Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
End


__ADS_3

‘’Aku akan memotong kakimu jika kau berniat meninggalkanku lagi.’’ masih memeluk erat Jenie, Jenie tersenyum, membalas pelukan Exel dengan tak kalah eratnya.


‘’Untuk apa aku meninggalkanmu, sebentar lagi kita akan memiliki anak, aku akan sangat rugi jika meninggalkanmu saat ini.’’


Exel melepas pelukannya, melihat Jenie dengan tatapan tak sukanya. ‘’Jadi maksudmu kau bertahan denganku hanya karena anak kita?’’


Jenie tertawa kecil, menghapus sisa air mata diwajah Exel. ‘’tentu saja tidak, aku bertahan karena aku adalah istrimu.’’


‘’Hanya itu? Berarti kalau kau bukan istriku kau akan pergi meninggalkanku, begitu?’’


Jenie kembali tertawa kecil sambil mengangguk. ‘’Memangnya kau mau menceraikanku?’’


‘’Enak saja, jangan berharap terlalu jauh.’’


‘’Yasudah kalau begitu.’’


‘’Kok gitu aja sih.’’ protes Exel yang merasa tak puas dengan semua jawaban Jenie.


‘’Lalu kau mau apa, kau mau aku mengatakan aku bertahan karena aku mencintaimu begitu?’’ tanya Jenie yang langsung diangguki Exel.


‘’Sudah ah nggak usah dibahas lagi, lebih baik kita melanjutkan acaranya.’’


‘’Kenap lagi?’’ tanya Jenie melihat Exel yang masih berdiri diam.


‘’Apa kau benar-benar terpaksa menjalani semuanya denganku?’’ tanya Exel yang membuat Jenie tertawa. ‘’Kau itu ada-ada saja sih, aku bertahan ya karena aku mencintaimu, katanya pintar masa yang begini saja tidak tau sih.’’


‘’Aku ingin mendengarnya sekali lagi.’’ pinta Exel


‘’Apa?’’


‘’Kata-kata yang tadi kau ucapkan.’’


Jenie tertawa kecil, mendekatkan mulutnya di telinga Exel. ‘’i love you Exel Richard.’’


‘’aakkhh.’’’Jenie berteriak, kaget karena Exel mengangkat dan memutar tubuhnya di udara.


Sementara para tamu tertawa melihat kejadian itu begitupun penonton yang ada di rumah yang menyaksikan live pernikahan pasangan muda dari keluarga kaya raya itu dan karena itu juga banyak yang mengatakan Exel sebagai suami terbucin didunia.


‘’Lanjutkan acaranya, kami bosan melihat adegan romantis kalian.’’ teriak papa Bowo yang kembali membuat semuanya tertawa.


Kini Exel dan Jenie sudah berada di kamar hotel, seluruh keluarga memutuskan untuk menginap di hotel itu selama 2 hari.


‘’Exel.’’ Jenie mendekat, membalik tubuhnya menjadi membelakangi Exel, Exel yang mengerti maksud Jenie pun langsung membantu Jenie untuk membuka resleting wedding dress yang digunakan Jenie.


‘’Kau ingat, dulu kita berdebat hanya karena kau yang tidak mau membantuku untuk membuka resleting.’’ Jenie tertawa mengingat hari pertama pernikahan mereka dulu.

__ADS_1


‘’Kau tidak mengerti saja, saat itu pikiranku sudah berkelana kemana-mana.’’


‘’Dasar mesum.’’ Jenie mencubit gemas hidung mancung Exel.


‘’Jen.’’


‘’Hhmm.’’


‘’Aku kangen sama anakku, jenguk sebentar bisa nggak?’’


‘’Aku ngantuk Xel pengen tidur, besok aja ya.’’ tawar Jenie, Exel sama sekali tak protes dan mengangguk karena tau Jenie pasti benar-benar sangat lelah karena pesta pernikahan mereka.


‘’Mau aku pijitin nggak?’’ tawar Exel


‘’Memangnya kamu nggak capek?’’


Exel menggeleng, meminta kaki Jenie agar dia bisa memijitnya.


‘’Tunggu dulu, aku mau membersihkan diri dulu habis itu kamu pijit aku biar aku langsung tidur, oke.’’ Jenie berjalan ke dalam kamar mandi, tak sampai 20 menit dia sudah kembali keluar, melihat Exel yang ternyata sudah terlelap, pria itu bahkan tidur dengan menggunakan tuxedonya.


Jenie tersenyum, membantu Exel membuka pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian tidur, menyelimuti dan mencium kening Exel setelahnya ia ikut berbaring di samping Exel, tak butuh waktu lama ia sudah mengikuti Exel ke alam mimpinya.


Paginya Exel bangun tanpa Jenie di sampingnya, dengan cepat ia bangun dari tidurnya, mencari Jenie tapi tak juga menemukan keberadaan wanita itu, memutuskan untuk mencari Jenie diluar.


‘’Mau kemana Xel?’’ teriak Jenie karena melihat Exel berjalan dengan terburu-buru.


‘’Maaf, aku tadi dari kamar mama papa.’’


‘’Lain kali bangunkan aku atau setidaknya kau meninggalkan catatan kecil agar aku tidak perlu khawatir, oke.’’


‘’Oke-oke aku janji, mumpung udah diluar kita sarapan aja yuk.’’ ajak Jenie dengan menarik tangan Exel, tanpa keberatan Exel mengikutinya tanpa sadar sedang menggunakan pakaian tidurnya.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan, sekarang kandungan Jenie sudah hampir memasuki 9 bulan sudah hampir 3 bulan terakhir juga Jenie cuti dari kuliahnya.


Diruang tamu, Jenie tertawa melihat Exel yang sedang berlatih menangani situasi darurat kalau tiba-tiba Jenie akan melahirkan.


Sedang asyik berlatih, tiba-tiba mereka mendengar teriakan Jenie yang beberapa kali memanggil nama Exel.


‘’Kenapa Jen?’’ tanya Exel khawatir melihat Jenie yang meringis kesakitan.


‘’Xel sepertinya aku mau melahirkan.’’ Jenie terus meringis.


‘’Sekarang banget Jen?’’


‘’Exel.’’ Teriak Jenie dengan mata melototnya, dengan cepat karena panik dan tidak tau harus berbuat apa, Exel berteriak meminta supir untuk menyiapkan mobil dan juga berteriak untuk membangunkan kedua mertuanya.

__ADS_1


‘’Sakit Xe.’’ ringis Jenie dengan menarik kuat rambut Exel.


‘’Sakit Jen.’’ Ringis Exel juga karena merasa sangat sakit di area kepalanya.


‘’Xel sakit banget.’’ Ringis Jenie lagi, Exel tak lagi memprotes tindakan Jenie dan sibuk menenangkan wanita itu, padahal baru tadi ia berlatih untuk menangani situasi darurat saat wanita hamil tiba-tiba ingin melahirkan tapi tak ada satupun yang dipraktekannya, mungkin karena terlalu cemas makanya otaknya tak bida digunakan untuk berpikir.


‘’Exel aakhh.’’


‘’Jen, Jen, sabar Jen sebentar lagi kita sampai.’’ Exel meminta supir untuk lebih mempercepat laju mobil karena takut Jenie melahirkan didalam mobil.


‘’Exel aku nggak kuat lagi, ini sakit banget Xel.’’


‘’Pak pak tolong lebih cepat lagi.’’ suruh Exel lagi pada supirnya.


‘’Sabar Jen, mana yang sakit?’’


‘’Ya Tuhan Exel kau bodoh sekali, bisa-bisanya kau bertanya seperti itu.’’ di tengah rasa sakitnya, Jenie masih sempat mengomel karena merasa sangat jengkel dengan pertanyaan Exel.


Aakkhh.’’ tak lama Exel berteriak karena Jenie mencakar lengannya dengan sangat kuat, saking kuatnya, ia sama sekali tak bisa protes karena Jenie yang kembali berteriak meringis kesakitan.


Akhirnya setelah hampir 25 menit mereka sampai juga di rumah sakit dengan Exel yang duluan keluar dan berteriak meminta tolong, tepat di belakang mobil mereka, mobil papa Robert dan mama Catrine juga baru sampai, tadi Exel meninggalkan kedua mertuanya karena tak sanggup melihat Jenie yang terus meringis kesakitan.


‘’Kenapa kau meninggalkannya, harusnya kau membantunya keluar dulu dan membopongnya ke dalam.’’ protes papa Robert karena Exel meninggalkan Jenie di dalam mobil untuk memanggil para perawat dan dokter yang bertugas.


‘’Sudahlah, mungkin dia bingung jangan lupa dulu kau juga hampir sama dengannya.’’ ucap mama Catrine membela Exel, ia sangat mengerti, mungkin saja Exel terlalu khawatir dan bingung harus berbuat apa, makanya tak sadar meninggalkan Jenie sendiri.


‘’Terimakasih Jen.’’ Exel mencium seluruh wajah Exel begitu mendengar suara tangisan anaknya yang ternyata adalah seorang wanita, sebelumnya Jenie dan Exel memang tak pernah tau jenis kelamin calon anak mereka karena menurut mereka baik laki-laki atau wanita mereka tetap akan menerimanya dengan senang hati.


Penampilan Exel sekarang terlihat sangatlah kacau, dengan rambut tak beraturan dan lengannya dipenuhi banyak cakaran, ternyata melahirkan sesakit itu, dia berjanji untuk lebih menghargai istri dan anaknya serta mamanya yang sudah bertaruh nyawa saat melahirkannya.


‘’Bagaimana cucu kami?’’ tanya semua orang tua pada Exel sedang Jenie kini sedang tertidur.


‘’Cantik sekali cucu kita.’’ ucap mama Catrien dengan mata berbinarnya melihat sang cucu untuk pertama kalinya.


‘’Oh ya Xel namanya siapa?’’ tanya mama Sita.


‘’Callista Alesya Richard. Callista yang berarti indah, cantik, mempesona. Alesya yang berarti hadiah dari Tuhan.’’


‘’Bagus sekali namanya.’’ ucap mama Sita lagi.


‘’Kalian keluarlah dan jangan mengganggu cucuku.’’ Ucap papa Robert yang langsung mendapat pelototan dari mama Catrine, mama Sita dan papa Bowo.


‘’Maksudku biarkan dia istirahat dulu.’’ sambung papa Robert tersenyum kaku pada semuanya.


‘’memangnya apa yang kami lakukan, kami hanya melihat saja.’’ ucap mama Catrine dengan nada sewotnya.

__ADS_1


                                                                                TAMAT


__ADS_2