
‘’Ck, anak sama papanya sama saja, selalu narsis.’’
‘’Kok jadi bawa-bawa aku sih, aku diam loh nggak mengatakan apa-apa.’’ protes papa
‘’Ih nggak usah berdebat deh, malu ada Alsha.’’ Ucap Jenie yang kembali melanjutkan makan malamnya.
‘’Sha nih cobain.’’ Jenie memberikan satu sendok penuh udang pedas gurih, menu masakan mamanya yang menurutnya sangat enak bahkan berkali-kali lipat lebih enak dari buatan restoran.
‘’Rasanya gimana?’’ tanya Jenie
‘’Enak banget, ini siapa yang masak?’’
‘’Tuh.’’ Jenie menunjuk mamanya menggunakan dagu sambil tersenyum lalu kembali meneruskan makannya.
‘’Enak bengat tan.’’ puji Alisha.
‘’Makan yang banyak kalau begitu, nanti kalau mau lagi kamu bilang aja sama Jenie atau langsung telepon tante.’’ Ucap mama Catrine membelai lembut belakang kepala Alisha, tiba-tiba wanita itu terdiam, merasa rindu pada almarhum mamanya, dulu mamanya juga sering membelai belakang kepalanya.
‘’Sha kenapa?’’ tanya Jenie yang melihat raut wajah sedih Alisha seperti sedang maahan tangis.
‘’Nggak pa-pa kok Jen, aku hanya rindu pada almarhum mamaku.’’
‘’Mulai sekarang kau bisa menganggap kedua orang tuaku sebagai orang tuamu, karena kau temanku maka aku akan berbagi kasih sayang denganmu.’’
’’Loh kok malah menangis?’’ tanya mama dan jenie secara bersamaan.
Alsha menggeleng ‘’terimakasih karena sudah memperlakukanku dengan baik dan terimakasih juga karena sudah mau berteman denganku.’’ ucapnya yang merasa sangat bersyukur atas apa yang tadi dikatakan Jenie.
Mama dan papa tersenyum, mereka dapat melihat kalau Alsha adalah seorang wanita yang baik dan tulus dan semoga saja pertemanan Jenie dan Alisha akan awet.
__ADS_1
‘’Sha Jen makannya diterusin nanti keburu dingin makanannya.’’ ucap mama Catrine.
‘’Kau benar-benar akan pulang? Tidak mau menginap saja?’’ tanya Jenie yang kini mengantar Alsha kedepan untuk menunggu gojek, tadinya Jenie ingin menyuruh supir untuk mengantarkan Alsha tapi wanita itu menolak dan katanya sudah memesan gojek.
‘’Nanti kapan-kapan saja.’’
‘’Janji ya, awas loh kalo ingkar.’’ tak menjawab Alsha malah memperhatikan mobil yang tak jauh dari mereka, mobil itu terlihat tak asing.
‘’Jen itu mobil Exel bukan sih?’’ tunjuk Alisha pada mobil sport berwarna biru yang terparkir tak terlalu jauh dari rumah Jenie.
Jenie menggeleng, menurutnya itu bukan Exel, lagian kalau mau datang Exel pasti langsung masuk kerumah.
‘’Kamu hafal plat nomor mobil Exel nggak?’’
Jenie menggeleng, ia memang sama sekali tak pernah memperhatikannya jadi sama sekali tak tau tentang itu.
Setelah Alisha pergi, Jenie tak langsung masuk dan masih memperhatikan mobil itu, bukan karena merasa itu mobil Exel tapi karena pria itu parkir sembarang.
‘’Dasar orang aneh.’’ geram Jenie masih dengan matanya yang melihat mobil Exel yang sudah lumayan jauh darinya.
‘’Kamu kenapa tidak pernah datang dan melihat keadaanku, apa kau benar-benar ingin berpisah dariku?’’ tanya Jenie mengelus foto Exel, ia sama sekali tak bisa tidur sebelum melihat foto Exel, mungkin bawaan bayi yang sedang dikandungnya.
Di tempat lain, Exel juga melakukan hal yang sama, mengelus foto Jenie ‘’aku merindukanmu tapi aku juga belum siap untuk dekat denganmu lagi, kupikir kalau berada didekatmu aku pasti akan selalu mengingat kejadian itu dan hal itu hanya akan membuatku emosi dan aku takut sikapku itu malah akan lebih menyakitimu.’’
Paginya Exel bangun karena merasakan mual yang hebat, dengan cepat ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. ‘’Apa yang terjadi padaku, kenapa tiba-tiba aku mual seperti ini?’’ dicermin Exel melihat pantulan wajahnya yang pucat dan dipenuhi keringat, tak lama ia kembali ingin muntah lagi.
‘’Exel kenapa wajahmu pucat sekali?’’ tanya mama Sita dengan nada paniknya saat melihat Exel berjalan menghampiri mereka dengan wajahnya yang terlihat sangat pucat.
‘’Éntahlah ma, daritadi Exel mual dan muntah.’’
__ADS_1
‘’Apa kau sakit?’’ tanya mama dengan punggung tangannya yang sudah berada di kening Exel. ‘’nggak panas, apa ada hal lain lagi yang kamu rasakan?’’
Exel menggeleng
‘’Yasudah kalau begitu kamu istirahat lagi, mama akan menelpon dokter Sony terlebih dulu.’’
Tak sampai 47 menit, dokter Sony sudah berada dirumah keluarga Exel dengan papa Bowo yang juga sudah pulang dari kantor saat mama Sita menelponnya tadi.
‘’Bagaimana dok.’’ tanya kedua paruh baya itu kompak setelah dokter Sony selesai memeriksa kondisi Exel.
‘’Apa bu Jenie sedang mengandung?’’ tanya dokter Sony langsung pada intinya.
Mama Sita dan papa Bowo mengangguk kompak ‘’ada apa dok?’’ tanya papa Bowo lagi.
Sepertinya pak Exel mengalami sindrom kehamilan simpatik atau biasa juga disebut sindrome Couvade dimana suami akan mengalami gejala kehamilan yang biasanya dialami oleh wanita hamil, misalnya seperti mual dan muntah yang dirasakan pak Exel saat ini.’’
‘’Itu berarti anak yang dikandung menantu saya adalah anak Exel dok?’’ Tanya mama Sita yang membuat dokter Sony sedikit bingung. ‘’Tentu saja bu Sita, buktinya pak Exel yang merasakan gejala kehamilannya.’’
Mendengar itu dengan cepat Exel melompat dari ranjangnya dan berlari keluar, dalam pikirannya sekarang adalah, dia harus bertemu Jenie secepatnya dan meminta maaf atas apa yang sudah dilakukannya, minta maaf karena sudah tak percaya pada istrinya itu, mengatakan tidak menginginkan anak mereka dan lain sebagainya.
‘’Bik Jenie mana?’’ tanya Exel pada salah ART di rumah Jenie.
‘’Non Jenie ke rumah sakit den, sejam yang lalu jatuh di kamar mandi___’’ belum sempat melanjutkan ucapannya Exel sudah lebih dulu berlari keluar rumah. ‘’Maksud saya bapak yang jatuh di kamar mandi, nih mulut kenapa salah ngomong mulu sih.’’ Ucap ART itu dan memukul kecil mulutnya.
Exel hampir jatuh, tiba-tiba kakinya terasa lemas, berharap semoga istri dan anaknya baik-baik saja.
‘’Sus pasien atas nama Jenie Dawson di kamar nomor berapa?’’ tanyanya dengan nafas yang ngos-ngosan, setelah mendapat nomor kamar jenie dia kembali berlari bahkan beberapa kali menabrak orang lain saking paniknya.
‘’Jen kamu nggak pa-pa.’’ tanya Exel dengan nada paniknya menghampiri ranjang pasien, menangis dan beberapa kali meminta maaf pada Jenie berharap wanita itu akan memaafkannya.
__ADS_1
‘’Jen aku minta maaf, aku sudah meragukan anak kita, aku tidak mempercayaimu, aku menjauhimu beberapa kali juga aku mengeluarkan ucapan yang menyakitimu, kumohon maafkan aku dan jangan menghukumku dengan cara seperti ini, sungguh aku sama sekali tidak bisa bernafas tanpamu, aku menyayangimu, aku mencintaimu tolong bangunlah.’’’ucapnya dengan tangis yang lumayan keras.
Bersambung.....