
"Eh, jangan Mas." cegah Tania berlari masuk ke dalam lift
Setelah sampai di lantai atas, di mana apartemen Yoga berada. Kini mereka sudah sampai di depan pintu kamar apartemen.
Yoga mengambil kunci untuk mengakses keluar masuk apartemennya. Dia memberikan kepada istri sahabatnya. "Masuklah, dan di depan ini ... adalah apartemenku juga. Jika kamu membutuhkan sesuatu, kamu bisa memencet bel kamarku." titah Yoga.
Tania mengambil kunci dan dia memasukkan kunci tersebut untuk mengakses keluar masuk ke dalam apartemen yang akan dia tempatinya.
Akhirnya, pintu terbuka setelah Tania membuka kunci.
"Aku masuk ke dalam dulu. Aku harus menyiapkan makan malam untukmu. Terimakasih sudah mau membantuku, Mas. Aku benar-benar tidak enak denganmu." ucap Tania.
"Sudah aku bilang, jangan sungkan padaku. Cepat masuk, aku tidak mau ... jika wanita di dalam apartemenku tahu, kalau aku berbicara denganmu!" titah Yoga membuat Tania melangkahkan kakinya masuk ke dalama apartemen yang bersebelahan dengan apartemen wanita yang diyakini Tania adalah kekasih dari sahabat suaminya.
Tak terasa, waktu terus berjalan begitu cepat. Sudah 3 hari, Tania tinggal di dalam apartemen Yoga dan selama itu, Tania hanya bisa berdiam diri di dalam apartemen setelah mengetahui jika suaminya sudah keluar dari rumah sakit. Pernah sekali Tania mencoba menjenguk suaminya di kediaman rumahnya, tapi belum sempat Tania bertemu dengan suaminya, dia sudah di usir oleh ibu mertuanya.
Hembusan napas panjang terdengar sampai telinga pria yang baru saja masuk ke dalam apartemen.
"Tan, masih memikirkan suamimu?" tanya Yoga membuat Tania menoleh sekilas.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Mas. Bagaimana aku bisa bertemu dengan Mas Indra kalau mereka terus mengurung Mas Indra di rumah. Apalagi, kamu tahu sendiri ... kalau wanita yang bernama Lisa, juga tinggal di rumah Mas Indra. Aku takut kalau Lisa berhasil mendapatkan hati Mas Indra. Lalu, pernikahanku, akan di bawa kemana? Apa pernikahanku akan berakhir dengan cepat, Mas?" lirih Tania mematikan televisinya.
"Kenapa di matikan?" tanya Yoga meletakkan kantong plastik yang berisi makanan untuk istri sahabatnya.
__ADS_1
"Aku jenuh, aku mau ke kamar, Mas. Kalau Mas Yoga lapar, Mas Yoga buka saja tudung saji di meja makan. Aku sudah menyiapkan beberapa macam makanan. Karena aku tahu, Mas Yoga selalu datang dengan kondisi kelaparan." jawab Tania beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.
"Kebetulan aku sudah makan. Dan aku sengaja membawakan makanan untukmu. Aku pikir, kamu membaca pesan dariku, ternyata tidak!" ucap Yoga membuat Tania menghentikan langkahnya.
"Pesan? Aku bahkan lupa meletakkan ponselku, Mas. Memangnya, kamu mengirim pesan apa? Kenapa tidak telfon saja?" tanya Tania.
Yoga terkekeh, dia membuka plastik yang berisi martabak manis kesukaan Tania.
"Makanlah. Setelah itu, aku kita pergi. Aku tidak mau melihatmu gila karena memikirkan suamimu itu." titah Yoga.
"Lalu semua masakanku? Aku sudah masak bersusah payah loh!" kesal Tania.
"Biarkan saja. Siapa tahu, setelah pulang nanti, perutku lapar? Atau, kita pergi saja sekarang? Kebetulan ada restoran yang pemandangannya lumayan bagus. Mungkin, dengan cara ini ... pikiranmu bisa terhibur," ucap Yoga.
"Tapi sudah jam 9 malam, Mas."
"Tidak apa-apa. Kamu tenang saja, Tania. Kita hanya pergi sebentar. Menikmati pemandangan di malam hari sambil memakan makanan atau es krim. Bukankah itu jauh lebih bahagia dari pada berdiam diri di rumah?" ucap Yoga.
"Ya sudah, Mas. Aku siap-siap dulu. Kamu tunggu sebentar saja!" jawab Tania membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar.
Sedangkan di dalam kamar, terlihat seorang pria yang sedang berdiri di halaman balkon kamar dengan tatapan kosong.
Lisa yang baru saja masuk ke dalam kamar Indra pun melihat sosok Indra yang sedang melamun di balkon kamar.
__ADS_1
"Indra?" panggil Lisa setelah berada di samping Indra.
Indra terkejut, lalu memberi jarak. "Untuk apa kamu ke sini, Lis? Seharusnya kamu ketuk pintu. Kamu tidak boleh masuk ke kamar orang sembarangan." kesal Indra.
"Aku sudah ketuk pintu berulang kali, tapi sepertinya ... lamunanmu membuat ketukanku tidak terdengar sampai telingamu." jawab Lisa memegang pembatas balkon kamar Indra yang terbuat dari besi. "Kamu kenapa di sini? Ini sudah malam. Seharusnya, kamu istirahat, Ndra. Dan aku membawakan obat untukmu. Kata Tante Ratu, obatmu habis. Jadi, aku berinisiatif untuk membelikan obatmu. Sekarang, kamu minum obat ya, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu." titahnya lagi.
Indra menatap sekilas wanita di sampingnya, "Kamu tidak perlu perhatian padaku, Lis. Kita belum menikah. Aku bukan tanggung jawabmu. Aku saja tidak mengingat siapa kamu. Jadi, jangan bersikap manis. Aku takut, sikapmu itu akan melukai dirimu sendiri." jawab Indra.
"Melukai diriku sendiri?" gumam Lisa tak mengerti arti ucapan pria di sampingnya. "Aku tidak tahu arti ucapanmu, Ndra. Aku ini kekasihmu, walaupun kamu tidak mengingatku, tapi setidaknya kita bisa membuat kenangan manis yang baru."
"Maaf, aku tidak bisa, Lisa. Sebelum aku sembuh dari amnesiaku, aku akan menjaga jarak dengan siapapun termasuk kamu, kekasihku sendiri." jawab Indra tak bisa di bantah.
Lisa memutar tubuhnya sembari mengangguk paham. Perlahan tangannya meraih dan menggenggam tangan pria di hadapannya.
"Aku tahu, Ndra. Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Dan aku mendukung semua keputusanmu. Tapi, aku mohon ... jangan menjaga jarak denganku, aku ini kekasihmu. Bahkan kita sudah merencanakan pernikahan. Kamu tidak boleh menjaga jarak denganku." ucap Lisa bohong. "Kamu tahu, kita sudah menjalani hubungan ini lama sekali. Bahkan, kita rela di pisahkan oleh jarak, Ndra. Dan sekarang, di saat kita sudah di satukan sedekat ini, kamu malah menghindar dariku." keluhnya lagi.
Indra berusaha menarik tangannya. Dia berjalan masuk ke dalam kamar di ikuti oleh Lisa di belakangnya.
"Jika kita sedekat itu, tapi kenapa aku tidak bisa mengingat moment manis kita sedikit saja? Hanya satu moment, Lis. Buat aku percaya dengan satu moment itu!" ujar Indra menjatuhkan pantatnya di tepi ranjang.
"Aku--" Lisa menghentikan ucapannya, dia tidak tahu harus beralasan apalagi untuk meyakinkan pria di hadapannya karena sedari awal, Lisa memang tidak mempunyai bukti sedikit pun kebersamaan dirinya dengan Indra.
"Aku apa?" tanya Indra menatap wajah Lisa yang kebingungan, "Coba ceritakan kenangan manis itu? Aku mau mendengarnya!" sambungnya lagi.
__ADS_1
"A-aku, aku tidak bisa menceritakan padamu untuk saat ini, Ndra. Bukankah, kamu dengar sendiri, kalau kamu tidak boleh berpikir terlalu keras. Jika aku menceritakan semuanya sekarang, pasti kamu berusaha untuk mengingatnya dan aku takut terjadi sesuatu denganmu." jawab Lisa masuk akal.