Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Mengantar Jenie


__ADS_3

‘’Ya sudah ku antar kau pulang sekarang.’’ Ucap Exel yang kembali mendapat anggukan dari Jenie.


Sesampainya di parkiran, Exel melepas jaketnya dan melingkarkan jaket itu di pinggang Jenie karena Jenie sedang menggunakan dress yang lumayan pendek.


‘’Pegangannya yang erat, kau bisa jatuh jika seperti ini.’’ Ucapnya karena Jenie hanya berpegang pada kaosnya.


Setelahnya, dengan santai Exel menarik tangan Jenie hingga melingkar sempurna di perutnya


Jenie tak mempermasalahkannya, bahkan meletakan kepalanya di pundak Exel dengan matanya yang tertutup, sudah sangat lama ia tak naik motor, terakhir kali beberapa tahun lalu dan itu juga saat sedang bersama Exel.


‘’Jangan tidur nanti kau bisa jatuh.’’ Exel mengingatkan, tak lama Jenie kembali membuka matanya.


‘’Lagian siapa yang tidur sih, aku hanya sedikit mengingat waktu terakhir kalinya naik motor bersamamu.’’


‘’Kenapa, kangen ya?’’


Jenie mencibik kesal, pria itu selalu saja membuatnya kesal, padahal tadi dia sedang berbicara serius tapi Exel selalu saja menggodanya.


‘’Tunggu apalagi, jalan sekarang aku sudah mengantuk.’’ Suruh Jenie dengan nada kesalnya sedang Exel hanya tersenyum dan mulai menjalankan motornya meninggalkan area parkiran cafe itu.


‘’Ah segarnya.’’ Jenie menghirup segarnya udara malam dengan kedua tangannya direntangkan, Exel pun mulai menurunkan kecepatan motornya menjadi sedikit lebih lambat, ingin memperpanjang waktu bersama Jenie.


‘’Apa kau lapar, mau mampir makan dulu nggak?’’ tanya Exel


Jenie menggeleng, ia memang tidak lapar sama sekali, walau sedikit ia sudah mengisi perutnya saat di cafe tadi.


Berbeda dengan Exel, pria itu melewatkan makan malamnya karena melihat Jenie yang sedang berdebat dengan seorang pria.


Tadinya Exel ingin makan di cafe tepat di depan cafe dimana Jenie berada, hanya saja saat akan memasuki cafe itu, matanya tak sengaja menangkap Jenie, karena memang cafe di depannya itu berdinding kaca hingga Exel dapat melihat Jenie dengan jelas.


Awalnya ia hanya melihat Jenie sedang duduk dan makan sendirian tapi tak lama ia memutuskan menghampiri Jenie saat melihat seorang pria menghampiri Jenie.

__ADS_1


‘’Apa kau bisa menemaniku makan malam, aku sangat lapar sekarang.’’ Ucap Exel dengan nada yang dibuat-buat.


Jenie memutar bola matanya sama sekali tak peduli, wanita itu bahkan pura-pura tak mendengarnya, akhirnya Exel pun menyerah dan memutuskan akan mencari makan malamnya setelah mengantar Jenie ke rumah.


*****


‘’’Terima kasih.’’ Ucap Jenie saat mereka tiba di depan rumah Jenie, ingin segera masuk tapi Exel sudah lebih dulu menahan tangannya, pria itu menunjuk pipi kanannya, ingin menggoda Jenie, dulu hal itu biasa terjadi, Jenie pasti akan selalu mencium pipinya saat ia mengantar Jenie pulang.


Jenie tersenyum kecil melihat tingkah Exel itu, bukannya mendapat ciuman Exel malah mendapat tamparan kecil di pipi kanannya.


‘’Kenapa, mau lagi?’’ Tanya Jenie saat Exel melotot padanya, Jenie sudah mengangkat kembali tangannya bersiap-siap melayangkannya di pipi Exel.


Dengan cepat Exel menghidupkan motornya dan pergi dari rumah itu sedang Jenie hanya menggeleng setelahnya memutuskan untuk langsung masuk ke rumah, tak berbeda dengan Jenie, Exel pun tersenyum.


*****


‘’Semalam kamu pulang diantar siapa?’’ Tanya papa, sekarang mereka sedang menikmati sarapan.


‘’Kau itu.’’ papa memencet pelan hidung Jenie sedang jenie tertawa kecil.


‘’Hari ini papa yang akan mengantarmu ke kampus, kebetulan papa ada urusan penting dan akan melewati kampusmu.’’


‘’Ah nggak ah, Jenie lebih nyaman naik mobil sendiri.’’ Kembali bercanda.


Papa pura-pura kesal dan tak mau lagi meneruskan makan, Jenie tertawa, wanita itu mendekat, memeluk papanya dan mencium pipinya dan hal itu sukses membuat papanya tersenyum, dan mengelus lembut rambut Jenie.


‘’Teruskan lagi makanmu.’’ Suruh papa, Jenie pun mengangguk dan kembali memakan sarapannya sedang mama dari tadi hanya fokus pada makanannya, sama sekali tak ikut bercanda dengan suami dan putrinya itu.


Sesampainya di kampus, Jenie kembali bertemu Exel, membuang wajahnya dan tidak melihat Exel sama sekali.


Exel sedikit heran, semalam dia mengira kalau hubungannya dan Jenie sudah sedikit membaik tapi kenapa sekarang wanita itu tak menegurnya sama sekali?

__ADS_1


‘’Apa yang kau lihat?’’ tanya Andre melihat Exel yang berdiri diam, mengikuti arah pandang Exel dan terlihat tak ada siapapun disana.


‘’Xel.’’ Menggoyang pundak Exel


‘’Kau kanapa sih?’’ tanya Andre, Exel menggeleng dan berjalan meninggalkan Andre, melirik sekilas kedalam kelas Jenie tanpa menghentikan langkahnya.


Sementara dalam kelas, Jenie sedang berbicara dengan Kevin dan Sasa, Kevin meminta maaf karena semalam tak bisa datang untuk menemui Jenie sedang Sasa tersenyum dalam hatinya, yakin semalam Jenie pasti sangat senang saat mendapat ajakan dari Kevin.


Perasaannya lebih senang lagi, menghayal betapa hancurnya perasaannya Jenie saat Kevin tidak bisa datang, semalam sehabis dari cafe, Kevin datang dan menemui Sasa di rumahnya, pria itu bahkan menginap dan menghabiskan malam panasnya bersama Sasa.


‘’Nggak pa-pa kak, nggak perlu minta maaf.’’ Jenie tersenyum, walau sebenarnya perasaannya masih sedikit kecewa tapi ia mencoba memaklumi, Kevin pasti sedang memiliki urusan yang lebih penting dibanding harus bertemu dengannya, hanya saja setiap mengingatnya ia merasa sedih karena sampai sekarang ia belum juga menjadi salah satu hal penting bagi Kevin.


Setelah kepergian Kevin. ‘’Kau benar-benar nggak pa-pa?’’ tanya Sasa dengan nada prihatin, menggenggam tangan Jenie seolah ingin menghibur Jenie.


Menggeleng dengan mata sedikit berkaca-kaca, tak ingin menangis sekarang, tapi air matanya sama sekali tak bisa diajak kompromi dan turun mengalir membasahi wajahnya bahkan tanpa seizinnya.


Sasa memeluk Jenie, menepuk pelan punggungnya dengan senyum yang sangat lebar di wajahnya, Sasa terus menghibur Jenie dengan berbagai kata yang sama sekali tak tulus diucapkannya sedang Jenie, wanita itu sangat bahagia karena memiliki Sasa di sampingnya.


Seorang sahabat yang bisa berbagi suka duka bersamanya, selalu menghiburnya dan berada di sampingnya saat ia membutuhkan seseorang untuk mencurahkan isi hatinya seperti sekarang.


‘’Terima kasih, aku senang memilikimu sebagai sahabatku.’’ Jenie kembali memeluk Sasa, Sasa pun mengangguk tapi dalam hatinya beberapa kali memaki Jenie, ia sudah sangat bosan mendengar curhatan wanita itu, lama-lama bosan juga kalau terus berpura-pura seperti ini, pikirnya.


‘’Sudahlah kau tidak perlu menangis lagi, aku akan selalu ada di sampingmu, menyemangatimu dan menjadi sahabat terbaikmu.’’ Ucapnya yang ingin muntah dengan kata-katanya sendiri.


‘’Oh iya semalam aku bersama pithecan, dia yang mengantarku pulang.’’ Ucap Jenie yang membuat Sasa reflek melepaskan pelukannya.


‘’Apa katamu, kenapa kau bisa bersama Exel, apa yang kalian lakukan, kalian bertemu dimana?’’ tanyanya dengan beberapa pertanyaan sekaligus


Jenie mengerutkan keningnya, entah kenapa ia merasa Sasa selalu tidak suka jika ia berbicara tentang Exel, apa karena Sasa tidak ingin dia kembali terluka seperti dulu? Tapi ada yang mengganjal dalam pikirannya, apa itu, dia juga tidak tau.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2