
Satu bulan kemudian Manda benar-benar menyusul ke jakarta dengan alasan melanjutkan kuliah, Fedro juga tidak mempunyai kecurigaan sama sekali. Apa lagi Angga menitipkan Manda agar Fedro menjaganya seperti adik sendiri, tentu saja Fedro akan menjaga Manda. Ditambah lagi Al juga sangat senang karena Manda sering bermain denganya, dia juga punya taman.
Seperti malam ini mereka memutuskan untuk makan malam di sebuh kafe, karena tadi mereka sudah jalan-jalan ke Mall dan mengajak Al main dan kebetulan hari ini libur. Manda bahkan sangat perhatian dan dia sangat sabar saat Al sangat manja denganya, mereka seperti keluarga kecil yang bahagia. Al duduk di pangkuan Manda dan Manda menyiapkan makanan pada anak itu, sedangkan Fedro hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
"Al makan lah yang benar, tante Manda juga mau makan" ucap Fedro sambil melirik ke arah Al.
"Tidak mau, aku maunya di suapi tante Manda" jawab Al marah dengan papanya.
"Sudah lah kak, aku juga masih bisa makan kok" jawab Manda sambil mengelus kepala Al.
"Mama...." ucap Al membuat Fedro dan Manda melihat kearah Al memandang.
Deg...
Deg...
Jantung Fedro langsung berdebar kencang saat melihat siapa yang di panggil Mama oleh Al, iya benar dia adalah Karine. Karine terlihat menggandeng seorang laki-laki berperawakan tinggi dengan mata sedikit sipit, Manda juga tau kalau itu adalah mantan istri Fedro dan dia terlihat sedikit kesal. Mengapa wanita itu harus datang sekarang, itu lah yang dipikirkan oleh Manda.
"Siapa yang kamu panggil Mama, jangan membuat Papa marah Al. Cepat habiskan makanan kamu lalu kita pulang!" marah Fedro membuat Al langsung menundukan kepalanya dan terlihat matanya sudah berair.
"Papa benar, mungkin kamu salah lihat. Sini tante bantu kamu habiskan makananya" sambung Manda sambil menyuapkan sendok nasi kedalam mulut Al.
"Aku pergi ke toilet sebentar" sambung Fedro lalu berdiri dan meninggalkan mereka berdua yang masih makan.
Fedro berjalan tergesah-gesah dan tanpa dia sadari Karine melihat kearahnya, beberapa detik dia tertanggu melihat Fedro disana. Dengan cepat dia berdiri dan ingin mengejarnya, tapi Feng langsung menghentikan langkahnya.
"Fedro..." ucap Karine pelan dan Feng yang masih asik makan, tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Karine.
Karine langsung berdiri dan ingin pergi, tapi Feng langsung menarik tanganya dan membuat Karine berhenti melangkah.
"Ada apa sayang?" tanya Feng bingung.
__ADS_1
"Aku mau ke toilet sebentar" karena dia melihat kemanan Fedro berjalan, ini kafe langganan Karine jadi dia hapal betul lorong itu menuju kemana.
"Baiklah sayang, perlu aku temani?" tanya Feng karena melihat wajah Karine panik, Karine tidak menanggapinya dan langsung pergi begitu saja.
.
.
.
Fedro terlihat membasuh mukanya beberapa kali, lalu dia mengusap mukanya kasar. Ini lah alasan kenapa dia benci jika akan bertemu dengan Karine lagi, dulu tidak bertemu saja dia selalu memikirkan Karine. Apa lagi saat ini orang nya ada di depan mata, lebih menyakitkan lagi dia sudah punya pasangan. Memikirkanya saja sudah membuat Fedro frustasi, cukup lama dia berdiam dia sana dan akhirnya dia memutusakan untuk keluar dari toilet.
"Berhentilah memikirkanya!" ucap Fedro kesal sambil terus berjalan keluar.
Fedro berjalan dengan tergesah-gesah, dia juga tidak memperdulikan orang di sekelilingnya. Tapi belum sempat dia melangkah lagi, ada tangan seorang wanita menahan lenganya.
"Fedro..." ucapnya lirih dan Fedro tau betul suara siapa yang memanggilnya saat ini.
Seketika tubuh Karine langsung bergetar dan dia langsung menangis, sakit sekali rasanya. Bukan kah seharusnya dia senang, apa yang dulu dia ucapkan pada Fedro semuanya ditepati olehnya. Bukan kah Karine sendiri yang bilang jika mereka bertemu lagi, jangan saling menyapa dan anggap saja orang asing.
Tapi Karine tidak menyerah dia menghapus air matanya dan berjalan perlahan mengejar Fedro, dari kejauhan dia melihat Fedro sedang menghampiri seorang wanita cantik yang sedang memangku seorang bocah laki-laki.
"Ternyata dia sudah punya keluarga baru" ucap Karine sambil memperhatikan mereka, tidak lama kemudian Fedro pergi dari kafe itu.
Setelah melihat Fedro pergi, Karine kembali kemejanya. Dia terlihat sangat lesu, Karine juga sudah tidak mood lagi untuk makan. Sakit nya masih berasa sampai sekarang, apa lagi Fedro menganggapnya seperti orang asing.
"Kenapa lama sekali?" tanya Feng sambil melihat kearah Karine.
"Mata kamu juga memerah, apa kamu nangis?" sambung Feng lagi dan Karine langsung mengambil tisu lalu mengusap wajahnya.
"Tadi toiletnya penuh jadi mengantri, makanya aku lama" jawab Karine santai sambil terus mengelap matanya.
__ADS_1
"Kamu nagis kan?" tanya Feng sekali lagi.
"Bukan, tadi aku kelilipan. Apa benar-benar terlihat merah?" Karine malah balik bertanya.
"Lihat saja sendiri" Feng membuka kamera ponselnya.
"Terima kasih, tapi sepertinya aku tidak mood makan lagi. Aku mau pulang" jawab Karine lalu memberikan ponsel Feng.
"Kenapa? bukan kah kita baru sampai. Kamu juga baru makan bebrapa sendok, apa kamu sakit perut?" tanya Feng terlihat sangat khawatir.
"Apa perlu kerumah sakit?" sambunya lagi.
"Tidak usah, aku hanya butuh istirahat saja. Kamu lanjutkan makanya, aku akan pulang naik taksi" ucap Karine sambil mengambil tasnya lalu berdiri.
"Biar aku antar, jangan membuat aku seperti laki-laki pengecut. Kamu pergi sama aku dan pulang harus sama aku juga" Feng mulai terlihat kesal dan dia terus menahan tangan Karine.
"Baiklah, aku akan pulang sama kamu" jawab Karine kemudian.
Setelah membayar mereka langsung pergi, Karine hanya dia saja saat di dalam mobil. Feng keheranan dengan sikap Karine, apa yang membuat dia diam seperti ini. Apa lagi dari tadi terus saja melamun, karena melihat Karine seperti itu Feng hanya bisa bersabar dan tidak menanyakan kenapa tiba-tiba pacarnya cepat sekali berubah mood.
"Kita sudah sampai, apa perlu aku gendong kamu masuk?" tanya Feng dan Karine pun langsung tersadar dari lamunanya.
"Emm..udah sampai ya, kamu bilang apa tadi?" Karine memang tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Feng tadi.
"Sepetinya kamu benar-benar sakit, perlu aku gendong kedalam" Feng meletakan tanganya di kening Karine.
"Tidak perlu aku masuk sendiri, terima kasih utnuk hari ini. Hati-hati di jalan" jawab Karine langsung keluar dari mobil dan berjalan kearah pintu rumah.
Feng hanya bisa memandangi pacarnya masuk kedalam rumah, dia juga tidak punya keberanian untuk menyusul dan akhirnya dia mengalah.
"Bahkan dia tidak mengajak aku mampir!" kesal Feng langsung memutar mobilnya.
__ADS_1
Setelah itu Feng pergi dari sana, tidak seperti biasanya Karine bersikap seperti ini. Bukan kah dia sendiri yang bilang akan mencoba saling terima, bahkan Feng sudah menumbuhkan rasa cinta yang sangat besar untuk Karine. Semoga saja ini bukan firasat buruk untuk hubungan mereka, itu lah yang dipikirkan Feng saat ini.