Pernikahan Tanpa Restu

Pernikahan Tanpa Restu
Bab 8


__ADS_3

"Hei, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Pasti Indra tidak memilih Lisa karena beberapa alasan yang alasan utamanya adalah Indra tidak mencintai Lisa. Dia hanya mencintaimu, Tan! Kamu tidak perlu bersedih. Sekarang, Indra sudah menjadi suamimu. Kamu pemenangnya!" jawab Yoga.


"Untuk sekarang, aku memang pemenangnya. Tapi aku tetap ragu, Mas. Aku ragu, dengan kesembuhan Mas Indra. Aku juga ragu, kalau Mas Indra akan jatuh hati pada wanita yang bernama Lisa!" lirih Tania.


"Kamu tidak perlu ragu. Sekarang, kita masuk ke dalam ruangan suamimu. Siapa tahu, dia sudah ingat padamu. Ini kesempatan bagi kita. Atau begini saja, aku akan menjaga di luar ruangan dan kamu masuk ke dalam. Kamu coba menceritakan semua kenangan indah kalian. Semoga saja, Indra mengingatnya." titah Yoga.


"Terimakasih kamu sudah mau membantuku. Aku tidak tahu, harus mengucapkan apa selain ribuan terimakasih untukmu, Mas." jawab Tania melanjutkan langkahnya menuju ruangan suaminya di ikuti oleh Yoga di belakangnya.


Setelah sampai di depan ruangan. Yoga meminta Tania untuk segera masuk dan dirinya akan berjaga mengawasi di luar ruangan.


"Semoga rencana kita berhasil dan Indra bisa secepatnya ingat denganmu, Tan! Semangat!" titah Yoga sebelum Tania masuk ke dalam ruangan suaminya.


"Iya, Mas!" jawab Liana mulai membuka pintu ruangan suaminya.


Perlahan pintu ruangan terbuka dan masuklah Tania. Dia bisa melihat suaminya yang sedang memejamkan mata.


"Mas!" panggil Tania yang tak kuasa menahan air mata.


Indra yang mendengar suara wanita pun langsung membuka matanya lebar-lebar. "Kamu, bukankah kamu yang semalam datang ke sini, kan? Mau apa kamu, ha! Aku sudah tahu semuanya, kamu penipu kan? Kamu mau--"


"Mas, sungguh ... aku bukan penipu, aku ini istrimu. Kamu harus percaya padaku, Mas. Kemarin siang, kita baru saja menikah. Kamu ingat dong, Mas! Kamu ingat-ingat lagi, aku mohon!" lirih Tania mulai mengeluarkan air matanya. "Semua yang diucapkan ibumu tidak benar, Mas. Aku istrimu, kita saling mencintai. Aku tidak mau kehilangan kamu, Mas."


"Tapi aku tidak pernah menikah. Kamu salah orang, aku tidak pernah menikah denganmu. Aku saja tidak kenal denganmu, bagaimana aku mau menikah?" tanya Indra berusaha mengingat kejadian sebelum kecelakaan. "Aku tidak ingat, dan aku tidak tahu siapa kamu! Aw ... kepalaku mulai sakit!" ringis Indra.


"Sudah, sudah, Mas. Kalau kamu tidak mengingatku, aku tidak apa-apa, Mas. Kamu istirahat." titah Tania pasrah. "Tapi boleh, aku bercerita sedikit tentang kita? Kamu tidak perlu mengingatnya. Kamu cukup mendengar semua ceritaku saja!" sambungnya lagi.


"Silahkan." jawab Indra.

__ADS_1


Liana tersenyum, dia menjatuhkan pantatnya di kursi samping ranjang suaminya. Perlahan tangannya menggenggam tangan suaminya menyalurkan rasa rindu yang amat dalam.


"Kamu tahu, sebelum kamu kecelakaan. Kita sempat tertawa dan berbagi cerita." ucap Tania, "Kamu sempat memasakkan makan pertamamu setelah menikah. Dan kita juga sudah sepakat untuk membeli perkebunan yang berada di belakang rumah kita. Kamu bilang, kalau kamu mau membuka bisnis sayur-sayuran dan buah-buahan. Kamu ingat, Mas?" tanya Tania yang mendapat gelengan kecil dari Indra.


"Aku tidak ingat sama sekali." jawab Indra.


"Ya, tidak apa-apa!" ucap Tania sambil memaksakan senyumnya. "Ada satu cerita lagi. Kita pernah berlibur bersama, dan kita pernah merencanakan bulan madu ke Bali. Kalau kamu tidak ingat, tidak apa-apa."


"Aku sama sekali tidak ingat. Sekarang, kamu pergi saja. Aku sudah mempunyai kekasih. Dan kekasihku itu bukan kamu, kekasihku adalah Lisa. Aku tidak mau kekasihku kecewa karena kehadiranmu di sini!" usir Indra.


'Apa yang dikatakan Mas Yoga benar, ibu Mas Indra sudah mengatakan tentang lisa.' batin Tania.


"Ya, sudah, Mas. Aku pergi, tapi sebelum pergi ... aku boleh menjadi temanmu? Aku boleh setiap hari menjengukmu? please!" pinta Tania memohon.


"Sebaiknya tidak perlu. Aku tidak mau kekasihku marah. Lebih baik, kamu pulang saja! Kita tidak saling kenal. Dan kata ibuku, kamu penyebab aku kecelakaan. Jadi, pergilah! Aku tidak mau berteman dengan orang yang menyebabkanku seperti ini!" usir Indra.


'Jadi ibunya Mas Indra juga menuduhku? Ya, Tuhan. Ujian apalagi ini. Aku tidak sanggup menerima ujian ini terlalu lama!' jerit Tania.


"Tidak perlu, Mas. Aku pamit pulang dulu, ya! Besok aku ke sini. Aku akan terus datang menjengukmu." ucap Tania.


"Aku tidak butuh perhatian darimu. Pergi saja, tidak perlu menjengukku setiap hari. Sudah ada ke dua orang tuaku dan Lisa yang akan menjagaku!" usir Indra.


"Mas--" ucapan Tania terhenti, dia tidak tahu harus mengucapkan kata apalagi untuk meyakinkan suaminya.


"Jangan panggil aku 'Mas'. Kita tidak saling kenal. Lebih baik, kamu pergi dari sini!" ucap Indra yang mulai kesal.


"Aku hanya ingin mengingatkan, Mas. Mau berulang kali kamu mengusirku, aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menjagamu secara diam-diam. Aku tidak mau terjadi sesuatu buruk pada suamiku. Aku akan menjaga kamu, Mas. Kalau begitu, aku pamit! Kamu istirahat ya. Maaf sudah mengganggu istirahatmu. Selamat pagi!" ucap Tania yang kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu kamar suaminya.

__ADS_1


Belum sempat pintu kamar terbuka. Tania berlari ke arah suaminya.


"Ada apa?" tanya Indra kebingungan.


"Aku melupakan sesuatu." ucap Tania menggenggam dan menci um tangan sang suami. "Aku belum berpamitan dan menci um tanganmu." sambungnya lagi.


"Kau tidak perlu bersikap aneh padaku. Dan aku tidak suka tanganku di ci um orang lain!" ketus Indra mengusap punggung tangannya ke selimut.


Melihat sikap suaminya yang berubah. Tania mencoba memaksakan senyumnya walau di dalam hatinya terasa sakit.


'Tania, semangat! Suamimu sedang amnesia. Hal ini sangat wajar, kamu tidak boleh tersinggung atau pun marah. Ingat, dia tidak mengenalimu.' batin Tania mulai melangkahkan kakinya menuju pintu ruangan.


Krek!


Pintu ruangan terbuka. Dan munculah sosok Tania yang sedang menghapus air matanya.


"Tan, kenapa cepat sekali? Apa Indra mengusirmu dan kenapa kamu menangis?" tanya Yoga kebingungan.


"Kita pergi dari sini, Mas. Jangan sampai ibunya Mas Indra mengetahui keberadaan kita!" titah Tania.


"Baiklah!" jawab Yoga mempersilahkan Tania berjalan lebih dulu.


Mereka berjalan keluar rumah sakit. "Masuklah!" titah Yoga setelah membukakan pintu mobilnya untuk Tania.


"Terimakasih, Mas," jawab Tania mendudukan pantatnya di kursi samping kemudi.


Indra mengangguk, dia menutup pintu mobil dan berlari memutari mobilnya.

__ADS_1


"Apa yang kalian bicarakan? Coba jelaskan padaku?" tanya Yoga.


"Mas Indra sama sekali tidak mengenaliku, dan Mas Indra selalu mengusirku. Bahkan ibunya Mas Indra mengatakan jika dalang penyebab kecelakaan Mas Indra adalah aku, Mas!" ucap Tania sambil meneteskan air matanya.


__ADS_2