
‘’Jadi apa yang kau lihat kemarin?’’ tanya Exel pada petugas keamanan yang mengatakan kalau dirinya melihat Sasa kemarin, petugas itu pun menceritakan apa yang dilihatnya hanya saja ia sama sekali tak melihat wajah pria yang duduk bersama Sasa yang sekarang diyakini Exel sebagai pria yang membantu Sasa dalam menculik Jenie.
Besoknya Exel menerima kiriman paket yang berisi dokumen, ia sangat kaget melihatnya, bagaimana bisa Jenie mengajukan gugatan cerai disaat seperti ini, apa yang terjadi, tiba-tiba beberapa pikiran aneh kembali menghampirinya, berpikir Jenie mungkin benar-benar akan meninggalkannya mengingat dulu Jenie pernah mengatakan akan bercerai darinya.
‘’Apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba Jenie meminta bercerai?’’ tanya kedua dan orang tuanya dengan kompak, tadi Exel menelpon mereka semua.
‘’Aku yakin dia pasti diancam.’’ ucap papa Robert melihat surat gugatan itu, Exel hanya diam, jujur dia berpikir Jenie benar-benar ingin bercerai darinya.
‘’Kenapa kau diam saja, apa aku percaya dengan surat gugatan itu?’’ tanya mama Sita pada Exel.
‘’’Jenie mungkin benar-benar ingin berpisah dari Exel, mungkin saja dia tidak benar-benar diculik dan hanya ingin lari dari Exel.’’ jawab Exel yang kini sudah terisak.
‘’Apa kau tidak percaya pada istrimu, mama yakin dia punya alasan sendiri melakukan hal ini, mama bisa melihat kalau Jenie juga sangat mencintaimu jadi tidak mungkin dia akan menceraikanmu, aku hanya perlu percaya padanya dan jangan terkecoh dengan hal seperti ini.’’ Ucap mama Sita lagi dengan tangannya yang mengusap-ngusap punggung Exel.
‘’Iya Xel mama yakin Jenie pasti punya alasannya sendiri, seperti kata mamamu, mma juga yakin kalau Jenie sangat mencintaimu.’’ timpal mama Catrine. Dan mungkin saja ini merupakan siasat dari si penculik untuk membuat hubungan kalian renggang.’’ sambung papa Bowo membuat mereka kaget, mungkin saja apa yang dikatakan papa Bowo itu benar.
‘’Oh y pa, ma, Exel curiga kalau Sasa terlibat dalam hal ini.’’
‘’Maksud kamu?’’ ucap keempatnya kompak.
‘’Tadi dia datang katanya ingin mencari Jenie tapi kemarin ada petugas keamanan yang melihatnya datang dan duduk di lobby di waktu yang hampir bersamaan dengan insiden penculikan Jenie.
‘’Sasa? Awas saja sampai benar-benar dia yang ada dibalik penculikan Jenie, maka aku sendiri yang akan memberinya pelajaran.’’ geram mama Catrine.
‘’Sekarang Exel mau menemui Sasa, papa mau ikut nggak?’’ tanya Exel melihat papa Bowo dan papa Robert.
‘’Kenapa hanya mereka yang diajak?’’ protes mama Sita.
‘’Ini sudah malam, sebaiknya kalian pulang dan biar kami yang mengurus masalah ini.’’ Jawab papa Robert, bukannya menurut mama Catrine dan mama Sita malah melihatnya dengan tatapan melotot.
__ADS_1
‘’Ya emang malam, memangnya siapa yang bilang siang?’’ ketus mama Catrine.
‘’Kami akan ikut bersama kalian, titik dan bukan tanda tanya, itu keharusan dan bukan permohonan.’’ jawab mama Sita.
Ketiganya pun membiarkan mama Catrine dan mama Sita ikut, hampir 2 jam perjalan mereka sampai di satu bangunan yang menjadi tempat berkumpul orang-orang kepercayaan papa Bowo.
‘’Dasar wanita gila.’’ geram mama Catrine berjalan mendekati Sasa dan tanpa ba bi bu wanita paruh baya itu menarik rambut Sasa dengan sangat kuat hingga Sasa meringis kesakitan.
‘’Cepat katakan dimana putriku atau aku akan membuatnya lebih sakit dari sekarang.’’
‘’Apa yang tante akatakan? Sasa sama sekali tidak tau Jenie dimana.’’
‘’Ma.’’ papa Robert menenangkan istrinya, membawa mama Catrine sedikit menjauh dari Sasa, ia tak ingin istrinya itu lepas kendali dan akhirnya mereka tidak akan mendapat informasi tentang keberadaan Jenie.
‘’Jadi dimana kau menyembunyikan istriku?’’ tanya Exel dengan tatapan menusuknya, bukannya menjawab Sasa malah tersenyum menatap wajah Exel karena sekarang jarak Exel tak terlalu jauh darinya dan itu membuatnya sangat senang.
‘’Xel apa kau datang untuk menemuiku?’’ tanya Sasa kegirangan.
‘’Dia datang untuk menghabisi nyawamu kalau kau tidak mengatakan yang sejujurnya pada kami.’’ bukan Exel yang menjawab tapi papa Bowo.
‘’Tidak aku tak ingin mati, aku ingin bersama Exel untuk waktu yang lama.’’
‘’Kau gila ya, kau pikir putraku sudi bersama wanita sepertimu?’’ jawab mam Sita melihat Sasa dengan tatapan jijiknya.
‘’Memangnya kenapa, bukankah Jenie akan menceraikanmu?’’
‘’Darimana kau tau tentang hal ini?’’
Sasa menutup mulutnya karena sadar sudah melakukan kesalahan
__ADS_1
‘’Sudah kuduga kau pasti dalang dari penculikan itu, dasar wanita sialan tak berguna.’’ maki Exel dengan menarik keras rambut Sasa.
‘’Xel lepasin, ini sangat sakit, kenapa kau tega menyakitiku seperti ini padahal aku sangat mencintaimu, aku mencintaimu Exel sangat mencintaimu.’’ tangis Sasa yang membuat keempat paruh baya itu kaget dengan ucapan Sasa, jadi selama ini Sasa mencintai Exel? Apa wanita itu menculik Jenie karena cemburu?
‘’Xel.’’ papa Bowo dan apap Robert memanggil Exel lalu ketiganya keluar dari ruangan tempat Sasa disekap.
‘’Exel, Exel, Exel kau mau kemana? Jangan tinggal aku disini, Exel.’’ Teriak Sasa sedang mama Catrine dan mama Sita saling pandang, menyeringai lalu berjalan mendekati Sasa.
‘’Jadi selama ini kau mencintai Exel?’’ tanya mama Sita dengan nada lembutnya, Sasa sedikit heran dengan perubahan sikap yang tiba-tiba itu tapi tidak terlalu menghiraukannya.
‘’Harusnya aku mengatakan dari awal kalau kau mencintai Exel, tante pasti akan menyetujuinya kau tau kan dulu tante sangat menyukaimu lebih daripada Jenie.’’ ucap mama Sita membuat Sasa tersenyum senang.
‘’Lalu apa sekarang tante akan menyetujui hubungan Sasa dan Exel?’’ tanya Sasa kesenangan.
‘’Kau pikir aku gila, untuk apa aku menginginkan menantu yang licik sepertimu.’’ ucap mama Sita dalam hati. ‘’Tentu saja tante akan sangat setuju jika hal itu terjadi.’’ Ucap mamaa Sita berpura-pura sambil tersenyum , Sasa pun mempercayainya.
‘’Sita apa maksudmu, kenapa kau tiba-tiba jadi begini?’’ bentak mama Catrine
‘’Memangnya kenapa, apa salahnya aku merestui mereka, toh Jenie juga sudah pergi meninggalkan Exel jadi tak ada salahnya lagian aku juga sangat menyukai Sasa.’’
‘’Kau, berani-beraninya kau mengatakan hal seperti itu, aku sangat kecewa padamu.’’ geram mama Catrine lalu memilih keluar dari ruangan itu sedang Sasa tertawa kesenangan, kalau tau begini dari dulu ia akan mendekati mama Sita terlebih dulu.
‘’Tante apa tante benar-benar setuju dengan hubungan Sasa dan Exel?’’ tanya Sasa lagi, mama Sita masih tersenyum, membelai lembut belakang kepala Sasa. ‘’ingin sekali aku menarik rambutmu ini, dasar wanita licik dan tidak tau diri.’’ ucap mama Sita dalam hati.
‘’Bagaimana?’’ tanya mama Catrine saat mama Sita berjalan menghampirinya.
‘’Tentu saja berhasil.’’ lalu keduanya melakukan tos dan tersenyum, semoga cara ini bisa membuat Sasa membuka mulut.
Bersambung.....
__ADS_1