
Jenie yang sedikit canggung tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk kecil dengan senyum kecil di bibirnya.
‘’Eh masuk dulu Rob, Cat, Jen.’’ Ucap pak Bowo, saking senangnya mereka bahkan hampir lupa mengajak keluarga Jenie masuk kerumah.
‘’Exel mana Wo?’’ Tanya papa Robert
‘’Paling bentar lagi nyampe, biasa, anak laki sukanya keluyuran.’’ Sambung mama Sita.
‘’Nah itu pasti Exel.’’ Ucap mama Sita lagi saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumahnya.
‘’Om, tan kapan datangnya?’’ Tanya Exel menghampiri orang tua Jenie, tak lupa juga mencium tangan keduanya lalu duduk tepat di samping Jenie.
‘’Ada apa nih, tumben ngumpul gini.’’ Tanya Exel yang sepertinya bisa mencium sesuatu yang sedang direncanakan orang tuanya dan Jenie.
‘’Tanggap banget sih kamu Xel.’’ Puji papa Robert sementara Jenie masih diam di tempatnya mencoba menangkap apa yang akan disampaikan oleh orang tuanya dan Exel.
‘’Kamu aja yang jelasin Wo.’’ Ucap papa Robert.
‘’Jadi gini Xel, sebenarnya sudah sangat lama kami ingin menjodohkan kalian.’’
‘’What dijodohin?’’ Tanya Jenie tak percaya
‘’Dengar dulu Jen.’’ Ucap mama Catrine.
‘’Kalian berdua sudah saling mengenal sejak kecil dan menurut kami kalian pasti akan saling menjaga, jadi kami putuskan untuk menikahkan kalian dalam waktu dekat ini, kami harap kalian tidak menolaknya.’’
‘’Jenie nggak setuju, Jenie nggak mau menikah dengannya.’’
‘’Kau pikir hanya kau saja, aku juga sama sekali tidak mau menikah denganmu.’’
‘’Yasudah kalau begitu jelas kan ma, pa, om, tan, aku sama Exel nggak setuju dengan pernikahan ini jadi nggak usah dilanjutkan lagi rencana kalian."
‘’Nggak bisa Jen, pokoknya dua bulan lagi kau harus menikah dengan Exel.’’ Ucap papa Robert dengan nada tak mau di bantah.
‘’Pa apa-apaan sih, kenapa memaksa Jenie seperti ini.’’
‘’Maafkan papa tapi papa melakukannya untukmu juga, pokoknya suka tidak suka, mau tidak mau dua bulan lagi kalian harus menikah.’’
‘’Pa pokoknya Jenie nggak mau menikah dengannya dan Jenie harap papa menerima keputusan Jenie.’’ Jenie mengambil tasnya dan meninggalkan rumah itu.
‘’Mau kemana kamu, masuk.’’ Exel menarik tangan Jenie agar masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
‘’Kau mau membawaku kemana?’’
Exel diam, pria itu fokus menyetir sedang Jenie sudah membuang pandangannya ke arah luar mobil.
*****
‘’Ini dimana?’’
‘’Nggak usah banyak tanya, turun sekarang.’’ Exel menarik pergelangan tangan Jenie, tidak peduli walau wanita itu terus berontak dan memakinya.
‘’Exel apa yang mau kau lakukan, jangan macam-macam ya.’’
‘’Kamu ini ngomong apa sih?’’ Ucapnya masih menarik tangan Jenie.
‘’Duduk.’’ Perintah Exel saat mereka sampai di unit apartemennya.
‘’Kenapa kau membawaku kesini?’’
‘’Duduk Jenie atau aku akan memaksamu’’ Mendengar itu Jenie sedikit takut, bergegas duduk seperti apa yang diperintahkan.
‘’Áku ingin kau mempertimbangkan perkataan orang tua kita, aku yakin mereka sudah memikirkan hal ini dengan sebaik-baiknya dan kuharap kau tidak membuat mereka kecewa.’’
‘’Maksudmu kau setuju untuk menikah denganku, begitu?’’
‘’Maksudmu?’’
‘’Maksudku kau terima saja pernikahan ini, toh kita menikah bukan karena saling mencintai, itu hanya status saja, tapi kalau di tengah jalan kau mencintaiku lagi maka aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.’’
‘’PD sekali kau, lagian siapa juga yang mau mencintai pria sepertimu.’’
‘’Siapa lagi kalau bukan kau, apa kau lupa bagaimana kau tergila-gila padaku dulu, apa aku harus mengingatkannya.’’
‘’Hhmm aku sudah melupakannya, kejadian tidak penting seperti itu tidak patut diingat lagi.’’
‘’Okelah, aku juga sama sekali nggak peduli mau kau mengingatnya atau melupakannya itu sama sekali tidak penting untukku.’’
‘’Sudahlah yang jelas aku tidak mau menikah denganmu walau untuk membahagiakan kedua orang tuaku sekalipun.’’ Jenie berdiri ingin meninggalkan apartemen itu tapi langkahnya terhenti.
‘’Apa kau takut menikah denganku karena takut jatuh cinta padaku lagi?’’
‘’Kau pikir kau siapa, aku sama sekali tidak takut karena sampai kapanpun hal itu tidak akan pernah terjadi, ck jatuh cinta padamu? Dalam mimpipun aku tidak mau.’’
__ADS_1
‘’Kalau begitu buktikanlah, terima pernikahan ini jika memang kau tidak takut kembali jatuh cinta padaku.’’
‘’Kau sedang menantangku, kau pikir aku takut?’’
‘’Ya sudah kalau begitu telepon papamu sekarang dan katakan kau menerima pernikahan ini.’’
‘’Óke aku akan menelponnya tapi tunggu dulu kau akan memberiku apa jika aku berhasil dalam tantangan ini.’’
‘’Jika selama 1 tahun pernikahan kita kau tidak jatuh cinta padaku maka aku akan menjadi budakmu seumur hidup dan begitupun sebaliknya jika dalam setahun kau kembali jatuh cinta padaku maka kau harus menjadi budakku seumur hidupmu, apa kau setuju?’’
‘’Oke baiklah, tidak ada ruginya bagiku.’’ Ucap Jenie lalu menelpon orang tuanya untuk memberitahu bahwa ia menerima pernikahan itu, bahkan Jenie meminta pernikahannya untuk dipercepat karena tidak ada bedanya kan mau cepat atau lambat mereka tetap akan menikah.
‘’Bereskan kan?’’ ucapnya pada Exel.
‘’Ya udah kalau begitu antar aku pulang sekarang.’’ Ucapnya lagi yang tidak didengar oleh Exel, pria itu malah berjalan memasuki salah satu kamar.
‘’Ini kamarku dan itu kamar mu.’’ Ucapnya sebelum menutup pintu kamarnya.
Jenie menggerutu menahan kesalnya, pria itu selalu saja berlaku seenaknya, bahkan belum 2 menit dia memberi tahu orang tuanya untuk mempercepat pernikahannya tapi sekarang dia sudah menyesal, apa dia sanggup hidup bersama pria itu, pria menjengkelkan itu?
‘’Bagus juga kamarnya.’’ Ucap Jenie saat masuk ke kamar yang ditunjuk Exel untuknya.
kamar itu lumayan luas, seolah kamar itu memang disediakan untuk Jenie, entah kebetulan atau tidak warna temboknya merupakan warna kesukaan Jenie.
Kamar itu juga memiliki walk in closet yang lumayan besar bahkan sepertinya bisa menampung seluruh pakaian Jenie yang ada dirumahnya, juga sudah disediakan beberapa lemari sepatu dan tas, yang lebih membingungkan lemari itu bahkan sudah terisi beberapa dress sederhana yang ukurannya sama persis dengan ukuran Jenie.
Sedang asyik melihat-melihat, tiba-tiba perut Jenie berdemo dengan beberapa kali membunyikan suara khas orang kelaparan, wanita itu baru sadar kalau sudah melewatkan makan malamnya.
Tok tok tok tok
‘’Xel, Exel, Exel.’’ Panggil Jenie
‘’Kenapa sih, ini sudah malam apa lagi yang kau inginkan?’’
‘’Aku lapar, tolong buatkan aku makan malam.’’
‘’Bikin saja sendiri kau pikir aku juru masak mu apa?’’ Exel sedikit membanting pintu kamarnya, tak sampai 2 menit pria itu kembali keluar dari kamarnya, melangkah menuju dapur dan melewati Jenie yang sedang duduk di ruang tamu.
Wanita itu sedang asyik melahap beberapa potong coklat yang ditemukannya di kulkas.
‘’Berhentilah memakan coklat itu.’’
__ADS_1
Bersambung.....