Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Episode 50. Sederhana


__ADS_3

Karine tengah menyusun baju mereka di lemari, kamar mereka berukuran sedang. Tidak terlalu mewah, tapi cukup bagi Karine. Walaupun dia belum pernah tinggal di tempat seperti ini, tapi dia yakin bisa menyesuaikan diri. Fedro pun masuk kedalam kamar setelah membersihkan rumah, sedangkan Angga sudah pulang dari tadi.


"Sayang apa yang kamu lakukan? biarkan aku saja" ucap Fedro saat melihat Karine merapikan kopernya.


"Tidak apa-apa, biarkan aku menyusun baju kita" jawab Karine sambil tersenyum.


"Tidak kamu harus istirahat, duduk lah disini" sambung Fedro menyuruh Karine duduk di atas kasur.


"Aku baik-baik saja, kamu terlalu berlebihan" jawab Karine lagi sambil melihat suaminya itu sudah mengambil ali pekerjaanya.


"Kamu tidak boleh capek, ibu hamil mudah lelah. Maaf rumahnya tidak sebesar rumah kamu, tidak semewah apartemen juga. Aku hanya mengajak kamu hidup dirumah sederhana seperti ini, tapi aku janji akan bekerja keras untuk kalian agar kalian hidup layak" Fedro terlihat sangat serius dengan ucapanya.


"Iya aku percaya sama kamu, kita akan membangun keluarga yang bahagia" jawab Karine sambil tersenyum.


"Kamu benar, sepertinya besok aku mulai cari kerja. Tabungan ku tidak banyak, kita juga butuh tabungan untuk kamu melahirkan nanti" ucap Fedro sambil meletakan koper di atas lemari.


"Aku masih punya uang, ini atm ku sendiri. Papa tidak tau kalau aku punya tabungan ini" Karine mengeluarkan buku tabungan dari tasnya.


"Itu uang kamu sayang, simpan saja baik-baik. Disini aku kepala keluarga jadi biarkan aku yang mencari uang, kalian cukup istirahat dirumah" Fedro pun duduk disamping Karine.


"Baiklah aku akan simpan ini" Karine kembali menyimpan atm nya.


Fedro memeluk Karine dengan erat, rasanya cukup tenang setelah apa yang mereka lalui hari ini.


"Hari yang panjang dan cukup melelahkan" ucap Fedro di selah pelukanya.


"Kamu benar sayang, menurut kamu apa Mama dan Papa benar-benar membiarkan kita hidup bahagia?" tanya Karine takut.


"Aku rasa tidak, kamu tau bagaimana keras kepalanya Papa. Mungkin dia punya rencana lain untuk memisahkan kita, jadi aku harap apa pun yang terjadi kamu harus percaya sama aku" Fedro mengelus kepala Karine.


"Iya tentu saja aku akan pecaya sama kamu, aku nggak akan pernah ninggalin kamu dan kita akan bersama selamanya" jawab Karine lagi.


"Aku hanya takut kamu berhenti berjuang di tengah jalan, hubungan tidak akan berhasil jika hanya satu orang yang mau berjuang" ucap Fedro melepaskan pelukanya dan memegang kedua bahu Karine.


"Iya aku tau dan aku berjanji, bila perlu besok kita daftrakan pernikahan kita" jawab Karine sambil menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Tentu saja aku akan mengurus semuanya" sambung Fedro.


Hubungan memang harus di perjuangankan sama-sama, begitu pula dengan cinta Fedro dan Karine. Kalau Fedro jangan di ragukan bahkan di siap mati untuk cintanya, tapi Karine dia tidak yakin apa Karine akan sanggup berjuang bersama dengan nya.


.


.


.


Kini genap satu bulan mereka pindah ke kota S, sudah beberapa hari ini Fedro mencari pekerjaan tapi hasilnya nihil, beberapa perusahan yang dia lamar kebanyakan menolak dengan alasan kurang logis menurut Fedro. Angga juga menawarkan Fedro untuk bekerja di perusahanya tapi Fedro tidak mau, dia ingin membuktikan dia mampu tanpa bantuan orang lain pada Papanya.


Hari ini dia pulang dengan tangan kosong, tidak ada yang menerimanya. Karine yang melihat Fedro telihat murung saat pulang pun langsung bertanya, dia berusaha menghibur suaminya.


"Sayang kamu udah pulang? apa ada kabar baik hari ini?" tanya Karine sambil menggandeng tangan Fedro.


"Aku di tolak lagi, susah juga mencari kerja. Tapi yang aku heran alasan mereka benar-benar nggak logis" jawab Fedro lalu duduk di sopa ruang tamu.


"Sabar, mungkin besok-besok kamu pasti akan di terima. Lagian kenapa kamu nggak mau kerja di kantor Angga?" tanya Karine.


"Bagimana keadaan kamu hari ini sayang? apa kamu muntah lagi?" tanya Fedro khawatir.


"Tadi pagi aku muntah, tapi sore ini udah nggak" jawab Karine sambil mengelus perutnya.


"Apa kamu sudah minum susunya?" tanya Fedro lagi karena istrinya itu semenjak hamil malas minum susu dan katanya baunya tidak enak.


"Iya sudah sayang, kanapa kamu jadi bawel gini?" Karine terlihat kesal.


"Besok kita ke dokter, kamu belum cek setelah hari itu. Vitamin kamu juga udah habis" sambung Fedro lagi, dia jadi suami siaga yang sangat bawel.


"Iya sayang kamu bawel banget, oh iya kamu mau aku buatin kopi?" tanya Karine sambil tersenyum.


"Apa kamu bisa?" tanya Fedro kurang percaya.


"Tentu saja bisa! aku sudah belajar di youtube tadi. Tunggu disini, aku bawkaan cemilan juga" ucap Karine lalu berjalan menuju dapur.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Karine datang dengan membawah kopi dan kue kering, dia meletakkannya di depan Fedro. Dengan santai Fedro meminum kopi itu, tapi saat baru mencicipinya rasanya sangat aneh. Sudah dia duga istrinya ini memang belum bisa apa-apa, ingin sekali Fedro muntah tapi dia tidak tega dengan Karine.


"Ini sayang silahkan minum" ucap Karine dan Fedro pun langsung tersenyum senang.


"Terima kasih sayang, aku minum ya" jawab Fedro sambil mengambil gelas kopinya.


"Pelan-pelan sayang, panas!" sambung Karine dan Fedro pun hanya menganggukan kepalanya.


Saat meminumnya dia melihat kearah istrinya, mata Karine berbinar-binar. Pasti dia ingin tau reaksi Fedro, Fedro meletakan kembali gelasnya lalu langsung mengambil biskuit dan memakanya.


"Bagaimana sayang? apa gulanya pas?" tanya Karine.


"Iya enak sekali, tapi aku rasa aku mau ganti baju dulu" jawab Fedro ingin berdiri dan pergi kekamarnya.


"Baiklah, kembali lagi kesini dan habiskan kopinya" sambung Karine dan Fedro pun menganggukan kepalanya.


Setelah Fedro masuk kedalam kamar, Karine pun mencoba kopi yang dia buat. Baru saja masuk kedalam mulutnya, Karine langsung memuntahkanya. Rasanya sangat asin, Karine kira yang dia masukan tadi adalah gula tapi ternyata garam.


Puuryy....


"Asin sekali! tapi tadi rasanya aku memasukan gula" ucap Karine meletakan lagi kopi itu di atas meja.


"Kenapa Fedro tidak bilang kalau rasanya asin, apa dia tidak mau membuat aku sedih?" tanya Karine sambil menghembus napasnya.


Tidak lama kemudian Fedro keluar dari kamar dan melihat Karine masih duduk di tempat tadi, dia tampak murung. Fedro langsung menghampiri istrinya, ada apa dengan Karine dia mudah sekali berubah mood ucap Fedro dalam hatinya.


"Hey sayang! kenapa melamun?" tanya Fedro yang sudah mengganti bajunya dengan pakaian santai.


"Kenap kamu nggak bilang kopinya asin?" tanya Karine sambil cemberut.


"Kenapa? aku suka kok" jawab Fedro ingin meminum kopi itu lagi untuk menghargai buatan istrinya.


"Jangan minum lagi, aku nggak mau kamu sakit perut" Karine langsung merebut gelas itu dan berjalan menuju dapur.


"Kenapa lagi dia? hemm mood ibu hamil memang suka berubah-ubah" ucap Fedro sambil melihat kearah istrinya, Fedro pun menyusul istrinya sebelum istrinya itu marah.

__ADS_1


__ADS_2