Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus

Pernikahan Tersembunyi Sepasang Idola Kampus
Awal kebencian


__ADS_3

‘’Apa maksudmu, apa yang kulakukan padamu?’’ Jenie kembali menahan pergelangan tangan Sasa saat wanita itu melangkah pergi.


Sasa tak menjawab wanita itu menghempas kasar tangan Jenie dan benar-benar pergi, sedang Jenie diam di tempatnya dengan pikirannya yang sudah melayang, memangnya apa yang dilakukannya? Seingatnya tak pernah sekalipun ia memperlakukan Sasa dengan buruk.


Di dunia ini bahkan dibanding Exel, Jenie lebih menyayangi Sasa, karena menurutnya pria bisa dicari tapi sahabat tak akan bisa tergantikan.


‘’Ada apa ini?’’ suara Exel mengalihkan segerombolan mahasiswa yang sedang mengelilingi Jenie, ternyata pertengkaran Jenie dan Sasa tak luput dari perhatian mahasiswa di kampus itu, mereka bahkan berkumpul dan menyaksikan pertengkaran itu secara langsung.


‘’Apa yang kalian lihat, bubar sekarang?’’ perintah Exel, para mahasiswa pun langsung bubar, tak kemana-mana mereka hanya memindahkan posisi mereka sedikit menjauh dari tempat itu tapi dengan pandangan yang masih setia melihat ke arah Jenie apalagi sekarang Exel berdiri tepat di depan wanita itu.


‘’Apa yang terjadi?’’ tanya Exel, tangannya ingin menghapus sisa air mata di wajah Jenie tapi wanita itu menepisnya, bukan tak ingin mendapat hiburan atau perhatian dari suaminya tapi ia sadar kalau mereka sedang berada di lingkungan kampus, makanya ia memilih pergi dan meninggalkan Exel yang kini berdiri diam sambil menatap punggungnya yang kian menjauh.


Sementara di mobilnya, Sasa menangis sejadi-jadinya, kejadian beberapa tahun lalu kembali datang dan menari-nari di otak kecilnya.


Flashback


6 tahun lalu


Saat itu Jenie sedang berada di seoul korea, Jenie yang tau kalau Sasa begitu mengidolakan snsd sengaja datang ke konser mereka untuk meminta tandatangan, ternyata saat di konser ia sama sekali tak mendapat tanda tangan bahkan dari satu anggota snsd sekalipun, akhirnya selama hampir satu minggu ia berusaha, mengikuti semua jadwal grup itu, bahkan terkadang ia terkesan sebagai penguntit tapi tak masalah untuknya, ia harus mendapatkan tanda tangan setidaknya dari salah satu anggota grup itu untuk diberikannya saat ulang tahun Sasa, tak disangka saat itu semua anggota memberikan tanda tangan mereka.


‘’Untuk siapa?’’ tanya seorang personel grup itu yang tak terlalu dikenal Jenie, karena memang ia tak terlalu mengikuti mereka jadi sama sekali tak terlalu tau.

__ADS_1


‘’Sabrina Larasati.’’ Ucapnya tersenyum senang, semua member pun memberikan tanda tangan mereka dengan beberapa pesan untuk Sasa yang dituliskan tepat di samping tanda tangan mereka, tak lupa Jenie juga meminta tolong mereka untuk merekam satu video yang memberikan selamat ulang tahun pada Sasa, awalnya ia sedikit sungkan karena takut mereka akan menolak tapi ternyata semuanya sangat ramah dan mengiyakan.


‘’Ye.’’ Teriak Jenie saking senangnya saat keluar dari ruangan dimana grup itu berada, tak pernah terbayang olehnya, ternyata meminta tanda tangan artis akan sesusah itu.


Karena sudah mendapatkan tanda tangan, Jenie memutuskan pulang ke tanah air hari itu juga.


Dua hari sebelum ulang tahun Sasa, Jenie sedang berbincang bersama beberapa teman sekelasnya.


‘’Ku perhatikan kau sangat dekat dengan wanita miskin itu.’’ ucap satu orang pada Jenie.


‘’Hhmm.’’


‘’Maksudku si Sasa, kenapa kau sangat dekat dengannya, dia kan miskin, udik, nggak pantas berteman denganmu dia hanya akan jadi parasit dalam hidupmu.’’


‘’Tapi aku senang memiliki sahabat sepertinya, kalau masalah miskin itu bukan salahnya karena kalau bisa memilih di dunia ini pasti tak ada orang yang ingin dilahirkan dengan keadaan ekonomi di bawa rata-rata seperti itu tapi kalian tau bahkan dengan keadaannya yang seperti itu dia masih lebih baik dari kita, dia tidak pernah mengeluh, tidak manja, mandiri, dan aku sangat kagum pada sikapnya itu, jadi lain kali jagalah mulut kalian sebelum berbicara, dia adalah sahabatku, jangan pernah menjelekannya di depanku atau dibelakangku, kalian mengerti?’’ Ucap Jenie dengan menekan kata-kata terakhirnya karena tak suka dengan mereka yang menjelekan Sasa, memangnya apa yang salah dari sahabatnya itu, ia adalah wanita yang hebat, Jenie sangat bangga dan senang bisa memiliki sahabat sehebat Sasa, hanya saja ia tak pernah tau kalau Sasa sudah salah paham terhadapnya.


Hari H ulang tahun Sasa, Jenie datang dengan membawa kado yang sudah disiapkannya, ia tersenyum bahagia saat memberikan kado itu karena yakin Sasa pati akan sangat senang.


‘’Dasar wanita munafik.’’ Geram Sasa melihat Jenie yang terus tersenyum padanya, sejak saat itu ia berniat untuk membalas semua perlakuan Jenie.


ditambah beberapa minggu kemudian pamannya datang dan mengatakan sesuatu tentang kematian papanya yang kembali membuat Sasa geram, dia yang dulu selalu menganggap kedua orang tua Jenie seperti orang tuanya sendiri membalik membenci kedua paruh baya itu, ia tak pernah lagi mau berkunjung ke rumah Jenie.

__ADS_1


Dan sampai sekarang, detik ini, kado yang diberikan Jenie tak pernah dibukanya dan hanya diletakkannya di gudang tempat ia meletakan barang bekas.


Flashback end


‘’Jenie aku akan menghancurkanmu.’’ Teriak Sasa dengan tangannya yang memukul setir mobil beberapa kali


Sedang Jenie sekarang sedang duduk diam di bangku taman, masih dengan pemikiran yang sama, yaitu tentang Sasa.


Dari jarak sedikit jauh Exel dan satu pria penguntit Jenie sedang memperhatikannya, Exel ingin menghampiri, baru beberapa langkah ia kembali menghentikan langkahnya saat seorang wanita datang menghampiri Jenie, duduk di sampingnya dan memberikan satu botol minuman pada Jenie, Exel terus memperhatikan wanita itu, takut kalau dia memiliki niat jahat pada Jenie.


‘’Kau baik-baik saja?’’ Tanya Alisha menghampiri, memberikan satu botol minuman pada Jenie.


‘’Minumlah, kau pasti haus kan, kulihat kau tadi banyak menangis, mungkin sekarang tubuhmu hampir kekurangan air.’’ Ucapnya bercanda, tadi tak sengaja ia melihat pertengkaran Sasa dan Jenie, karena merasa kasihan makanya ia memutuskan untuk mengikuti Jenie dan menghiburnya.


‘’Kau melihatnya ya?’’


Alisha mengangguk kecil ‘’siapa yang tidak akan melihatnya kalau kalian bertengkar se heboh itu, lagian kenapa kalian bertengkar di tempat terbuka seperti itu apalagi tadi aku juga melihatmu menangis, memangnya kau tidak malu dilihat oleh orang-orang?’’ Ucap Alisha dengan gaya santainya, bukannya tersinggung Jenie malah tersenyum.


‘’Kenapa kau tersenyum?’’


Jenie menggeleng ‘’aku merasa kau sedang menghiburku dengan kata-kata itu.’’ balas Jenie yang kini sudah membuka minuman yang tadi diberikan Alisha.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2