
‘’Xel kamu apa-apaan sih.’’
‘’Jangan pernah dekat-dekat dengan pria lain, aku nggak suka.’’ ucapnya dan kembali menarik tengkuk Jenie, terus mellumat bibir Jenie dengan rakus, buru-buru menarik tangan Jenie saat pintu lift terbuka di lantai unit apartemen mereka.
Kembali menyambar bibir itu saat pintu apartemennya terkunci, Exel melepaskan jaket yang menempel di tubuhnya, menggiring tubuh Jenie ke arah sofa.
‘’Xel apa yang mau kau lakukan?’’ tanya Jenie saat Exel ingin melepas pakaiannya.
‘’Aku ingin melakukannya sekarang.’’
‘’Nggak bisa Xel.’’ Jenie mendorong tubuh Exel.
‘’bukannya kau tidak mencintaiku?’’
‘’Kata siapa? Aku bahkan sangat mencintaimu sangat mencintaimu Jenie, aku hampir gila hanya karena memikirkan kau yang pergi bersama Kevin hari ini.’’
‘’Kau tau?’’ tanya Jenie
Exel mengangguk, tidak lama tangannya kembali bergerak ingin membuka pakaian Jenie.
‘’Tapi Exel kita masih kuliah kalau aku hamil bagaimana?’’
‘’Yah nggak masalah dong kamu kan punya suami.’’ ucapnya dan kembali ingin membuka pakaian Jenie
‘’Tapi Xel aku sedang banyak tugas mata kuliah.’’ Jenie ingin duduk tapi Exel tidak mengizinkannya, dengan cepat Exel mengukung tubuh Jenie, mencium leher jenjang wanita itu.
‘’Xel aku haus.’’ Dengan kesal, Exel berdiri mengambil air yang sudah tersedia di atas nakas dan memberikannya pada Jenie, setelahnya dengan cepat kembali mengukung tubuh Jenie, bibirnya hampir sampai dan bertemu dengan bibir Jenie tapi wanita itu sudah lebih dulu menutup mulutnya dengan telapak tangan.
‘’Pengen pipis Xel.’’ Exel mengusap rambutnya kasar, sedikit frustasi tapi tetap bangun dan mengizinkan Jenie ke kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi Jenie kaget melihat Exel yang menunggunya tepat di depan pintu kamar mandi, tanpa aba-aba pria itu langsung menghimpit tubuh Jenie ke dinding, membawa dua tangan Jenie untuk dilingkarkan ke lehernya sedang tangannya dilingkarkan di pinggang ramping Jenie.
Wajahnya mulai mendekati wajah Jenie, sama sekali tidak ada penolakan dari wanita itu, jenie berdiri diam memandang Exel, baru hidung yang bersentuhan sedang bibir mereka tinggal berjarak 1 cm tapi Jenie tiba-tiba memalingkan wajahnya.
‘’Aku ingin melihat bintang.’’ Mendorong Exel lalu berlalu keluar ke arah balkon kamar, Exel kembali menarik kasar rambutnya, menyusul Jenie, duduk di sofa samping Jenie, membawa wanita itu dalam pelukannya.
‘’Kau tau Xel dulu aku begitu sangat… sangat…sangat mencintaimu, tapi kenapa kau tega padaku.’’
‘’Sudah ku katakan bahwa kau salah paham, aku sama sekali tidak pernah menjadikanmu bahan taruhan.’’
__ADS_1
‘’Tapi hatiku sakit Xel’’ ucapnya sambil menangis. ‘’saat itu aku berharap banyak pada hubungan kita, aku… aku.., kau tau tidak, dulu setiap hari aku akan berdoa, bahkan meminta kedua orang tuaku juga untuk mendoakannya, aku banyak berkhayal tentang pernikahan denganmu makanya aku selalu membawanya dalam doa.’’
‘’Dan sekarang kita sudah benar-benar menikah, Tuhan menjawab doamu.’’
Jenie menggeleng ‘’aku takut, karena setelah kita berpisah aku banyak berdoa agar Tuhan menjauhkanmu dari hidupku.’’
‘’Kau tenang saja, Tuhan tidak akan mengabulkan doa yang tidak baik seperti itu, tapi aku ingin bertanya, apa kau masih mencintaiku sekarang?’’
Jenie menggeleng. ‘’Tidak aku tidak mencintaimu, bukankah aku sudah berjanji untuk tidak mencintaimu selama tahun pertama pernikahan kita?’’
Exel hanya terdiam ‘’tapi aku akan mencintaimu sepuasku setelah melewati satu tahun pertama.’’ sambung jenie membuat Exel tersenyum.
‘’Dan saat itu kau harus siap menjadi budakku seumur hidupmu.’’ sambung Jenie lagi, Exel mengangguk dengan semangat.
Tidak lama Exel mulai mendekatkan wajahnya lagi, bibir mereka kembali tidak bertemu karena Jenie yang sudah mendorong wajah Exel.
‘’Aku lapar, tolong buatkan aku makan, kau tau aku melewatkan makan malam karena harus mengejarmu tadi.’’
‘’Lagian siapa suru kau membuatku kesal.’’
‘’Oh jadi tadi kau sedang kesal?’’ Tanya Jenie pura-pura tak tau.
‘’Cuman sayang aja?’’
Exel tersenyum ‘’iya kan cintanya tunggu setahun lagi.’’ Ucapnya lalu keduanya tertawa.
*****
‘’Bagaimana, enak tidak?’’
Jenie mengangguk. ‘’aku suka semua yang kau masak, rasanya sangat enak dan kau.’’ Tunjuknya pada Exel.
‘’kau hanya bisa memasak untukku, oke.’’ Memberikan satu jempolnya yang dibalas anggukan kepala dari Exel.
*****
‘’Pagi ini ke kampusnya bareng aku aja ya?’’
Jenie menggeleng. ‘’kalau ada yang lihat bagaimana?’’
__ADS_1
‘’Kau masih mau menyembunyikan pernikahan kita?’’
Jenie mengangguk. ‘’Yaudah aku duluan ya, oh iya ongkos taxi nya mana?’’ membuka dua tangannya pada Exel, Exel mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan memberikannya pada Jenie.
‘’Makasih ya.’’ Dengan cepat mencium pipi kanan Exel dan berlari keluar dari unit apartemen.
*****
‘’Mau ke kampus, ayo bareng aja.’’ pak Reza menawarkan tapi Jenie menolak, bisa lebih besar lagi gosipnya kalau ada yang melihatnya datang bersama pak Reza.
‘’Nggak usah pak, terimakasih, Aku naik taxi aja.’’ Ucapnya sopan dan berjalan menghentikan taxi dan buru-buru naik.
Jenie memperhatikan mobil pak Reza yang mengikuti tepat dibelakang taxinya, kalau begini sama saja bohong pasti mereka akan tetap bergosip tentangnya dan pak Reza.
Akhirnya Jenie meminta taxi untuk berhenti disalah satu minimarket dengan alasan ingin membeli sesuatu, dan dia kembali masuk ke taxi setelah tidak melihat mobil pak REza lagi.
*****
‘’Lipstik kamu bagus banget, beli dimana?’’ Tanya salah satu teman sekelas Sasa dan Jenie.
‘’Aku membelinya di mall XX.’’
‘’Tapi kalau aku perhatikan lipstiknya sama dengan punya Jenie.’’
Sasa tersenyum ‘’iya Jenie memang sangat suka menggunakan barang yang sama denganku dan aku nggak keberatan karena kami bersahabat, bukankah terlihat sweet jika kami memiliki banyak barang yang sama.’’ Berlagak seolah-olah Jenielah yang selalu mengikutinya padahal dia tahu dengan jelas kalau dialah yang selalu mengikuti apa yang digunakan Jenie, bahkan kadang jenie sendiri yang sering membelikannya karena tau Sasa pasti akan menginginkan apa yang dipakai olehnya.
‘’Memangnya kau tidak risih?’’
Sasa menggeleng. ‘’Sedikit sih tapi mau bagaimana lagi dia kan sahabatku.’’ tanpa sepengetahuan mereka Jenie mendengar obrolan itu.
Tidak mempermasalahkannya, Jenie tersenyum, berjalan dan menghampiri Sasa, melihat kedatangan Jenie tentu saja wanita-wanita yang tadi sedang mengobrol dengan Sasa pergi begitu saja, mereka sangat tidak ingin berdekatan dengan Jenie karena imagenya yang sudah buruk.
Sementara di kelas lain Exel sedang asyik mengobrol bersama Andre. ‘’Hai Xel bisa gabung nggak?’’ Tanya Mona, yang langsung duduk disamping Exel.
‘’Sepertinya aku nggak mengizinkan kamu duduk deh, bisa pergi nggak?’’
‘’Xel aku hanya ingin dekat denganmu, apa salahnya?’’
‘’Salahnya adalah aku yang tidak ingin dekat dengan wanita sepertimu jadi mending pergi dari sini sebelum aku menyeretmu dengan paksa.’’ Ucapnya dengan sorot mata yang begitu menakutkan hingga Mona tak berani lagi mengeluarkan suaranya dan memilih pergi.
__ADS_1
Bersambung.....