non...!" teriak Mbok Nem setelah Karine turun dari mobil dia langsung berlari begitu saja.
"Apa yang terjadi?" tanya Malik pada Mbok Nem.
"Aku juga tidak tau, tadi kami hanya pergi ke toilet dan setelah keluar dari toilet tiba-tiba saja mood Nona berubah" jawab Mbok Nem merahasiakan semuanya.
"Baiklah, sana temani Nona. Jika ada yang mencurigakan segera lapor dengan kami!" sambung Malik sambil menatap Mbok Nem.
"Iya tentu saja, saya mau masuk dulu menyusul Non Karine" jawab Mbok Nem dan Malik pun langsung menganggukan kepalanya.
Mbok langsung menuju kamar Karine, dia langsung mengetuk pintu. Cukup lama Mbok di depan sana, sampai Karine bilang pergi karena dia tidak mau di ganggu. Mbok Nem pun terpaksa pergi dari sana, apa yang sebenarnya mereka katakan tadi tanya Mbok Nem.
"Non Karine...!" teriak Mbok Nem sambil mengetuk pintu kamar Karine.
"Non...apa Non baik-baik saja?" tanya Mbok Nem terlihat khawatir.
"Pergi Mbok, aku mau sendiri!!" teriak Karine dari dalam kamar.
"Baiklah Mbok pergi, jika mau sesuatu panggil saja Mbok" jawab Mbok Nem lalu pergi dari sana.
Mbok pun langsung turun kebawah, saat dia melihat kearah pintu masuk. Malik dan Tina sedang membawa barang belanjaan Karine tadi, mereka ingin menuju kamar Karine. Dengan cepat Mbok Nem langsung menghentikan mereka, dia tidak mau Karine semakin mengamuk nantinya.
"Ini perlengkapan bayi nya mau langsung di taruh di kamar Non Karine kan Mbok?" tanya Tina yang baru masuk.
"Jangan bawah kamar Non Karine sekarang, sepertinya moodnya sedang tidak baik. Taruh sah di kamar sebelah!" jawab Mbok Nem.
"Maksud nya kamar bekas Tuna Fedro?" tanya Tina bingun, pasalnya tadi Non Karine baik-baik saja.
"Iya masukan saja dulu kesana, kalian nggak mau Nona mengamuk. Nyonya dan Tuan pasti marah besar" jawab Mbok Nem agar mereka tidak menganggu Karine sekarang.
"Baiklah ayo kita taruh disana sana Tuan" ajak Tina dan Malik pun menganggukan kepalanya.
"Apa masih banyak, biar Mbok bantu?" tanya Mbok Nem ingin membantu mereka.
__ADS_1
"Tidak usah Mbok, itu sudah ada Tuan Tian yang membantu dan ada Mang Dadang juga" jawab Tina karena kasihan juga Mbok Nem sudah tua, lebih baik mereka yang muda- muda mengangkat barang berat.
Mbok Nem pun pergi ke belakang, dia melajutkan pekerjaan. Tapi dia juga masih kepikiran dengan Karine, pasti mereka sama-sama nangis tebak Mbok Nem. Sungguh kasihan sekali, tapi yang paling kasihan adalah anak mereka. Untung saja Nyonya dan Tuan kaya raya, jadi mereka bisa melakukan apa saja.